in

Ahyar Abduh Kecewa Pada Kinerja Aparatnya

Walikota Mataram, H Ahyar Abduh

kicknews.today – Walikota Mataram H Ahyar Abduh menyatakan kecewa dengan kinerja aparatnya yang tidak dapat melakukan upaya maksimal untuk mendukung proses pengesahan Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

“Saya kecewa dengan kinerja aparat pada organisasi perangkat daerah (OPD) terkait yang kurang maksimal melakukan komunikasi dengan pemerintah, sehingga Perta RTRW belum bisa disahkan sampai saat ini,” katanya kepada sejumlah wartawan di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Kamis (28/12).

Padahal, lanjut wali kota, berbagai saran dan catatan untuk melengkapi pengesahan Perda RTRW sudah dilakukan sesuai dengan prosedur yang ada namun hingga saat ini belum juga ada tanda-tanda pengesahannya.

Akibatnya, berbagai proses investasi yang akan dilaksanakan oleh para investor di kota ini tertunda. Sementara di sisi lain, pemerintah mendorong pemerintah daerah untuk memberikan pelayanan perizinan yang mudah dan cepat.

“Perda RTRW kita ini sudah ada di kementerian, tinggal disahkan tapi yang menjadi pertanyaan kenapa prosesnya sangat lama,” katanya menyampaikan rasa kekecewaannya.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTST) Kota Mataram Cokorda Sudira Muliarsa sebelumnya menyebutkan, saat ini ada empat investor yang akan membangun hotel namun masih menunggu pengesahan Perda RTRW.

“Empat hotel berbintang akan dibangun dengan jumlah lantai di atas delapan lantai diyakini bisa lebih mendongrak nilai investasi di kota ini,” katanya.

Empat hotel tersebut adalah, Swiss Bellhotel di kawasan Rembiga sebanyak 13 lantai, hotel PP di Jalan Udayana dengan 12 lantai, kemudian Lombok Hotel sembilan lantai di Jalan Sriwijaya dan SIM hotel di kawasan Rembiga merencanakan membangun delapan lantai.

Hotel dengan jumlah lantai tertinggi yang ada sekarang adalah hotel Golden Tulip yang saat ini sudah berganti nama menjadi Lombok Aston dengan 11 lantai.

“Apabila Perda RTRW sudah rampung, investor siap melaksanakan tahapan pembangunan selanjutnya,” katanya.

Menyinggung tentang nilai investasi di Mataram, Sudira menyebutkan, berdasarkan data semester pertama 2017 nilai investasi Mataram tercatat Rp2 triliun dan secara kumulatif dari tahun 2014 nilai investasi Mataram tercatat Rp17,4 triliun.

Nilai investasi itu, katanya menambahkan, bersumber dari beberapa jenis bidang usaha yang meliputi bidang usaha pengadaan barang dan jasa, rumah sakit, bidang usaha konstruksi atau real estate, jasa travel, telekomunikasi, “ticketing”, “finance”, pariwisata dan terakhir bidang usaha rumah makan. (ant)