in

Pertumbuhan Ekonomi NTB belum Mampu Kurangi Angka Kemiskinan

Seorang pencari barang bekas tertidur di depan sebuah ritel modern. Ini jadi salah satu potret kondisi masyarakat antara kemiskinan dan lapangan pekerjaan

kicknews.today – Laju pertumbuhan perekenomian di NTB tergolong stabil. Bahkan akses lapangan pekerjaan dan penyerapan tenaga kerja terbuka. Kendati demikian tidak bisa menjamin turunkan angka kemiskinan.

Data BPS NTB sesuai hasil sensus pada 2016, dari  2.464 angkatan kerja, terdapat sebanyak 2.367 tenaga kerja. Jika dibandingkan tahun 2015, angkatan kerja sebanyak 2.256, yang diserap  2.168 orang.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, Endang Triwahyuningsih menjelaskan dalam lima tahun terakhir kesempatan kerja di NTB juga semakin meningkat mencapai 69,6 dari 100 persen angkatan kerja.

Kemudian 92 bekerja di Usaha Mikro Kecil (UMK). Sebanyak 92,46 persen bekerja di UMK dan 7,54 persen bekerja di UMB atau Usaha Mikro Besar. Menurutnya jika dilihat dari serapan tenaga kerja, pada UMK hanya menyerap dua tenaga kerja saja, tetapi di UMB bisa menyerap hingga 22 tenaga kerja.

“Makanya untuk meminimalisir angka pengangguran, tentu dibutuhkan industri (UMB). Dengan industri besar, akan menyerap tenaga kerja yang lebih besar,” ungkapnya,  Rabu (13/12).

Kalau pun begitu, angka kemiskinan di NTB belum bisa dikurangi. Solusi yang bisa dilakukan dengan pemberian gaji sesuai dengan Upah Minimum Regional (UMR) yaitu sebesar 1,6 juta dalam satu bulan.

“Untuk menjadi tidak miskin, penduduk harus mengeluarkan lebih dari Rp 345.341 rupiah perorang perbulan, “kata dia .

Dia mengaku, jika dilihat dari kekuatan ekonomi NTB, tidak hanya bersumber dari alam yang kaya dan subur, namun sumber daya manusia yang melimpah.

SDM yang berkualitas akan meningkatkan daya saing NTB di kancah regional maupun nasional. Kualitas SDM yang rendah akan menjadi penghalang bagi kemajuan dan pembangunan “Selama ini yang menjadi persoalan daerah juga pada kualitas SDM,” sebut dia.

Untuk diketahui IPM NTB tahun 2016 berada pada kategori sedang, posisi 30 dari 34 provinsi yang ada di Indonesia. Sehingga perlu upaya konsisten dan berkesinambungan untuk meningkatkan IPM.

Sementara kualitas tenaga kerja,  47 persen penduduk yang bekerja berpendidikan SD ke bawah. Kemudian  SMP 15 Persen, SMA 20 persen, Diploma I Hingga III hanya 5 persen dan Universitas hanya 10 persen. “Ada indikasi lapangan pekerjaan yang banyak tersedia di NTB adalah pekerjaan yang tidak menuntut pendidikan tinggi,” kata dia.

Sensus Ekonomi 2016 menggambarkan empat lapangan usaha unggulan di NTB seperti Konstruksi, Industri Pengolahan, Jasa-jasa dan Pertambangan Penggalian.

Dari empat  kategori unggulan, yang menyokong pariwisata di NTB adalah lapangan usaha Industri Pengolahan, Konstruksi dan Jasa-jasa. Kategori penting lainnya yaitu  akomodasi makan minum,angkutan dan pergudangan dan perdagangan berpotensi untuk lebih digenjot untuk semakin meningkatkan perekonomian NTB.

Lapangan usaha akomodasi dan Penyediaan Makan Minum merupakan lapangan usaha potensial di NTB. Hingga tahun 2016 lapangan usaha ini cukup efektif menyumbang pertumbuhan ekonomi namun dalam hal penyerapan tenaga kerja masih kurang.

Menurut Endang, sesungguhnya UMK merupakan sendi perekonomian NTB, oleh sebab itu diperlukan regulasi yang mampu mengawal dan melindungi UMK agar eksistensinya dapat berimbas pada kesejahteraan masyarakat NTB. (prm)