Komparasi Branding Menuju NTB 1

Oleh: EDI WIRANATA

Pemilihan Gubernur adalah kontes Demokrasi terbesar di setiap daerah. Hal tersebut juga terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang akan melaksanakan pemilihan Gubernur pada tahun 2018 Mendatang. Sejauh ini, sudah 2 pasangan calon yang melakukan deklarasi, yakni pasangan AHYAR MORI dan SUHAILI-AMIN, satu calon sudah mendahului mendaftar di KPU melalui jalur perseorangan atau Independen yakni ALI BD – ALI SAKTI, dan satu calon lagi yang kerap diperbincangkan akan melakukan deklarasi pada bulan Desember yakni pasangan ZUL-ROHMI.

Salah satu yang menjadi penentu setiap calon untuk meraup dukungan rakyat adalah dengan menerapkan strategi Branding yang mumpuni dengan memanfaatkan media baik cetak, dan elektronik, serta belakangan ini sangat digencarkan di Media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram. Setiap pasangan memiliki cara-cara unik dan menarik untuk mengambil hati pendukungnya. Selain desain-desain poster dan video kreatif yang berisi visi misi calon, ada juga yang telah menciptakan lagu khusus sebagai media kampanye.

Strategi branding yang kemudian sangat melekat dengan masing-masing pasangan adalah adanya tagline berupa beberapa kata dan selalu disematkan pada branding yang lain seperti pada desain kaos, baliho/spanduk, dan unggahan-unggahan para pendukung pada grup-grup diskusi di media social facebook.

Pasangan Ahyar Mori dengan tagline NTB UNTUK SEMUA, yang didalamnya tersirat pesan bahwa mereka ingin merangkul semua kalangan. Terlebih jika melihat branding-branding Mori Hanafi di media sosial, dia seperti tidak ingin kehilangan moment dengan mem-posting segala hal terkait anak-anak muda. Jika dilihat dari keragaman model branding, pasangan ini adalah yang paling unggul.

Hal ini telihat dari berbagai jenis branding yang diterapkan yakni melalui video vlog yang kocak, video-video animasi, ada juga serial moritune yang berupa Komik pendek. Video terakhir yang di Upload pada Official Instagram dan Facebooknya terlihat bahwa ada seorang Pemuda yang membuat rajutan benang dengan mengaitkannya pada paku-paku dan hasilnya membentuk peta NTB dengan tulisan dibawahnya “NTB UNTUK SEMUA”. Pasangan ini seperti ingin menyampaikan melalui video tersebut bahwa mereka membawa visi besar, untuk mempererat persaudaraan semua kalangan yang tersebar di Dua Pulau, Lombok-Sumbawa, serta mengusung representasi dari Perwakilan kaum Tua-Muda yang bijaksana.

Selanjutnya adalah pasangan SUHAILI-AMIN dengan tetap menggunakan tagline “KANGGOKM TADAHN?”.

Dalam bahasa sasak, kata “KANGGOKM” berasal dari kata “KANGGOK” yang berarti “SUKA”. Huruf “M” pada ujung kata “KANGGOK” dalam keseharian masyarakat sasak bagian Lombok selatan, digunakan untuk mempertanyakan atau menegaskan kepemilikan orang kedua atau lawan bicara, tergantung juga dengan model kalimatnya, apakah pernyataan atau pertanyaan. Kata “TADAH” memiliki banyak arti diantaranya adalah : Kira-kira, Menurut, atau kenyataannya. Dengan ditambhkan huruf “N” maka maksud dari kata tersebut yakni ditujukan pada orang ke-3 yang dalam hal ini adalah SUHAILI-AMIN.

Secara keseluruhan, “KANGGOKM TADAHN?” jika mengacu pada penjabaran makna perkata diatas akan berarti “KAMU SUKA KIRA-KIRA?”. Dengan tagline tersebut SUHAILI-AMIN ingin seolah ingin bertanya kepada masyarakat atau calon pemilihnya apakah mereka suka atau tidak, mau pilih atau tidak. Tentu ini mengandung ketidak tegasan dari seorang calon pemimpin, masyrakat akan melihat bahwa ini adalah bentuk tidak adanya visi misi yang jelas dari pasangan ini. Mau nyalon, tapi masih ragu-ragu.

Terlebih belakangan ini muncul tagline dari pasangan ini pada sebuah desain poster yang bertuliskan “SAHABAT MUSLIMIN”. Hal ini kemudian berpotensi menciptakan sekat-sekat bagi SUHAILI-AMIN dan calon pemilihnya, bahkan juga dengan para timsesnya jika ada timses mereka yang non muslim.

Untuk Provinsi NTB yang masyarakatnya menganut berbagai agama, maka jargon ini sangat tidak cocok untuk dikemukakan terlepas dari siapakah yang membuat jargon ini apakah dari calon ataupun timsesnya. Karena sejatinya seorang pemimpin merangkul semua kalangan, bukan untuk menciptakan sekat-sekat anti kebhinekaan.

Pasangan yang kemudian digadang-gadang menjadi pasangan paling fenomenal adalah pasangan yang disebut oleh timsesnya DUO DOKTOR, yakni ZUL-ROHMI. Sayangnya pasangan ini terus-terusan mengulur-ulur waktu untuk deklarasi. Pada desain Poster/Baliho yang kerap di unggah oleh timsesnya, Kerap dituliskan “PENERUS IKHTIAR TGB”.

Hal ini kemudian menimbulkan pendapat bahwa, apakah ketika nanti CAGUB CAWAGUB terpilih bukan ZUL-ROHMI, itu berarti IKHTIAR TGB untuk NTB tidak ada yang meneruskan ?. Tentu siapapun nanti yang terpilih, sudah pasti akan melanjutkan program-program dimasa TGB yang belum terselesaikan.

Sejatinya penerus ikhtiar TGB adalah pasangan calon yang nantinya memenangkan kontes demokrasi terbesar daerah ini, dan itu bisa saja bukan ZUL-ROHMI. Menjadi hal yang mustahil dilkakukan oleh TGB Jika ZUL-ROHMI kalah, kemudian dia tidak mendukung mereka yang terpilih. TGB adalah pemimpin kesatria yang pasti akan menghadiri SERTIJAB pada pelantikan Gubernur-Wakil Gubernur dan sudah pasti akan mendukung pemerintahan mereka walaupun yang terpilih bukan ZUL-ROHMI.

Belakangan ini juga, timses pasangan ini merilis sebuah video dan poster yang kontennya mirip dengan video dan poster kampanye ANIES-SANDI. Mereka hanya merubah nama dan mengganti sedikit kalimat yang mungkin maksudnya agar tidak terlihat terlalu kentara, akan tetapi dunia maya yang tanpa sekat interaksi sudah pasti telah menemukan celah ketidak Kreatifan tersebut.

Senada dengan calon-calon lain, Pasangan yang maju melalui jalur independen ALI BD-ALI SAKTI juga mengusung tagline tersendiri, tentu bukan DUO OLI walaupun nama mereka sama sama memiliki ALI. Jargon yang mereka usung adalah “MAJU BERSAMA RAKYAT” yang memang mencerminkan bahwa mereka maju tanpa menggunakan kendaran politik melainkan melalui jalur independen.

Isu yang berkembang terkait penyerahan berkas dukungan pasangan ini ke KPU NTB adalah, banyaknya KTP yang ternyata tidak dengan sepengetahuan pemiliknya telah digunakan untuk syarat majunya pasangan ini. hal ini terlihat dari semakin merosotnya angka dukungan dari setiap verifikasi yang dilakukan KPU.

Menjadi hal yang menarik untuk ditunggu hasil verifikasi terakhir dari KPU, apakah pasangan ini akan lolos untuk turut bertarung atau tidak.

Terlepas dari semua analisa diatas, sudah tentu menjadi impian setiap warga NTB untuk memiliki pemimpin yang mengerti akan kebutuhan dan keluh kesah rakyatnya. Akhirnya, semoga menjadi ikhtiar dan doa kita bersama, agar nantinya siapapun yang terpilih bisa mengemban amanah dengan baik dan menjadi pemimpin yang mengayomi serta menjadi teladan bagi rakyatnya.

Penulis adalah Pengamat Komunikasi Politik

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat