Jadilah yang Pertama Tau

SEJARAH HARI IBU & PERJUANGAN PEREMPUAN DI INDONESIA

Oleh : Paox Iben Mudhaffar

Presiden Repvblik Syruput

Ada yang menganggap bahwa mengucapkan selamat Hari Ibu itu haram hukumnya, apalagi merayakan/memperingatinya. Orang yang mengatakan demikian pastilah tidak paham sejarah dan sangat sok pintar.

Mereka berpendapat bahwa hari ibu itu merupakan tradisi kafir, karenanya mengikutinya merupakan ciri orang fasiq. Dikiranya peringatan ini merupakan tradisi imporan dari Barat.

Peringatan Hari Ibu itu ditetapkan oleh Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden RI No. 316 Tahun 1953 bersamaan dengan peringatan Konggres Perempuan Indonesia yang ke 25. Kongres Perempuan pertama diadakan di Jogjakarta pada tanggal 22-25 Desember 1928.

Konggres Perempuan tersebut dihadiri oleh sekitar 1000 perempuan dari berbagai organisasi seperti Persyarikatan Muhammadiyah, PSI, Boedi Oetomo,  Pemuda Indonesia, Jong Java, Jong Madura, Sarekat Islam, Walfajri dll.

Saya hanya membayangkan saja bagaimana sulitnya para perempuan dari berbagai wilayah itu berkumpul. Selain belum ada alat komunikasi dan transportasi yang memadai serta adanya larangan rapat-rapat ‘politik’ pada zaman penjajahan tersebut, budaya Patriarkhi yg merepresi perempuan juga masih mengakar kuat kala itu.

Kongres tersebut banyak menyoroti soal bagaimana kondisi kaum perempuan saat itu, pasalnya, pada era kolonial tersebut perempuan dipandang sangat rendah, tidak boleh berpendidikan seperti anak laki-laki dan seolah hanya dipersiapkan untuk mengurusi dapur, sumur dan kasur.

Kondisi keterbelakangan tersebut sungguh mengkhawatirkan. Dalam sebuah pidato politiknya, Ibu Djami dari perkumpulan/organisasu Dharmo Laksmi mengatakan : ” Tak seorangpun akan termasyhur, memiliki kepandaian dan pengetahuan jika Ibunya tidak memiliki pengetahuan serta tinggi budinya. Dan ketika Seorang Ibu mengandung disitulah pertamakali pendidikan itu diberikan kepada anaknya.”

Itulah kenapa pembangunan sekolah-sekolah untuk kaum perempuan seperti yang dilakukan oleh Rohana Koedoes, Kartini dan Dewi Sartika memiliki peran yang sangat penting dan perlu terus diupayakan.

Kongres tersebut memang menimbulkan banyak sekali pro dan kontra baik dikalangan “pribumi” sendiri maupun pemerintah kolonial. Tetapi melalui diplomasi yang cantik dan masuk akal, pemerintah Hindia Belanda sendiri akhirnya mulai terbuka dan mendukung pendidikan untuk kaum perempuan. Mulailah banyak organisasi yang membentuk korps perempuan, bahkan mendirikan sekolah atau lembaga-lembaga pendidikan yang memperbolehkan perempuan terlibat di dalamnya.

Kini setelah 72 tahun Indonesia merdeka dan 89 tahun sejak Kongres Perempuan pertama diadakan serta dijadikan sebagai peringatan Hari Ibu, masih banyak pihak-pihak yang memandang sebelah mata perjuangan kaum perempuan. Atasnama moral, bahkan doktrin keagamaan, perempuan selalu ditempatkan dibawah dominasi laki-laki. Hak-hak dasarnya dipasung, kebebasannya sebagai manusia merdeka dibatasi, bahkan seringkali diberangus.

Di era kekinian ini misalnya, sedikit sekali laki-laki yang mau memahami, apalagi belajar dunia perempuan sehingga bisa membangun relasi yang berkeseimbangan. Kasus maraknya kawin usia dini, kematian ibu melahirkan atau penyakit-penyakit khusus perempuan seperti kanker payudara, servick dll seringkali juga dipicu karena ketimpangan hubungan ini. Belum lagi maraknya kejahatan sexual dan KDRT, itu terjadi karena perempuan dibatasi hak-haknya untuk berdikari sehingga mampu membela diri dan membangun relasi yang wajar dengan sekitarnya.

Tak seorangpun lahir dari batu. Menghormati perempuan tentu bukan dengan cara menempatkannya di sangkar emas. Moralitasnya diukur dari ketundukannya terhadap dunia laki-laki. Saya pribadi percaya, maju mundurnya sebuah peradaban itu tergantung keseimbangan hubungan laki-laki dan perempuan.

Selamat Hari Ibu ke 89. Majulah terus Perempuan Indonesia!

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat