Dewan Tagih Hasil Perjalanan Bupati Lombok Utara ke Luar Negeri

kicknews.today – Dalam dua tahun terakhir masa pemerintahan Bupati Lombok Utara H. Najmul Akhyar dan Wakil Bupati Sarifudin, SH., tercatat kurang lebih telah lima kali Bupati Najmul melakukan perjalanan dinas ke luar negeri. Namun anehnya, hasil serta manfaatnya nyaris belum diketahui oleh masyarakat, pun oleh pihak DPRD Lombok Utara.

Ketua Komisi I DPRD Lombok Utara Ardianto mengungkapkan, jika implikasi perjalanan dinas ke luar negeri belum dirasakan dan tidak berdampak positif bagi daerah. Pihaknya justru membandingkan dengan massa pemerintahan sebelumnya.

Saat itu, menurut Ardianto, dua tahun masa pemerintahan kepala daerah sebelumnya tidak sampai pergi ke luar jika tidak ada persoalan urgent.

“Perjalanan kepala daerah ke luar negeri jika kita bandingkan dengan masa pemerintahan sebelumnya jauh berbeda. Pemerintah sebelumnya mungkin tidak sampai lima kali dalam lima tahun, tetapi sekarang cukup sering,” ungkap Ketua Komisi I DPRD Lombok Utara Ardianto, Selasa (8/5).

Politisi Hanura ini mencontohkan, dalam perjalanan ke Jepang perihal menjemput hibah ambulance dan mobil pemadam kebakaran (damkar), sejauh ini tak terdengar lagi. Belum lagi ke New Zealand untuk melihat konsep pertanian holtikultura, sampai sekarang belum dapat diimplementasikan para petani lokal untuk memenuhi kebutuhan tiga gili.

“Kita sayangkan, selaku masyarakat, kami belum mengetahui hasilnya. Misalnya kaitan dengan ambulance ke Jepang, katanya mobilnya masih di jalan. Terus ke New Zealand bidang holtikultura, komoditi yang dikerjasamakan seperti apa? Kebutuhan di tiga gili saja masih belum bisa dipenuhi,” ujarnya.

Selain itu, kunjungan Bupati Najmul ke Provinsi Haikou China terkait kerjasama ekspor kelapa, sampai saat ini belum kelihatan hasilnya.

Alih-alih ada titik terang, Ardianto menilai, harga kelapa di Lombok Utara justru menurun. Pihaknya beranggapan jangan sampai biaya yang dikeluarkan lebih besar ketimbang dampak yang didapat.

“Ya baguslah mau ke Baghdad, mau ke Iran. Tapi kita mau hasil riilnya, supaya jangan launching-launching dan MoU, melulu itu-itu saja. Harus ada riil yang bisa dinikmati masyarakat,” tegasnya.

Sementara itu, Anggota Komisi I DPRD Lombok Utara Zarkasi senada dengan kompatriotnya. Menurutnya, idealnya hasil kunjungan ke luar negeri bisa diterapkan paling tidak 20 persen dari pengalaman yang telah dirasakan di lokasi studi banding.

“Selama ini belum ada hasilnya. Kita sangat apresiasi, tapi ketika mereka pulang coba aplikasikan apa yang sudah dirasakan paling tidak 20 persen saja,” ucapnya.

Pria yang akrab disapa Achie ini juga menyinggung mengenai keberangkatan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Lombok Utara dan Asisten II Setda Lombok Utara yang hari ini berangkat ke Australia.

Pihaknya belum mengetahui substansi terkait kunjungan ke sana. Pun demikian menilai tak perlu terlalu jauh jika untuk mencari referensi mengenai pariwisata.

“Bagaimana mau ikuti luar negeri, ikuti dalam negeri saja masih belum bisa. Jangan salah, Singapura, Brunei, itu ambil dari Bali kok untuk penataan pariwisatra. Kenapa jauh-jauh ke Australia cari referensi,” pungkasnya. (iko)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat