in

Bertemu Presiden Jokowi di Istana Merdeka, ini Permintaan Nyak Sandang Asal Aceh…

Presiden Jokowi saat menerima Nyak Sandang di Istana Merdeka (Foto: Laily Rachev - Biro Pers Setpres)

kicknews.today – Keinginan Nyak Sandang (92) warga Nangro Aceh Darussalam (NAD) untuk bertemu Presiden Joko Widodo akhirnya terwujud. Presiden menerima Nyak Sandang di Istana Merdeka pada Rabu (21/3) sekitar pukul 18.25 WIB.

Nyak Sandang datang ditemani dua orang anaknya, Maturidi dan Khaidar. Mereka terbang dari Aceh, Selasa (20/3), seperti rilis Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden yang terpantau kicknews.today, Rabu (21/3) pukul 22.30 Wita.

“Ini Pak Jokowi, Ayah. Dia (ayahnya, red) senang sekali bisa bertemu Presiden,” kata Maturidi menerjemahkan Nyak Sandang yang selama berbincang dengan Presiden menggunakan bahasa Aceh.

Dalam pertemuannya dengan Kepala Negara ini Nyak Sandang pun mengutarakan beberapa permohonan kepada Presiden. Salah satunya mengenai bantuan untuk operasi katarak.

“Baik nanti saya uruskan untuk kataraknya. Katarak kan operasi ringan, besok tolong dicek ke rumah sakit untuk kataraknya,” jawab Presiden.

Selain itu, Nyak pun meminta agar dibuatkan masjid di kampungnya di Lamno, Aceh. Presiden pun menjawab bahwa nanti akan dikirimkan tim untuk mengecek kondisi di sana.

Permintaannya yang ketiga adalah untuk menunaikan ibadah haji.

“Ingin naik haji. Kalau bisa tahun ini, karena sudah tua,” lanjut Maturidi.

Terkait hal ini, Presiden mengatakan bahwa dirinya akan mengupayakannya dan berkoordinasi dengan Menteri Agama. Sambil menunggu kepastian keberangkatan haji, Presiden Jokowi pun menawarkan untuk umroh terlebih dahulu.

“Mengingat haji kan ada antriannya, nanti saya bicarakan dengan Menteri Agama,” kata Presiden.

Nyak Sandang kemudian menunjukkan bukti obligasi Pemerintah Indonesia tahun 1950 yang dimilikinya kepada Presiden.

Seperti diketahui, Nyak Sandang adalah salah satu orang yang ikut andil menyumbangkan harta kekayaannya untuk pembelian pesawat pertama Indonesia.

Hal ini berawal pada tahun 1948, saat Presiden pertama RI Ir. Sukarno berkunjung ke Tanah Rencong guna mencari dana untuk pembelian pesawat pertama setelah Indonesia merdeka.

Nyak Sandang yang kala itu berusia 23 tahun bersama orang tuanya menjual sebidang tanah dan 10 gram emas. Dimana hartanya yang saat itu dihargai Rp 100, pun diserahkan kepada negara.

Sehingga Presiden Sukarno menerima sumbangan dari masyarakat Aceh sebanyak SGD 120 ribu dan 20 kg emas murni untuk membeli dua pesawat terbang yang diberi nama Seulawah R-001 dan Seulawah R-002. Dua pesawat tersebut merupakan cikal bakal maskapai Garuda Indonesia Airways.

Di penghujung perbincangan, Nyak Sandang pun menyampaikan terima kasih kepada Presiden Jokowi.

“Terima kasih Bapak Presiden sudah punya waktu untuk kami,” ucap Nyak Sandang haru. (djr)