Ruh Kartini Sudah Tenang…

Oleh Ahmad Hidayat

Jika banyak orang memperingati Hari Kartini dengan makna emansipasi Perempuan. Maka aku bertanya, apa harus dengan berkebaya dan lomba masak? Banyak juga yang memperingati hari Kartini dengan menampilkan yang katanya “Kartini Masa Kini” dengan berbagai pencapaian nya.

Saya sendiri lebih tertarik memaknai hari Kartini dengan keberdayaan perempuan untuk terlibat dalam pembangunan dengan dukungan Pria. Kartini pada masanya bisa mendirikan sekolah tentu karena dukungan Raden Adipati Djojodhiningrat (Suaminya). Tanpa itu pada masa itu, tentu Kartini akan sulit untuk melakukan aksinya.

Selain itu, saya juga lebih suka membahas “Masa Bakti” Kartini yang sangat singkat. Dan itu masih menjadi bayang-bayang yang setia menemani negeri ini. Ya, Kartini “didemisionerkan” dengan ikut menyumbang pada Angka Kematian Ibu (AKI: Kartini mangkat 4 hari setelah melahirkan). Bahkan nama Putra semata wayangnya itu adalah Soesalit yang merupakan akronim dari “soesah naliko alit” (susah di masa kecil) dikarenakan tidak pernah mengenal ibu nya.

Negeri nan indah ini masih berjibaku untuk menurunkan angka kematian ibu. Ditambah lagi saat ini ada stunting yang diam-diam siap atau bahkan sudah mendeklarasikan diri sebagai KLB.

Bagaimana dengan Gumi Gogo Rancah? Kemiskinan masih lebih banyak dialami oleh perempuan tetapi kesempatan akses sumber daya ekonomi masih lebih mudah didapatkan laki-laki. Provinsi ini juga gagal mencapai target MDGs untuk penurunan AKI.

Perkawinan Anak (khususnya anak perempuan) masih menjadi masalah yang belum dapat diselesaikan dengan baik meski sudah menunjukkan penurunan. Entah sebagai penyebab atau akibat, tetapi perkawinan terlalu dini ini berkorelasi kuat pada kemiskinan.

Peringatan hari Kartini seperti kehilangan ruh. Bisa jadi karena ruhnya sudah tidak bergentayangan dan sudah tenang sampai-sampai nilainya terlupa. Hari Kartini bagi saya, tidak lain merupakan momentum untuk melihat kualitas hidup negeri ini melalui kualitas kehidupan perempuan. Pertanyaan yang perlu jadi renungan bersama kita mungkin adalah, “Sudah siapkan perempuan maju memperjuangkan dirinya ke ranah publik?”.

“Sudah siapkah pria mendukung perempuan untuk memperjuangkan dirinya dan ikut bersama-sama untuk merawat ruang domestik?”

Penulis ialah Direktur PKBI NTB

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat