Peningkatan Tajam Tenaga Kerja Lansia Akibat Perang dan Kemiskinan di Irak

kicknews.today – Dalam kondisi lemah dan sakit, Munthir Haider (64) masih bekerja keras setiap hari agar bisa membeli roti buat keluarganya di Provinsi Diyala, Irak Timur.

“Tak ada pekerjaan berarti kematian buat saya dan buat keluarga saya,” kata Haider kepada Xinhua.

Haider bekerja sebagai kuli; ia biasa terlihat bersama pedatinya di satu pasar terkenal di Baquba, Ibu Kota Provinsi Diyala.

Ia harus menunjang keluarganya, yang miskin, tapi berat buat dia sebab tak ada cukup lapangan kerja sedangkan ia tak memiliki pensiun atau bantuan keuangan lain.

Seperti daerah lain, Diyala menyaksikan peningkatan tajam jumlah tenaga kerja lanjut-usia akibat lonjakan kemiskinan setelah bertahun-tahun perang dan konflik, terutama di daerah yang baru dibebaskan dari cengkeraman IS.

Hassan Ar-Rubaie, seorang ahli ekonomi Irak, mengatakan “jumlah tenaga kerja lansia telah naik sebanyak 90 persen, dan mereka telah menjadi fenomena umum di semua pasar Irak”.

Seorang lagi tenaga kerja kasar, Abu Arkan (60), membawa barang-barang di satu pasar alat listrik lokal di Baquba Tengah.

“Kemiskinan mendorong saya bekerja pada lapangan kerja yang tak cocok buat usia saya. Tapi apa yang bisa saya kerjakan? Saya harus membawa makanan buat keluarga saya,” kata Abu Arkan.

Abu Arkan dulu adalah pemilik satu toko di Kota Jalwla yang memiliki warga dengan bermacam etnik dan terletak sekitar 70 kilometer di sebelah timur-laut Baquba, sebab petempur IS membakarnya, dan memaksa dia bersama keluarganya menyelamatkan diri ke Baquba pada 2014.

“Saya kehilangan semuanya di rumah dengan sangat cepat dan menjadi orang miskin, sebab keluarga saya dan saya tak bisa membawa apa-apa dari rumah kami. Kami nyaris tak bisa menyelamatkan nyawa kami,” Abu Arkan mengenang peristiwa yang dialaminya.

Abu Hassan (58) dipekerjakan sebagai tenaga pembersih sementara. Ia bekerja selama berjam-jam setiap hari, tapi tak bisa memperoleh cukup uang untuk membeli makanan buat keluarganya.

Jumlah tenaga kerja lansia naik tajam di Irak, terutama di kalangan pengungsi, yang dipaksa meninggalkan rumah mereka dan karir mereka selama perang melawan IS sejak 2014.

“Saya berharap konferensi saat ini di Kuwait mengenai pembangunan kembali Irak akan memberi semacam bantuan buat kami dengan membangun kembali kota kami jadi kami bisa pulang,” kata Abu Hassan.

Ia merujuk kepada pertemuan internasional bagi pembangunan kembali Irak, yang diselenggarakan di Kota Kuwait.

Ar-Rubaie mengatakan kebanyakan pekerja lansia adalah korban serbuan pimpinan AS ke Irak pada 2003 dan pengrusakan yang dilakukan oleh kelompok fanatik seperti IS –yang merebut banyak wilayah di Irak Utara pada 2014.

Ia menyatakan program perlindungan sosial pemerintah, yang dirancang untuk mengentaskan orang miskin dengan menyediakan bantuan keuangan buat orang dan keluarga yang memerlukan, tidak cukup.

Banyak warga Irak mengatakan masalah peningkatan tenaga kerja lansia memerlukan upaya lebih besar pemerintah melalui kerja sama dengan organisasi kemasyarakatan guna mendorong orang yang kehilangan tempat tinggal untuk pulang, dan pada saat yang sama menyediakan pekerjaan yang cocok buat usia dan kemampuan mereka. (ant)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat