in ,

Ketahui Dampak Lingkungan akibat Pengerukan Pasir di Laut Lombok Timur

Zhilal Shadiq S.Si M.Eng saat melakukan penelitian di laboratorium

Oleh: Zhilal Shadiq S.Si, M.Eng

Reklamasi Teluk Benoa Bali menjadi sebuah agenda yang berujung pada kondisi dilematik. Agenda yang bertujuan untuk mengembalikan kondisi Teluk Benoa dan sekitarnya agar dapat kembali menjadi lokasi penunjang kegiatan ekonomi masyarakat sekitar ini dinilai menjadi agenda yang dapat memberi solusi untuk masalah di satu daerah tetapi berpotensi untuk menimbulkan masalah dan kerugian di daerah lain karena reklamasi Teluk Benoa Bali berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan penambangan pasir laut di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Penambangan pasir yang dilakukan secara masif di daerah Lombok Timur dengan melibatkan area dengan luas sekitar 1.000 ha dan menargetkan jumlah pengambilan total sebesar 30 juta meter kubik demi mendukung terealisasinya rencana reklamasi Teluk Benoa Bali menjadi salah suatu kegiatan yang memunculkan berbagai isu dan banyak dilirik oleh para aktivis, khususnya aktivis lingkungan.

Nilai retribusi kegiatan penambangan pasir laut yang dikenakan untuk setiap meter kubik pasir yang diambil berkisar antara Rp 15-20 ribu, sehingga nilai retribusi maksimum untuk total 30 juta meter kubik pasir yang diambil adalah sekitar Rp 60 milyar.

Angka ini dinilai tidak berdampak positif secara signifikan dalam menunjang pertumbuhan ekonomi daerah oleh berbagai kalangan masyarakat NTB. Selain itu, kegiatan penambangan pasir ini juga dinilai sangat berpotensi untuk menimbulkan kerugian dan kerusakan jangka panjang di bidang lingkungan pada daerah tempat dilaksanakannya penambangan.

Oleh karena itu, kegiatan penambangan pasir ini menuai berbagai macam kritik dan penolakan oleh aktivis lingkungan dan masyarakat NTB.

Salah satu dampak lingkungan yang dapat terjadi secara langsung sebagai akibat dari kegiatan penambangan pasir laut adalah perubahan struktur fisik dasar laut serta peningkatan cemaran air laut . Hal ini sangat terkait erat dengan kelangsungan hidup biota laut yang mendiami area penambangan pasir, sehingga dapat mempengaruhi keseimbangan ekosistem laut di wilayah yang menjadi lokasi dilaksanakannya penambangan pasir tersebut.

Pengerukan pasir laut dapat memicu terjadinya deformasi kontur dasar laut yang menjadi pijakan bagi terumbu karang dan tumbuhan dasar laut. Selain itu, besarnya intensitas olakan air yang terbentuk pada permukaan pasir di dasar laut sebagai akibat dari kegiatan penambangan dapat menjadi penyebab terjadinya peningkatan jumlah padatan tersuspensi di dalam air dan meningkatkan turbiditas atau kekeruhan air laut yang merupakan salah satu parameter pencemaran.

Deformasi kontur dasar laut dan peningkatan turbiditas air dapat menjadi penyebab terjadinya kerusakan yang bersifat tidak dapat diperbaharui, yaitu kerusakan terumbu karang dan kematian tumbuhan dasar laut.

Terumbu karang dan tumbuhan dasar laut memiliki peran ekologis, yaitu sebagai penyedia nutrient, pelindung fisik, dan tempat pemijahan bagi biota laut. Oleh karena itu, kerusakan terumbu karang dan kematian tumbuhan dasar laut dapat memicu terjadinya kelangkaan hingga kepunahan ikan serta biota laut lainnya yang memiliki nilai ekonomis, sehingga hal ini dapat berpengaruh pada kondisi ekonomi dan sosial serta kesejahteraan masyarakat yang mencari nafkah dari hasil laut di area penambangan pasir tersebut.

Selain dapat berdampak pada kelangsungan hidup biota laut dan keseimbangan ekosistem laut, kegiatan penambangan pasir laut juga berpotensi untuk menyebabkan terjadinya abrasi yang merupakan akibat kronis dari pengerukan pasir laut. Abrasi yang terjadi dapat menyebabkan perubahan geomorfologi pantai dan dapat mengancam kestabilan daratan terhadap aktivitas geologi yang bersifat destruktif dan merugikan dalam jangka panjang.

Hal ini tentu dapat mengancam kehidupan di daratan karena fenomena abrasi berpengaruh pada eksistensi dan kondisi di daratan yang merupakan tempat bermukimnya masyarakat.

Mengingat tidak seimbangnya antara keuntungan dengan kerugian yang diperoleh, serta besar dan kompleksnya dampak jangka panjang di bidang lingkungan, ekonomi, maupun sosial khususnya bagi masyarakat Lombok yang dapat ditimbulkan oleh kegiatan penambangan pasir ini hendaknya menjadi pertimbangan bagi para pengambil keputusan untuk mengambil langkah yang lebih bijaksana demi kesejahteraan bersama di masa mendatang.

Penulis ialah alumni teknik kimia lingkungan UGM