in

Pantauan FKDM, Konsentrasi Aliran Garis Keras dari Bima Pindah ke Dompu

Ilustrasi

kicknews.today – Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) menemukan adanya pergeseran lokasi pertemuan aliran garis keras yang sebelumnya terkonsentrasi di Kota Bima, kini pindah ke Dompu di salah satu wilayah dekat perbukitan.

Hal ini dikatakan oleh Ketua FKDM NTB, Dr M Natsir dari hasil pantauan dilapangan saat menggelar road show mengenai ujaran kebencian dan hoax, ke 10 Kabupaten/Kota di NTB.

Dia mengaku secara pantauan mata, NTB masih ada bibit radikalisme yang berorientasi pada Kelompok-kelompok tertentu. Tapi, pengaruhnya ke masyarakat tidak terlalu besar karena masyarakat sudah mampu memilah sehingga keanggotaannya semakin berkurang.

“Dulu tempat pertemuan mereka terpisah, Bima terpisah, begitu juga dengan Dompu. Tapi, saat ini, bergeser ke Dompu. Namun, generasi kita semakin paham, mana radikalisme intoleransi dan pencerahan, itu tugas tokoh untuk terus melakukan pencerahan dini,” ungkapnya, usai pertemuan dengan Forkompinda NTB, Selasa (15/5).

Natsir menceritakan, saat kegiatan di Dompu, ada ditemukan dua orang tokoh aliran garis keras yang tidak mau berdiri saat menyanyikan lagu wajib Indonesia Raya. Setelah itu, dirinya langsung melakukan pendekatan kemudian bertanya. Adapun jawaban tokoh tersebut, bahwa lagu Indonesia Raya tidak penting dan tidak wajib. Dua orang itu juga mengatakan, ketika tidak berdiri, belum tentu tidak bela negara.

“Lebih hebatnya lagi, kedua tokoh itu mengakui aliran radikal tapi, bukan radikal membunuh orang. Radikal yang dimaksud, terkait ajaran agama, dalam lingkungan dia sendiri. bukan yang merusak negara. Karena masih mau mendengar ceramah, masukan pendapat orang lain, “tuturnya dia.

Disinggung kedua tokoh itu jaringan kelompok mana, Natsir mengaku belum mendalami lebih jauh, namun FKDM bersama pihak terkait akan terus memupuk supaya mau menerima saran dari orang lain, tidak hanya keras dengan ajaran mereka saja.

“Alhamdulillah aliran garis keras sudah menurun bahkan NTB sudah garis hijau, bukan merah lagi. Contoh, ketemu tokoh Ahmadiyah, sudah mau terima masukan, kemudian mau hadir di acara-acara yang digelar oleh masyarakat lainnya, ” ujar dia. (prm)