Salahkah TGB Dakwah Keliling Nusantara?

Oleh : M. Zakiy Mubarok

Bagaimana wajah sejarah hari ini dan kedepan, salah satu kuncinya adalah dengan mencermati bagaimana generasi muda hari ini berpikir. Karena mereka mewakili apa yang dinamakan kesadaran kolektif, respons, atau kesaksian zaman dari sebuah generasi – Kuntowijoyo

Kegiatan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Dr. H. M. Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) menjalani Dakwah Keliling Nusantara (TGB mengistilahkannya dengan safari dakwah), menjadi catatan tersendiri dalam sejarah kepemimpinan. Sebab, rasa-rasanya, baru sekarang ada Gubernur di Indonesia yang melakukannya. Atau kalaupun ada, sangat jarang yang kita dengar melakukannya.

Sebagaimana yang sama-sama kita maklumi bersama, persis di sisa masa jabatannya sebagai Gubernur NTB dua periode (2008-2013 dan 2013-2018), TGB melengkapi legacy kepemimpinannya dengan makin aktif melakukan kegiatan Dakwah Keliling Nusantara. Dan sejauh yang saya ketahui, TGB melakukan kegiatan itu setelah pembangunan yang ditorehkannya di daerah ini relatif menuai keberhasilan.

Kita harus akui, sebagai penerus kepemimpinan sebelumnya, TGB berhasil meningkatkan perekonomian di daerah ini. Pendidikan dan kesehatan makin membaik. Infrastruktur relatif makin tertata. Kehidupan sosial, politik, dan keberagamaan relatif stabil dan terkontrol.

Semua itu adalah bagian dari kerja keras dan kerja cerdas TGB selama menjadi Gubernur NTB. Tentu saja keberhasilan demi keberhasilan itu dapat dicapai karena didukung oleh semua pihak, termasuk masyarakat. Soal keterlibatan semua pihak dalam memajukan pembangunan di daerah ini, sudah berulang kali diungkapkan TGB dalam berbagai kesempatan.

Namun demikian, izinkan tulisan ini mengutip pengakuan mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Komarudin Hidayat. Saat diminta pandangannya mengenai sosok TGB di sebuah acara talk show statsiun televisi swasta. Cendekiawan muslim terkemuka itu mengatakan, TGB adalah sosok agamis yang memiliki kemampuan transformatif. Dalam arti, sebagai ulama, TGB tidak berhenti hanya pada nasehat, retorika, dan ceramah-ceramah.

Komarudin Hidayat melihat, melalui TGB, ulama tidak lagi dipandang lemah dalam kemampuan teknokratik dan manajemen strategik. TGB juga dilihat sebagai penyampai ajaran agama yang inklusif dalam konteks kebangsaan. Pandangannya ini disampaikan, setelah mendengarkan jawaban TGB sebagai Gubernur NTB atas pertanyaan Najwa Shihab.

Hari ini, spektrum dan medan dakwah TGB semakin luas jangkauannya. Melalui kegiatan Dakwah Keliling Nusantara, jamaahnya tersebar hampir di seluruh Indonesia, di pesantren, tempat pengajian, dan di ruang-ruang akademis (perguruan tinggi). Itu berarti, ruang transformatif TGB juga semakin lebar dan menyasar lebih banyak orang.

Kita tentu berharap, kegiatan Dakwah Keliling Nusantara yang dilakoni TGB hari-hari ini, dapat mengkonfirmasikan apa yang dikatakan orang tentang kepemimpinan. Salah satunya kata Richard M Nixon. Mantan Presiden AS ke-37 itu, mengatakan, kepemimpinan lebih dari sekedar soal teknis –meskipun hal itu penting. Kepemimpinan, katanya, bersentuhan dengan simbol, citra, dan ide-ide penting yang dapat mengubah wajah sejarah.

Sebagai ulama yang umaro dan umaro yang ulama, saya menduga kuat, TGB pasti paham bahwa peran penting ulama dalam sejarah kehidupan manusia adalah melakukan pencerahan bagi umat. Peran ini juga kerap disebut amr ma’ruf nahy munkar yang meliputi mendidik umat, melakukan kontrol, memecahkan problem, dan agen perubahan. Karena itu, dalam ajaran Islam, ulama memiliki kedudukan yang tinggi.

Jadi, salahkah Gubernur NTB, Dr. HM Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang, umaro yang ulama dan ulama yang umaro itu melakukan safari dakwah keliling nusantara? Jawabannya jelas, ya nggaklah! []

Penulis ialah Anggota Dewan Pembina LARISPA NUSANTARA

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat