KPU Ingin Pilkada NTB jadi “Wisata Politik”

kicknews.today – Ketika orang mengatakan destinasi wisata NTB, maka yang terbayang di benak kita pasti pantai, gili dan Islamic Center atau tempat eksotis lainnya. Namun ada yang berbeda dengan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) NTB Lalu Aksar Anshori. Dia berkeinginan menawarkan  sesuatu yang berbeda, yakni kontestasi pemilu dan pilkada dijadikan wisata politik.

Di pagi jum’at berkah (12/1) L. Aksar tiba-tiba ingin menawarkan ide untuk semua masyarakat yakni menjadikan pemilu dan pilkada sebagai sesuatu yang menarik, menyenangkan, riang gembira, rekreatif, pro rakyat dengan nilai-nilai religi, ekonomi dan budaya serta fungsi-fungsi relasi sosial dengan keramahan dan keakraban.

Tidak hanya itu saja, konsep yang akan ditawarkan juga agar pemilu dan pilkada dijauhkan dari konflik, isu-isu SARA, transaksional dalam bentuk money politics, ketegangan, kerenggangan satu sama lain, saling curiga dan benci serta pertemuan-pertemuan dengan muka masam dan provokasi.

Item pertama, yakni menjadikan penyelenggara dan stakeholder sebagai mitra dan pelayan bagi semua, dalam arti penyelenggara dan stakeholder adalah teman dan mitra,dimana posisinya tidak berhadap-hadapan dengan peserta dan pemilih.

Mereka adalah pihak yang netral, sehingga berkewajiban memberikan pelayanan dengan penuh senyuman dan keakraban serta memberikan edukasi yang memiliki nilai kebajikan dan pencerahan.

Di dalamnya ada KPU dan Bawaslu serta jajarannya, pemerintah, polisi, ASN, media massa, LSM, perguruan tinggi dan lain-lain.

Semuanya sebaiknya berperan pelayanan dengan tugasnya masing-masing dapat dijalankan secara baik dan aktif. “Jadi akan indah kalau semua berperan sebagaimana mestinya,” ungkap dia Jumat (12/1).

Kedua, menjadikan tempat-tempat pelayanan sebagai wisata pendidikan, artinya dalam pelayanan tentunya ada edukasi yang membuat masyarakat bertambah pengetahuan dan keterampilannya. Akan semakin baik dalam mendapatkan hak-haknya dan akan semakin cerdas, sehingga semakin jauh dari perilaku yang membiarkan praktek transaksional dan provokatif.

Pusat-pusat pelayanan menyajikan data dan informasi secara menyenangkan baik audiovisual, teman-teman bermain dan ruang-ruang terbuka di pusat pelayanan dan di tempat publik.

Ketiga, melaksanakan tahapan dengan aturan hukum yang tegak lurus disertai kreasi muatan agama dan budaya.

Pelaksanaan norma hukum perlu didukung juga dengan tausiyah-tausiyah agama dan adat budaya yang disampaikan melalui sekolah-sekolah, balai pertemuan, rumah ibadah dan bahkan dalam perhelatan agama dan budaya seperti maulid, pengajian umum, pertunjukan wayang, drama dan tari, tembang merdu.

Keempat melaksanakan kerja-kerja tahapan sebagai perjalanan wisata bagi penyelenggara, peserta dan pemilih sebagai sebuah perjalanan wisata yang menyenangkan

Para calon dan tim sukses yang berkeliling kampung menyusuri sungai, jalan setapak, pantai, pematang sawah, hutan dan pepohonan dengan berjalan kaki, bersepeda, mengendarai kuda, mendayung sampan bahkan mungkin mengangkat celana hingga paha karena melalui genangan air dan mungkin juga ditandu.

Sehingga dalam perjalanan itu nampak keakraban berdialog dan berdiskusi. Apalagi kegiatan berkeliling ini yang ditampilkan di online, di koran, di layar video dan televisi bukankah sangat indah dan menyejukkan?

Begitu juga dengan penyelenggara yang sedang melakukan coklit pemilih, kemudian verifikasi dan yang sedang mengantar undangan untuk bertemu dengan masyarakat di berugak, di sawah, di kandang sapi, di pos-pos ronda, di lapangan sepak bola atau mungkin di sebuah acara budaya dan agama.

Sungguh sebuah gambar dengan sajian indah. Diceritakan dan ditayangkan tetap saja menjadi menarik seperti perjalanan wisata. Daripada memasang baliho di pohon-pohon atau di taman kota yang sangat tidak menarik dan tidak ekologis. Daripada gambar-gambar calon di baju kaos, di kerumunan, menampakkan acungan tangan dan muka melotot, sangat tidak rekreatif.

Kelima, ingin menjadikan pusat-pusat keramaian sebagai kegiatan ekonomi, seperti di tempat kampanye, di TPS, di percetakan, di posko-posko calon.

Dimana, saat pemungutan dan penghitungan suara di TPS seluruh masyarakat tumpah ruah dengan fashion terbaik menggunakan hak pilih, mengikuti seluruh proses dan memantau penyelenggara dan peserta.

Saat yang sama di TPS tersebut berbaris rapi penjual sembako, cendol, camilan, dan nasi bungkus juga. Malah kalau penjual “gule gending” menjual gula-gula sambil menari dan memainkan gendingnya, pastilah akan meriah.

Inaq-Inaq (ibu-ibu, red) yakin tidak akan malu untuk menari mesti sudah uzur. Juga KPPS-nya berbusana adat atau berbusana seperti orang mau naik haji, sedap dipandangnya.

“Intinya, mari kita selalu mengekspresikan diri agar pemilu dan pilkada menampakkan penyelenggara, calon dan pendukungnya serta masyarakat pemilih selalu dalam suasana hati yang sejuk dan lapang, menampakkan diri riang gembira serta membuat semua medan dan prosesnya sebagai wisata politik,” tutupnya. (prm)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat