in

“Merariq Kodeq” Ialah Bencana “Tsunami Sosial”

Paox Iben saat memberi materi mengenai pencegahan "Merariq Kodeq"

kikcknews.today – Perkawinan anak atau menikah di usia anak-anak menjadi fokus permasalahan yang dibahas dalam sebuah Workshop yang digelar Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) NTB dengan Kelompok Perlindungan Anak Desa (KPAD) sejak Rabu (25/4) hingga Sabtu (28/4) di Fave Hotel, Mataram.

Fenomena menikah di usia anak-anak atau yang dalam Bahasa Sasak Lombok disebut “Merariq Kodeq” ditelisik menjadi sumber permasalahan sosial seperti persoalan kesehatan reproduksi, putus sekolah, resiko kematian ibu melahirkan yang tinggi, anak yang dilahirkan kurang gizi dan mengalami problem mental serta banyak lagi persoalan-persoalan yang lain.

Hal ini kemudian akan bergulir menjadi pemicu permasalahan sosial lainnya yang lebih besar seperti kemiskinan, pendidikan, ekonomi dan lain sebagainya.

Salah satu pemateri dalam acara tersebut yaitu Paox Iben Mudhaffar yang juga dikenal sebagai pemerhati sosial dan budaya bahkan menyebut fonomena “Merariq Kodeq” merupakan “Tsunami Sosial” yang saat ini sedang melanda negeri hingga di NTB.

“Dampak dari Merariq Kodeq, bukan saja tidak bagus bagi pelakunya, namun akan menjadi penyebab timbulnya Tsunami Sosial di masyarakat yang sangat mengerikan” ujarnya.

Hal itu dikatakan dia didasari dari data Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP-PA) di tahun terakhir. 17% anak perempuan kawin di bawah usia 18 tahun, yang artinya satu dari tujuh anak di Indonesia kawin di bawah usia 18 tahun.

“Sementara di NTB menurut data BPS pada 2016, pasangan yang menikah di bawah umur mencapai 25,4 %, artinya satu dari empat anak perempuan di NTB menikah di bawah usia 18 tahun,” paparnya.
Menurutnya, saat ini Indonesia sedang mengalami darurat perkawinan anak, bahkan secara nasional saat ini NTB berada diurutan ke 5, dalam persoalan Perkawinan Anak.

“Kondisi ini tentu saja sangat memprihatinkan dan perlu penanganan optimal dari Pemerintah,” cetusnya.

Dia berharap, dengan digelarnya acara workshop seperti yang dilakukan PKBI NTB ini, para peserta yang hadir dapat menularkan energi positif di lingkungannya masing-masing.

“Empat hari kita diskusi mengenai persoalan tata nilai, tabu-tabu sosial, hak kesehatan dan seksual reproduksi remaja, hingga persoalan adat dan budaya. Ini diharap jadi bekal teman-teman menaggulangi persoalan Merariq Kodeq di lingkungan masing-masing,” tutupnya. (ir)