in

Islam Sontoloyo Menurut Bung Karno dan Status Facebook Rocky Banteng

kicknews.today – Kata “Islam Sontoloyo” kembali jadi perbincangan setelah pemilik akun Rocky Banteng menulis di dinding facebooknya sebuah status yang kemudian menjadi polemik di tengah masyarakat sehingga dirinya dijebloskan ke penjara setelah dilaporkan oleh Ustadz Muslamin, S.Pdi yang merupakan Ketua FUI Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Dia dijerat tuduhan melanggar UU ITE dan dianggap melakukan penistaan terhadap agama padahal menurutnya, dia hanya menulis kembali judul buku dari Bung Karno dan Gus Dur yang juga mengatakan kalau Tuhan Tidak Perlu Dibela.

Islam sontoloyo menurut Bung Karno merupakan Istilah yang tidak bermaksud menghina, tetapi sebentuk kritik internal terhadap penganutnya yang berpikiran sempit. Pertama kali ditulis Bung Karno pada tahun 1940 di majalah Panji Islam (PI).

Dalam artikelnya tersebut, Bung Karno mengkritik dan kesal dikarenakan sikap sebagian umat Islam yang lebih mengagungkan fiqh di atas segalanya. Seolah Islam hanya melulu soal fiqh dan yang lain menjadi tidak penting bahkan terabaikan.

Kritikan Bung Karno itu tidak berhenti sampai disana. Maraknya tuduhan kafir, sesat dan perilaku anarkis yang dipertontonkan saat itu menunjukkan gejala “sakitnya” kondisi keberagamaan bangsa kala itu seperti pandangannya dalam surat-surat Islam dari Endeh (1930-an).

“Kita royal sekali dengan perkataan “kafir”, kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap “kafir”. Pengetahuan Barat kafir; radio dan kedokteran kafir; sendok dan garpu dan kursi  kafir; tulisan Latin  kafir; yang bergaul dengan bangsa yang bukan bangsa Islam pun kafir!”

Menurut Bung Karno, yang mengkafirkan pengetahuan dan kecerdasan, radio dan listrik, kemoderenan dan ke-uptodate-an berarti mereka mau tinggal dalam keterbelakangan, kuno, makan tanpa sendok, dan naik onta.

Astagfirullah, inikah Islam? Inikah agama Allah?” tulisnya.

Dalam berbagai tulisannya tentang Islam itu tampak pengetahuan Bung Karno tentang Islam begitu luas dan mendalami persoalan. Selain melahap berbagai buku dari para ulama di berbagai negeri Islam, ia juga murid dari tokoh utama Sarekat Islam (SI) Tjokroaminoto.

Lebih jauh bagi Bung Karno, taklid buta merupakan salah satu hal yang menyempitkan pandangan pemeluk islam. Menurutnya, taklid itu seperti abu, debu, dan asap. Ia bukan api Islam. Islam tak lagi jadi agama yang boleh dipikirkan secara merdeka, tapi telah menjadi monopoli kaum fakih dan kaum tirakat.

“Hampir seribu tahun akal dikungkung sejak kaum Mu’tazilah sampai Ibnu Rusyd dan lainnya. Asy’arisme pangkal taklidisme dalam Islam. Akal tidak diperkenankan lagi. Akal itu dikutuk seakan-akan dari setan datangnya,” paparnya.

Menurutnya, Al-Quran dan Hadits itu tidak berubah. Bahkan “teguh selama-lamanya, tidak lapuk di hujan, tidak lekang di panas.” Tapi pandangan masyarakat yang senantiasa berubah, berevolusi, dinamis, mengalir.

Masih dalam Surat-surat Islam dari Endeh (1930-an), Bung Karno menulis, umumnya kita punya ulama dan kiai tapi tak ada sedikitpun “feeling” kepada sejarahnya. Mereka punya minat hanya tertuju pada agama, terutama pada bagian fikih. Tapi pengetahuan tentang sejarah umumnya nihil. Padahal sejarah adalah padang penyelidikan yang maha penting!

“Kebanyakan mereka tak mengetahui sedikitpun dari sejarah itu. Sejarah, apalagi bagian “yang lebih dalam”, yakni yang mempelajari kekuatan-kekuatan masayarakat yang menyebabkan kemajuan atau kemundurannya sesuatu bangsa. Sejarah itu sama sekali tidak menarik mereka punya perhatian,” tulisnya.

Menurutnya, pelajaran terbesar dari sejarah adalah bahwa Islam di zamannya yang pertama dapat terbang meninggi seperti burung garuda di atas angkasa karena fikih tidak berdiri sendiri. Fikih disertai dengan tauhid dan etiknya Islam yang menyala-nyala. Fikih  hanyalah “kendaraan” saja.

Disitu Bung Karno juga mengomentari persoalan penggunaan hadist lemah sebagai pedoman. Bagi Bung Karno, hadis lemah merupakan salah satu di antara yang menyebabkan kemunduran Islam.

“Saya perlu kepada Bukhari atau Muslim itu karena di situlah dihimpun hadis-hadis sahih. Walaupun dari keterangan salah seorang pengamat Islam bangsa Inggris, di Bukhari pun masih terselip hadis-hadis yang lemah. Dia pun menerangkan, bahwa kemunduran Islam, kekunoan Islam, kemesuman Islam, ketakhayulan orang Islam banyaklah karena hadis-hadis lemah itu yang sering lebih laku daripada ayat-ayat Al-Quran. Saya kira anggapan ini adalah benar.” katanya.

Saat ini pemilik akun berinisial R (25) warga Lingkungan Ginte, Kelurahan Kandai Dua Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat tengah mendekam dipenjara karena menulis status “Islam Sontoloyo Tuhan Tidak Perlu Dibela” di facebooknya.

Entah yang dimaksud R atau Rocky Banteng itu memang sama dengan yang dimaksud Bung Karno dalam bukunya atau yang lainnya. Massa terlanjur marah tanpa berfikir panjang tentang maksud dan tujuan dari Rocky Banteng. Polisi mengambil sikap cepat tanggap mengantisipasi kericuhan yang kemungkinan terjadi.

Kapolres Dompu AKBP Erwin Suwondo, SIK, MIK saat dikonfirmasi mengungkapkan, Pemilik akun Rocky Banteng saat ini telah diamankan di Mako Polres Dompu.

“Kami sudah amankan guna menghindari kejadian yang tidak kita diinginkan” ungkapnya. (red.)

Tinggalkan Balasan