in

Kementerian PPPA Tingkatkan Pelibatan Laki-laki dalam Percepatan Penurunan AKI

Suasana workshop pelibatan laki-laki dalam menekan angka kematian ibu (AKI) di Hotel Golden Palace Mataram.

kicknews.today – Hingga Millenium Development Goal’s berakhir dan telah tergantikan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), target menurun Angka Kematian Ibu (AKI) 102 per 100.000 kelahiran hidup belum tercapai. Hal ini terungkap dalam worksop bertajuk “Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu dengan Pelibatan Laki-laki”, yang digelar Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB), Selasa (17/4), di Hotel Golden Palace Mataram.

Dikatakan, Kematian ibu bukan hanya merupakan persoalan emosional karena ditinggalkan oleh satu anggota keluarga, tetapi berdampak pada kondisi bayi, keluarga, dan masyarakat. Diperlukan peran organisasi masyarakat dan pelibatan laki-laki untuk menurunkan AKI.

Sekretaris Deputi Partisipasi Masyarakat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Dewi Yuni Muliati mengungkapkan bahwa banyak akibat yang timbul disebabkan kematian ibu.

“Selain beresiko bagi kelangsungan hidup keluarga, fakta menunjukkan bahwa sekitar 50% dari bayi yang ditinggalkan ibu akan meninggal sebelum ulang tahun pertama. Anak yang ditinggalkan sebagian juga akan mengalami gangguan tumbuh kembang, akibat tidak mendapatkan perawatan, pengasuhan dan pendidikan awal dari ibu,” ungkapnya.

Lebih jauh dia memaparkan, pada tahun 2030 SDGs telah menargetkan terjadi penurunan AKI secara global, yakni 70 kematian per 100,000 kelahiran hidup.

“Dicanangkan juga bahwa pada tahun 2030 terdapat akses menyeluruh pada pelayanan kesehatan reproduksi dan seksual, termasuk program keluarga berencana, informasi dan pendidikan serta pengintegrasian kesehatan reproduksi, dalam program dan strategi nasional setiap Negara,” ujar Dewi.

Menurut Dewi, penyebab kematian ibu pada dasarnya ada dua hal, yaitu dari sisi masyarakat dan dari sisi pelayanan.

Dewi menjelaskan, dari sisi fasilitas pelayanan, indikatornya menunjukan angka yang semakin baik. Hal itu terlihat dari meningkatnya pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dari 84,78% pada 2010 meningkat menjadi 90,88% pada 2013.

Namun sesuai data Ditjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan 2016, kembali menurun pada tahun 2015 menjadi 88,55%.

Sementara pemeriksaan kehamilan sebanyak empat  kali juga cenderung meningkat dari 86,85 % pada 2012 menjadi 87,48% pada 2015.

Terkait hal itu, Pemerintah Provinsi NTB juga telah melakukan upaya strategis demi menurunkan AKI, diantaranya dengan pembuatan regulasi berupa Perda tentang Perlindungan dan Peningkatan Kesehatan Ibu, Bayi dan Anak Balita (KIBBLA).

Selain itu, penempatan bidan di desa, pembangunan puskesmas, puskesmas pembantu, POSKESDES, puskesmas keliling, pembentukan Desa SIAGA dan POSYANDU Keluarga, serta upaya penguatan sistem rujukan.

Sedangkan dari sisi masyarakat, pada tahun 2015 Kementerian PPPA bersama organisasi masyarakat, telah menyusun pedoman percepatan penurunan AKI bagi organisasi kemasyarakatan.

Dilanjutkan pada tahun 2017 disusun pedoman peran lembaga masyarakat dalam pelibatan laki-laki untuk mempercepat penurunan AKI.

“Tentu tidaklah mudah bagi pemerintah jika bekerja sendiri untuk menurunkan AKI. Dibutuhkan peran serta aktif masyarakat, yakni swasta, dunia usaha, organisasi perempuan, Tim Penggerak PKK, organisasi kemasyarakatan, organisasi keagamaan dan media massa dalam menurunkan AKI,” jelasnya.

Karena itu,peran serta laki-laki dalam mengatasi berbagai faktor penyebab kematian ibu juga merupakan upaya yang tepat dalam percepatan penurunan AKI.

“Perlu pemahaman, sikap kepedulian serta kemampuan bagi laki-laki untuk berperan dan mengatasi masalah terkait kehamilan dan persalinan,” tutup Dewi. (Ir)