Pak SBY, Belajarlah dari Bu Mega

Oleh : Paox Iben Mudhaffar

Pak SBY yang baik…

Paduka pasti paham bahwa di era keterbukaan seperti sekarang ini, untuk menghindari penyalahgunaan kekuasaan, sikap otoriter, hegemoni politik dll, seorang pemimpin harus memenuhi syarat akuntabilitas dan penerapan etika demokrasi yang cukup ketat/transparan. Karena itu banyak negara menerapkan sistem pemilihan langsung dan membatasi masa jabatan kepala pemerintahan hingga tingkatan paling bawah.

Meski demikian, dalam demokrasi modern, dinasty dalam politik itu tidak sepenuhnya bisa dihilangkan. Bahkan di Amerika Serikat sekalipun, negara yg sering mendaku paling demokratis itu, kita mengenal keluarga Bush senior dan junior, dimana ayah dan anak sama2 menjadi presiden secara bergantian meskipun ada jeda satu periode. Publik menganggapnya wajar saja karena semua mengikuti mekanisme yang telah disepakati dalam konstitusi mereka.

Dalam sejarah Indonesia, ada juga Ibu Megawati yang pernah menjadi presiden RI menggantikan Gusdur. Siapapun tahu, beliau merupakan putri presiden pertama RI, Ir. Soekarno. Kini Ibu megapun tengah mmpersiapkan putrinya, mbak Puan Maharani untuk menjadi penerusnya dalam politik.

Karena itu wajar juga setelah Bapak rampung menjadi presiden RI dua periode, lantas menyiapkan putra kesayangan Bapak sebagai calon pemimpin Zaman Now. Ya, Ibarat buah tentu tidak akan jauh dari pohonnya. AHY putra bapak, selain secara genetis mewarisi sifat2 bapak, ia juga bisa melihat dan belajar langsung selama bapak menjadi presiden 2 periode.

Pak SBY yang baik…

Saat ini anak Bapak, Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY digadang-gadang menjadi wakil presiden untuk mendampingi Jokowi pada pilpres mendatang. Sayangnya muncul kompetitor lain dari partai bapak sendiri, Tuan Guru Bajang Zaenul Majdi, Gubernur NTB dua periode yang hafizd qur’an.

Jika saya boleh memberi saran, daripada dua-duanya diperhadapkan, dibenturkan, lebih baik Bapak memilih TGB dari pada anak bapak, Mas AHY, untuk maju. Bukan, bukan karena AHY putra bapak itu tidak kompeten atau kurang layak. Ini hanya persoalan strategi politik jangka panjang saja. Dalam hal ini, maaf, belajarlah dari Ibu Mega.

Dalam Pilpres 2014 kemarin, Ibu Mega yg partainya memenangkan pemilu sangat mungkin mendesakkan dirinya menjadi capres atau menunjuk putri semata wayangnya, Puan Maharani menjadi Cawapresnya Prabowo. Apalagi mereka pernah bikin kesepakatan dibatu tulis utk hal itu.

Namun ibu Megawati sadar betul putrinya belum siap atau tidak terlalu “marketable”, dan kehendak zaman juga belum berpihak. Karena itu dalam pilpres 2014, Ibu mega menyerah pada tekanan publik dan merelakan seorang petugas partai yg berbadan kerempeng serta sering dicap “plonga-plongo” bernama Joko Widodo aka Jokowi menjadi Capres dari PDIP.

Padahal siapalah Jokowi? Hanya seorang pedagang mebel di sebuah kota kecil bernama Surakarta, bukan jenderal berpangkat, bukan pula konglomerat, tak pernah duduk sebagai petinggi partai. Sehingga berulangkali Bu Mega sendiri menyebutnya petugas partai.

Pilihan Bu Mega sungguh jitu ternyata. Dengan muka dan tampang pas2an itu Jokowi dianggap sebagai representasi kehadiran wong cilik, kawulo alit yang merupakan mayoritas penduduk negeri ini. Mereka sudah bosan dipimpin, dipermaikan, diapusi (dibohongi) oleh para elit, para pembesar, yang hidupnya tak pernah berpijak di bumi.

Akhirnya Jokowi memenangkan pertarungan dan terpilih menjadi presiden mengalahkan Prabowo Subiyanto yang pernah menjadi cawapresnya Bu Mega di pilpres sebelumnya (2009). Atas kemenangan tersebut, PDIP tetap memegang kendali permainan, dan Puan Maharani putri kesayangan Ibu Mega mendapat jabatan yg sangat prestisius sebagai Menko.

Jika kita jujur saat ini, siapapun bisa melihat, animo publik lebih menghendaki TGB daripada AHY putra Bapak. Mungkin faktornya sederhana saja, publik, masyarakat kita, butuh waktu untuk melihat sepak terjang putra bapak yang baru mengundurkan diri dari dinas ketentaraan dengan pangkat Mayor (tanpa jenderal) di belakangnya.

Sebab siapapun bisa berpikir, bagaimana bisa seorang Mayor yang masih muda akan memimpin para jenderal? Akan lain justru jika Mas AHY tidak pernah berkarir di militer sekalian.

Sayapun berpikir, dengan modal sosial, pengalaman dan kecerdasan Bapak, kenapa tidak sekalian Partai Demokrat membangun poros ketiga daripada menyerahkan kadernya menjadi cawapres? Jadikan TGB sebagai calon presidennya, dan itu akan menjadi sesuatu yang out of mainstreams, sama seperti kehadiran bapak atau Jokowi saat pertama nyapres dulu.

Rakyat butuh kejutan. Setelah presiden “ndeso”, kini rakyat perlu sesuatu yang berbeda lagi. Seorang pemimpin yg tak hanya mewakili rakyat kecil kebanyakan, tapi juga seorang santri yang visioner. Apalagi TGB berasal dari luarjawa, serta mewakili komunitas kecil yang terpinggirkan.

Yakinlah, publik pasti akan berterimakasih atas sikap legowo Bapak, dan menjadikan itu sebagai rasa simpati yang berbuah manis.

AHY dan TGB tidak perlu berbenturan. Partai Demokrat bisa terhindar dari badai fitnah seperti dituduhkan sahabat saya Andi Arif (Ketua DPP Demokrat), dan saya percaya TGB bisa mengalahkan Jokowi atau Prabowo. Bahkan jika keduanya bersekutu menjadi Capres dan Cawapres.

Bagaimana bisa? Sebab publik ingin melihat matahari yang selalu baru, penuh kejutan, dan mengena dihati banyak orang. TGB yang seperti paduka bapak SBY pahami, adalah sosok yg bisa memenuhi harapan banyak orang. Dari sisi nama saja, penyebutan Tuan Guru Bajang itu cukup unik dan menggelitik. Cukup nyaman dan berkesan didengar oleh siapapun. Apalagi beliau memiliki pengalaman menjadi Gubernur dua periode.

Dalam dua periode ke depan, sembari membenahi partai, saya yakin AHY pasti bisa menduduki jabatan presiden seperti bapak. itu hanya soal waktu dan kesabaran saja.

Penulis adalah penjelajah, Novelis dan pemerhati budaya, Presiden Repvblik Syruput.

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat