Debat dan Penantian Pemimpin Baru NTB

Oleh: Darwan Samurdja*

kicknews.today – KEPEMIMPINAN yang baik tidak dinilai dari keberanian bertindak. Kepemimpinan yang baik terjadi ketika sebuah tindakan merupakan bagian dari hidup yang utuh dalam mengaktualisasikan diri.

Good leadership consists of doing less and being more. Inilah yang digoreskan oleh Goenawan Muhammad tentang pemimpin.

Dalam memimpin, pintar saja memang tak cukup, benar juga tak memadai. Wartawan, penulis kawakan itu, mengutip David Halberstam, tentang orang-orang pintar di sekitar Presiden Jhon F Kennedy. Ulah mereka yang menjerumuskan Amerika berperang, berujung pada kekalahan.

Itu terbukti saat Amerika terlibat jauh ke perang Vietnam. Pada akhirnya dunia tahu perang di sana begitu menyesakkan dan menelan Korban sangat banyak. Rupanya orang-orang pintar di sekeliling Kennedy tak cukup merasakan terik, lelah, mendengar suara rakyat, dipilih oleh rakyat.

Mereka tidak menampung. Mereka bertindak ini bertindak itu. Tapi tak tahu, adakah sumbernya jauh di pedalaman atau hanya air cipratan dari bapak pimpinan.

Ada yang terlupakan. Kurang turun lapangan seperti para politisi yang rajin mendekati rakyat, walau profesi sebagai politisi sering dianggap remeh dan buruk.

Tapi begitulah, hari-hari ini kita justru melihat di tahun pesta demokrasi semua ingin tampil, baik politisi maupun praktisi yang lain.  Padahal, dulu sangat alergi dengan politik. Kini tiba-tiba terbius, sambil mengaku dia perlu terlibat untuk kemaslahatan orang banyak.

Dari profesi yang dianggap remeh dan buruk itu, dapat disaksikan rakyat terus didekati. Menggambarkan politik adalah sebuah seni memainkan kemungkinan. Soal baik, buruk, benar dan salah akan terpancar dari proses dan tujuan.

Oleh karena itu, jangan heran jika saat-saat sebegini banyak tuntutan, banyak harapan meski kemudian orang kembali kepada persepsi buruk politik. Sebabnya, mungkin saja melalui politik kita saksikan terbentang selama ini pernyataan-pernyataan tidak cocok 100% dengan fakta, tapi seperti halnya puisi harus bisa mempesona.

Menjemput hari pencoblosan tanggal 27 Juni 2018 mendatang, bentangan pernyataan dari para pasangan calon pemimpin, rupa-rupa macam. Tampil dengan visi-misi yang tidak jauh berbeda, tetapi untuk menarik simpati rakyat, tergambar semua ingin tampil mempesona.

Ada pesona puisi “Kanggok’m Tadahan”, ada pesona puisi “Hitam-Putih”, ada pesona puisi “Lanjutkan Ikhtiar TGB”, dan ada pesona puisi “Maju Bersama Rakyat”.

Ke-Empat pasangan calon pemimpin begitu menggelorakan. Yang satu ingin NTB sejahtera, yang lain ingin NTB untuk Semua, yang lain lagi ingin NTB Gemilang dan yang satunya lagi ingin Membangun NTB Bersama Rakyat. Asyik dan menggugah.

Di sekeliling keempat pasangan tentu ada “Tim Pemikir”. Orang-orang partai politik, konsultan politik, akademisi dan macam-macam praktisi. Semua ikut terlibat memoles pasangan masing-masing.

Debat publik pertama tgl 12 Mei 2018 nanti, kita akan menyaksikan para kandidat saling adu ide dan gagasan sesuai dengan visi dan misi, serta program tindak lanjut mereka.

Publik tentu sangat menanti momen ini. Sebagai publik, semoga ajang debat nanti TVOne selaku media yang dipercayakan KPUD Provinsi NTB, untuk memandu acara bisa pada posisi yang fair dan proporsional dalam melemparkan kuis-kuisnya, untuk mempertajam visi-misi para kandidat, sehingga publik puas dan tercerahkan dari debat tersebut.

Setiap paslon ingin tampil menang dan memukau di depan semua penonton di segenap penjuru NTB. Karena sejatinya debat adalah diskusi untuk saling mempertajam visi dan misi sebagai “jualan politik” para kandidat.

Empat pasangan punya pendukung. Tiap-tiap kelompok bereaksi setelah melihat nanti, mendengar pernyataan-pernyataan figur mereka di podium penyelenggara.

Seorang pemimpin yang baik, kata Tao, ibarat sebuah danau. Dia tak lasak seperti sungai di gunung, tapi dalam. Dia tak berada di pucuk yang tinggi, tapi menampung. Dia tahu bahwa sumbernya adalah air yang datang dari jauh di pedalaman. Sebuah telaga tak bermula dari air yang tergenang setelah kebetulan hujan.

Sebagai pasangan yang diusung oleh rakyat, Ali-Sakti dalam debat nanti sesungguhnya punya panggung yang cukup potensial untuk meyakinkan rakyat, terhadap keuntungan jika calon Independen meraih kemenangan, dan menjalankan visi dan misinya tanpa intervensi dari pihak manapun terutama partai politik dan tentunya dengan menguasai persoalan NTB saat ini.

Kondisi kemiskinan, pengangguran, pendidikan, kesehatan, pariwisata, lingkungan, dan budaya lokal serta pembangunan infrastruktur dan investasi (PDRB NTB, 2017/2018).

Sementara, tiga pasangan kandidat yang jalur parpol hanya bisa mempertajam visi dan misinya tanpa ada keunikan tertentu.

Tiga kandidat Cagub NTB (Ali BD, Suhaili, dan Ahyar Abduh) saat memimpin sebagai kepala daerah, berperang melawan kemiskinan adalah tugas mereka.

Hanya satu calon yang belum pernah berperang yakni Zulkiflimansyah. Tapi punya pengalaman menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari dapil Provinsi Banten.

Alhasil, jika kemudian pada debat publik nanti, publik berharap bisa tercerahkan dan tercerdaskan oleh para kandidat. Sehingga bisa menjadi pertimbangan untuk memilih nanti pada tanggal 27 Juni 2018 yang tinggal satu bulan lebih.

Satu hal yang pasti, demokrasi kita sedang diuji. Demokrasi itu mahal. Demokrasi menyentuh aspek partisipasi politik, kebebasan sipil, proses pemilu dan pluralisme, sistim pemerintahan, dan kultur politik.

Mari kita nantikan pernyataan-pernyataan menarik mereka di layar kaca TV One 12 Mei nanti, yang akan disaksikan oleh seluruh rakyat Indonesia, Karena NTB adalah termasuk PILKADA yang paling menarik untuk diikuti kisahnya. Selain adanya calon independen, semua petarung termasuk new cumbent.

Selamat menyaksikan…!!!

*) Penulis adalah Direktur Prediksi Survei dan Statistik Indonesia (PRESISI)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat