Puluhan TKW Asal NTB Telantar di Penampungan Malang Jawa Timur

kicknews.today – Sebanyak 20 orang calon tenaga kerja wanita asal Nusa Tenggara Barat minta dipulangkan ke kampung halaman, karena merasa ditelantarkan pihak perusahaan pengerah tenaga kerja di Malang, Jawa Timur.

“Kami ada 20-an orang dari NTB. Kami minta tolong untuk segera dipulangkan dari tempat ini,” ujar Titin Sumarni melalui telepon dari Malang kepada wartawan di Mataram, Selasa (17/4).

Ia menuturkan, tidak hanya dirinya yang menderita di dalam penampungan, melainkan ada ratusan TKW yang berasal dari luar NTB juga saat ini kondisinya sangat memprihatinkan.

Menurut penuturan Titin, mereka telah ditampung selama berbulan-bulan di ruangan tertutup dan pengap.

“Intinya kami minta dibebaskan dari tempat ini. Kami sudah tidak tahan harus menderita di penampungan. Karena itu, kita minta dipulangkan,” pintanya.

Dia mengakui, keinginan untuk pulang ke NTB dan segera keluar dari penampungan karena para TKW sudah tidak tahan dengan perlakuan perusahaan, dalam hal ini PT. Citra Karya Sejati (CKS) yang selalu mengingkari janji dan tanpa pernah memberikan kejelasan, kapan mereka diberangkatkan ke sejumlah negara tujuan seperti Malaysia, Singapura dan negara lainnya.

Padahal, menurut pengakuan Titin, dirinya sudah berada di dalam penampungan di Malang itu sudah enam bulan.

“Macam-macam, ada yang dari awal tahun 2017, belum juga berangkat,” ujarnya.

Warga Pemasar Dusun Pelita, Kecamatan Maronge, Sumbawa itu mengatakan sudah bosan dan lelah tinggal di penampungan. Banyak rekannya menangis karena tidak adanya kabar yang jelas dari pihak PT. CKS Malang.

Hingga saat ini, pihak perusahaan itu tidak menjelaskan kenapa belum juga diberangkatkan. Padahal sesuai dengan kontrak yang ditandatangani mereka, maksimal tinggal di penampungan tiga bulan dan langsung bisa diberangkatkan.

“Sampai sekarang tidak jelas dan kami sekarang hanya ingin pulang,” kata Titin seraya menambahkan bahwa dirinya pernah bersurat ke ke DPRD Kabupaten Sumbawa, untuk bisa mendengarkan nasihat mereka.

TKW lainnya, Siti Hartini juga mengungkapkan hal yang sama. Menurut dia, untuk keperluan sehari-hari di penampungan pihak perusahaan tidak pernah bertanggungjawab. Untuk itu dirinya bersikukuh minta dibebaskan keluar dari penampungan.

“Buat apa kita lama-lama harus menderita di tempat ini. Minta tolong, kita ingin keluar dan pulang ke NTB,” ujar warga Desa Bengkel Kecamatan Labuapi Lombok Barat itu.

Ia menambahkan, dirinya berada di penampungan sejak tahun 2017. Tapi hingga 2018 ini informasi keberangkatan tidak pernah ada dari pihak perusahaan. Bahkan untuk komunikasi pun diakui para TKW tidak diperkenankan membawa HP, kecuali hari Sabtu dan Minggu.

“Kalau hari lain HP kami disita perusahaan. Tidak boleh bawa HP. Kalau ketahuan kami dimarahi,” ujar Hartini.

Lebih aneh lagi, ungkapnya, ada rekannya sesama di penampungan akan diberangkatkan perusahaan. Namun paspor yang diberikan berwarna merah dan terkesan tertutup.

Para TKW menaruh curiga apakah benar mereka akan diberangkatkan bekerja di negara tujuan, atau di luar negara tujuan ataupun di luar perjanjian.

“Saya pernah bekerja empat tahun di Arab Saudi, tapi tidak seperti ini perlakuannya. Makanya kita minta tolong aja supaya dipulangkan dan dikeluarkan dari penampungan,” pinta Hartini.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Komisi V DPRD NTB HMS Kasdiono mengaku prihatin dengan kondisi para TKW tersebut.

Karena itu, pihaknya meminta semua pihak untuk membantu proses pemulangan para TKW tersebut. Bahkan jika ditemukan ada pelanggaran, maka pihaknya meminta perusahaan agar ditindak tegas.

“Bila perlu cabut izin perusahaannya, sehingga ada efek jera,” kata Kasdiono. (ant)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat