Jadilah yang Pertama Tau

Apa sih yang Diinginkan Wanita?

Wanita merupakan mahluk hidup yang kompleks dengan pemikiran-pemikirannya susah ditebak.

kicknews.today – Seorang psikoanalisis bernama Sigmund Frued meninggal pada usia 83 tahun. Tetapi kematiannya masih meninggalkan satu pertanyaan yakni apa yang diinginkan oleh wanita. Pria Austria keturunan Yahudi itu menghabiskan 30 tahun lebih melakukan riset kepada banyak wanita. Alih-alih mendapat jawaban, Sigmund justru binggung sendiri. Dalam salah satu kesempatan ia bahkan sempat merasa frustasi.

“Pertanyaan besar yang tak bisa kujawab selama 30 tahun meriset jiwa adalah apa yang diinginkan oleh wanita,” katanya, (Three Essays on the Theory of Sexuality).

Wanita merupakan mahluk hidup yang kompleks dengan pemikiran-pemikirannya susah ditebak. Kadangkala mereka meminta A tetapi saat diberikan A ia justru memilih B. Keruetan pemikiran ini tak ayal membuat kebanyakan pria melakukan berbagai cara supaya si wanita mau bersandar dihatinya.

Menuruti segala keinginan wanita (membelikan barang) adalah mayoritas cara yang paling klise. Adapula yang membuang waktu percuma seolah menjadi pembantu sang wanita. Lebih para dari itu, pria ekstrim justru memilih berselisih dengan kawan sendiri untuk memperebutkan wanita idaman.

Memahami Pusat Keputusan Pada Otak Manusia

Ilustrasi

Pria dan wanita diciptakan memiliki dua naluri berbeda. Naluri sendiri merupakan insting atau pola perilaku dan reaksi terhadap suatu rangsangan tertentu sejak kelahiran manusia itu sendiri.

Khusus pria naluri mereka disebut sebagai Edipoesa seperti ingin mendominasi, agresif, kasar, dan lainnya. Sementara wanita memiliki naluri yang disebut Elektra. Hal-hal feminim sejenis mengoda misalnya terlihat cantik atau sexy (ini alasan kenapa wanita suka berdandan), manja, ingin dihibur dan disayang adalah faktor perbedaan cukup signifikan dari kedua jenis manusia.

Dr. Paul McLean dalam bukunya “Triune Brain Theory” menjelaskan terdapat tiga bagian pada otak manusia. Otak fisik (R Complex) adalah yang bertanggungjawab mengatur seluruh jalannya organ tubuh. Penciuman, penglihatan, pendengaran dan lainnya. Otak Mamalia (Lymbic System) berfungsi menimbulkan rasa atau emosi misalnya sedih, marah, bahagia, dan takut. Pada bagian ketiga ada otak logika (Neo Cortex) cenderung berpikir rasional, perhitungan, alasan, maupun sebab-akibat.

Untuk mendapatkan keputusan ketiga bagian otak ini harus diyakinkan. Contohnya pada otak fisik kita memperlihatkan sebuah bentuk (barang maupun rupa). Pada bagian otak mamalia manusia mesti merasakan perasaan tepat (Jika merasa kesepian buat diperhatikan). Kemudian untuk menyakinkan otak logika pun harus mendapat alasan yang kongkret (2+2=4).

Sifat ketiganya sangat kontras dan cukup berbeda. Namun dalam kebanyakan kasus manusia condong menuruti otak mamalia guna diyakinkan. Dalam suatu waktu misalnya, Anda santai menonton film dirumah apalagi film tersebut adalah favorit. Waktu telah menunjukkan pukul 02.00 Wita, sementara Anda sadar jika pukul 06.00 Wita harus berangkat ke Kampus.

Di sini, terkadang muncul pemikiran jika Anda segera berhenti menonton dan tidur (ciri-ciri otak fisik), pun begitu muncul pemikiran seperti berhenti menonton namun tidak lantas tidur karena jika terlelap, khawatirnya akan telat bangun (ciri-ciri otak logika). Hanya saja, otak mamalia peyakin emosi tak setuju dengan dua pemikiran lain. Lantaran film asyik berdrama sekaligus membuat penasaran, maka yang Anda lakukan justru tetap terjaga tak peduli waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 Wita.

Faktor otak mamalia ditambah naluri di atas adalah alasan dibalik segudang kompleksitas wanita. Barangkali terlalu naif, manakala pria sudah memberikan apapun yang wanita minta tetapi juga tidak mendapat respon atau interesting darinya. Sebab kaum hawa butuh merasakan, kenyamanan, perlindungan, hingga kemanjaan yang ujungnya akan menyimpulkan sebuah keputusan terhadap seorang pria.

Memiliki (Wanita) Bukan Berarti Menguasai

Ketika manusia sudah jatuh cinta didalam otaknya akan muncul zat dopamine (perasaan bahagia tidak dapat dijelaskan dengan kata) yang ia konsumsi. Bak narkotika, ketika rasa tersebut sudah tak timbul lagi mereka akan mencari lagi dan lagi kurang lebih sama layaknya pecandu.

Jika pernah melihat wanita jatuh cinta dengan seorang pria yang barangkali dari sisi rupa agak kurang, demikian dengan postur yang gendut maupun kurus maka tidak heran. Karena didalam otak mereka dipengaruhi zat dopamine tersebut. Tetapi realita yang terjadi pria kerab kali berselingkuh meskipun sudah memiliki wanita perfect sekaligus.

Seperti cerita yang datang dari seorang warga Kota Mataram, Abu Ghifari (33). Ia pernah memiliki lebih dari 100 hubungan dengan wanita berbeda. Pengalaman untuk menaklukkan hati wanita sudah pernah dirasakan, makanya tak sulit baginya mendapat wanita lain barang 3 hari.

“Jadi ketika mendekati wanita itu ada polanya, kalau kita sudah memahami ini tidak sulit untuk mendapatkan wanita. Mau yang cantik atau biasa-biasa saja,” ungkapnya kepada kicknews belum lama ini.

Menurut pria yang telah berkeluarga ini, pengorbanan dengan memberi namun tidak berlebihan, mampu menghadirkan perasaan yang tepat untuk wanita, dan memberikan quality time adalah pola dimaksud. Hanya saja, pria berkumis tersebut tak menjamin berhasil menggaet semua wanita ketika pola itu diterapkan.

“Kemungkinannya 70 persen ya cukup besar. Tapi tergantung kita sendiri bagaimana memperlakukan,” bebernya.

Kasus di atas jelas merupakan tindakan yang tak patut ditiru. Lebih parah lagi, kekerasan terhadap wanita kadang meliputi dalam sebuah hubungan percintaan. Karena memiliki seorang kekasih bukan berarti kita dapat menguasai (bertindak semena-mena).

Bagi wanita menyembuhkan rasa patah hati memang cukup sulit. Studi yang dilakukan di Inggris oleh Capital One, sebagaimana dilansir dari situs asalasah.com setidaknya dibutuhkan rata-rata satu bulan guna menjalani proses. Tetapi proses jadi jauh lebih sulit ketika hubungan sudah berjalan lama misalnya 5 hingga 10 tahun.

Study itu menyebutkan umumnya wanita lah yang banyak diputuskan atau menjadi korban perasaan. 20 sampai 30 persen wanita menjalani move on lebih lama ketimbang pria yang hanya seminggu. Bahkan satu dari 12 perempuan tidak bisa bangkit kembali setelah patah hati dan 20 persen di antaranya mengaku takut memulai hubungan baru. Sementara 51 persen perempuan lainnya justru merasa paranoit.

Sebagai mahluk feminim yang lemah semestinya wanita diperlakukan secara baik dan penuh kasih. Menjalani hubungan yang layak, terbatas namun tetap transparan mestinya dapat menjadi sebuah kunci awetnya percintaan. Namun demikian, tak melulu kasus-kasus yang terjadi acapkali disebabkan oleh si pria.

Dr. Louann Brizendine, M.D, seorang ahli saraf-jiwa menemukan bahwa 10 persen wanita yang “katanya” akan setia ketika menikah dengan lelaki mapan yang mengayomi keluarga, justru mendua tepat saat rumah tangga mereka mencapai titik stabil. Ini dikarenakan desakan biologis selingkuh dengan laki-laki yang memiliki GEN terbaik (The Female Brain hal-155). Mungkinkan hal tersebut didasari karena faktor Naluri wanita?. Hmm…

Reporter: Angger Rico Winanda

 

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat