Minim Anggaran, Damkar Lombok Barat Gelar Penyegaran Personel

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

kicknews.today – Minimnya anggaran yang dialokasikan tidak menyurutkan semangat Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Lombok Barat, untuk meningkatkan kualitas personelnya. Buktinya, Sabtu (14/4), dinas yang memiliki tiga regu pasukan penjinak api ini diberikan penyegaran teknis dengan mendatangkan satu-satunya tenaga Inspektur Damkar untuk Wilayah Indonesia Timur, Harif Chandra.

Kepala DPK Lombok Barat Fauzan Husniadi menyampaikan, kesulitan dari segi pendanaan tidak lantas membuat Dinas Damkar patah semangat.

Minimnya anggaran membuat Fauzan dan anak buahnya, khususnya 39 orang personil operasi harus mengefektifkan semua potensi yang ada.

“Kami hanya memiliki belanja langsung sebesar Rp 920 juta, yang 3/4 nya adalah untuk operasional,” ujarnya saat diwawancarai usai memberikan Penyegaran Kemampuan Personel Damkar.

Sejalan dengan Fauzan, Kepala Bidang Pengendalian Operasi Lalu Adiwijaya mengungkapkan, anggaran tersebut sangat jauh dari cukup.

Sebagai contoh, penyedian bahan bakar mesin (bbm) di mana sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM), setiap kendaraan operasional Damkar harus menyiapkan 100 liter solar per mobil, baik saat operasi maupun tidak. Sementara saat ini Dinas Damkar hanya mampu menyiapkan 300 liter per bulan.

“Jumlah itu untuk tiga unit mobil plus satu mobil suply,” sebut Lalu Adiwijaya.

“Bayangkan bila terjadi kasus kebakaran lebih dari satu dalam skala besar, maka anggaran itu tentunya tidak cukup,” tambah Adi.

Adi juga menyampaikan, sampai tutup triwulan pertama tahun 2018 ini saja, setidaknya ada 12 kasus kebakaran yang terjadi. Kasus-kasus itupun tersebar di hampir semua wilayah di Kabupaten Lombok Barat.

“Terakhir kasus kebakaran rumah warga di Dusun Batu Samban, Lembar,” pungkas Adi.

Sementara dalam pemaparannya, Inspektur Damkar untuk Wilayah Indonesia Timur Harif Chandra menyampaikan, penyegaran dilakukan untuk semakin meningkatkan kualitas dan efektivitas kerja personil di lapangan.

Dalam panduan baku tindak pemadaman kebakaran, lanjutnya, setiap 2000 liter air dengan kecepatan tembak sampai 8 bar, maka 2000 liter itu akan habis dalam 2 menit.

“Untuk itu perlu ada kendaraan suplai air dan tindakan lokalisir api, sehingga tingkat penyebaran api bisa ditanggulangi. Bukan hanya fokus pada pusat titik api,” terang Chandra.

Demikian juga dengan respons atas laporan. Standar nasional kecepatan respons adalah 15 menit per 7 kilometer antara pos jaga dengan letak kejadian.

Untuk kasus Jakarta, terang Chandra, sudah menyusut menjadi hanya 3,5 kilo meter per 15 menit karena tingkat kepadatan lalu lintasnya.

“Kalau sesuai dengan SPM, setiap 10.000 jiwa harus disiapkan satu pos Damkar,” tambah Chandra.

Bagi Chandra yang lulus Pusdiklat Khusus Inspektur Damkar tahun 2016 ini memberikan apresiasi terhadap Damkar Lombok Barat khususnya regu penjinak api.

“Personel Damkar Lombok Barat sudah memiliki pengalaman, namun perlu terus dibina. Kasus kebakaran kan berbeda-beda. Mereka harus mampu bekerja di semua kasus,” pungkas Chandra yang juga merupakan Pejabat Struktural di Kabupaten Lombok Utara.

Menanggapi hal tersebut, Adiwijaya mengatakan bahwa kondisi respons pada Dinas Damkar Lombok Barat sendiri jauh lebih baik.

“Untuk kasus terakhir di Batu Samban, kita malah hanya membutuhkan 7 menit saja. Kami sampai titik lokasi pukul 20.44 Wita setelah menerima laporan pukul 20.37 Wita. Bayangkan kecepatan yang telah ditempuh,” terang Adi.

Namun mengingat luas wilayah dan penyebaran penduduk, timpal Fauzan, Dinas Damkar pun meningkatkan pelayanan dengan menyediakan satu pos khusus di wilayah Batulayar, agar waktu respons atas laporan kejadian semakin cepat.

“Di sana setiap hari disiagakan empat sampai enam personel dengan satu mobil yang siap kapan saja,” terang Fauzan.

Lebih lanjut Fauzan menerangkan, kegiatan penyegaran personil di Dinas Damkar rutin dilakukannya. Itu semua agar kualitas personalia semakin baik, walau dengan minim anggaran.

“Saat ini kecepatan mereaksi kejadian jauh lebih cepat. Namun yang terpenting bagi personel adalah 3A, yaitu Amankan Diri, Amankan Korban, dan Amankan Lingkungan,” jelasnya. (djr)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat