Hari Ibu, Tuna Rungu NTB Mempersembahkan Karya

Tidak ada halangan bagi siapapun untuk berkreatifitas, serta tidak ada alasan untuk tidak berkarya. Pun bagi saudara-saudara kita yang difabel. Selalu ada beragam cara untuk berkarya, meskipun memiliki keterbatasan.

Kali ini, pada saat perayaan hari ibu di Gedung Graha Praja Bakti Provinsi Nusa Tenggara Barat, yang diselenggarakan oleh BKOW dan PKK NTB. Tuna rungu NTB tak tinggal diam, mereka ambil bagian.

—————————————————————-

Hari Ibu, Hari Perjuangan Perempuan Indonesia

Hari Ibu adalah hari memperingati pergerakan dan perjuangan perempuan. Tepat 89 tahun yang lalu tanggal 22 desember 1928, para perempuan Indonesia mulai mewujudkan tekad dalam sebuah kongres perempuan, berjuang bagi hak-hak perempuan Indonesia.

Dalam kongres ini sejumlah perempuan bertemu dan berkomitmen untuk memperjuangkan keadilan bagi perempuan Indonesia.

Sejumlah aktivis perempuan kemudian menyebut tanggal 22 Desember sebagai hari perjuangan perempuan Indonesia.

Sudah selayakanya memang kita patut rayakan. Senada dengan yang dikatakan ibu Hj. Erica Zainul Majdi dalam sambutannya pada saat memperingati Hari Ibu bahwa “yang tidak merayakan Hari Ibu adalah orang yang tidak tahu sejarah”.

Hal yang harus menjadi tugas kita bersama adalah memastikan jangan sampai pada saat perayaan Hari Ibu, ruh dan persepsinya diubah menjadi ibuisme. Dimana perempuan menjadi pekerja domestik, mengurusi rumah tangga dengan segala tetek bengeknya. Atau yang sering kita dengar dengan 3R (kasur, dapur, dan sumur).

Mulai hari ini kita harus mengubah perspektif kita tentang Hari Ibu yang sangat kental dengan peran domestiknya, menjadi konsep perjuangan dan pergerakan perempuan.

Menjadikannya berdaya, bermartabat, mandiri, dan berdaulat. Bukan hanya mengurusi makan, mencuci pakaian, dan meninabobokan kita.

Tuna Rungu NTB Mempersembahkan Karya

Hal unik dan satu-satunya yang paling menarik perhatian saya pada saat perayaan Hari Ibu di gubernuran, adalah para tuna rungu NTB yang ikut ambil bagian memeriahkan perayaan Hari Ibu dengan mempersembahkan karya.

Pantomim menjadi pilihan dua adik tuna rungu: Rizki Adytia dan Haramain sebagai persembahan karyanya. Rizki yang berumur 15 tahun dan Haramain 15,5 tahun berasal dari SLB Darma Wanita NTB.

Lakon pantomim yang mereka perankan, bercerita tentang aktifitas sehari-hari: naik motor, main, memancing dan lainnya.

Kepala sekolah Rizki dan Haramain dalam obrolan santai bersama saya. Menceritakan, sejak latihan mereka sudah sangat bersemangat.

Satu bulan mereka berlatih untuk menampikan yang terbaik hari ini. Dan alhamdulillah mereka menampilkan yang terbaik dengan mengerahkan segala kemampuannya. Saya bangga tuturnya.

Saya sangat menikmati setiap jalan ceritanya. Terlihat pancaran kebahagian dan rasa percaya diri yang tinggi di mata Rizki dan Haramaian. Tak terlihat sedikitpun rasa minder dan merasa berbeda dari yang lainnya.

Yakinlah, setiap makhluk yang diciptakan Tuhan memiliki kelebihannya masing-masing. Tidak ada yang lebih rendah dari makhluk lainnya.

 

Penulis: Hani

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat