in

Dispar Usulkan Pantai Ampenan Agar Dikelola Pihak Ketiga

Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram, H Abdul Latif Nadjib

kicknews.today – Dinas Pariwisata Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengusulkan Pantai Ampenan dikelola pihak ketiga agar lebih maksimal dan terawat.

“Kalau pengelolaanya kami serahkan ke pihak ketiga, itu bisa lebih efektif dan pemerintah kota tidak perlu lagi mengalokasikan anggaran untuk pemeliharaan,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram H Abdul Latif Nadjib di Mataram, Jumat (5/1).

Ia mengatakan setelah program revitalisasi Pantai Ampenan tuntas dilaksanakan pemerintah kota, pemerintah harus mengalokasikan anggaran lagi untuk berbagai biaya seperti biaya pengawasan, keamanan dan pemeliharaan fasilitas yang ada.

Sebaliknya, apabila pemerintah kota menyerahkan pengelolaanya ke pihak ketiga maka itu akan jauh lebih efektif, karena pihak ketigalah yang akan menanggung semua pengeluaran tersebut.

“Pemerintah kota tinggal berhitung pendapatan daerah sesuai dengan aturan main. Jadi, pemerintah kota bisa mendapat retribusi dan aset terpelihara dengan baik,” katanya.

Menurutnya, Pantai Ampenan merupakan salah satu destinasi pariwisata yang potensial karena merupakan objek wisata kota tua bahkan sudah masuk dalam jaringan kota tua nasional.

Oleh karenanya, keberadaanya bisa dikelola menjadi taman hiburan rakyat, dengan menyediakan berbagai fasilitas pendukung termasuk miniteater.

“Rencana pembangunan miniteater di Pantai Ampenan, cukup bagus untuk memberikan hiburan bermuatan edukasi secara gratis,” katanya.

Revitalisasi bekas Pelabuhan Ampenan dibangun dengan desain gaya modern namun tetap mempertahankan budaya lokal seperti lumbung, motif batik songket, dan bentuk bangunan yang memperkuat Ampenan sebagai kota tua.

Bangunan-bangunan yang ada saat ini ditata kembali agar bisa terlihat lebih indah dan memiliki kekhasan sebagai ikon Kota Mataram, sekaligus daya tarik bagi wisatawan.

Dalam desainnya taman di bagian utara itu akan dilengkapi dengan mini teater yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai kegiatan.

Bagian atas mini teater ini akan ditutup dengan desain berbentuk keong yang sebenarnya adalah lumbung yang merupakan rumah khas adat suku sasak.

“Dekorasi taman dan dinding taman, dibuat seperti halnya motif kain songket Lombok, begitu juga dengan lapak PKL memiliki kekhasan budaya lokal. Ini akan menjadi daya tarik tersendiri,” ujarnya. (ant)