Jadilah yang Pertama Tau

Saat Jenderal Firli Bersimpuh di Hadapan Anak Bernama Jumiati

 

kicknews.today – Pagi itu, Sabtu (2/12) pada acara Silaturrahmi Kapolda NTB dengan komponen pilar kebangsaan dalam rangka pilkada kondusif di Bima, Nusa Tenggara Barat berubah jadi suasana haru. Brigjen Pol Drs Firli M.Si tiba-tiba bersimpuh di hadapan seorang anak kecil yang diberinya santunan sebuah kursi roda.

Diketahui anak tersebut bernama Jumiati. Usianya baru saja genap tujuh tahun, namun dia tak dapat menikmati masa kecil seperti layaknya anak pada usianya yang ceria. Bahkan yang seharusnya dia sudah mulai bersekolah untuk mengenyam pendidikan dasar, tidak didapatinya karena Jumiati mengalami kelumpuhan sejak lahir.

Tidak cukup sampai disitu, adik Jumiati, yakni Cahaya Ramadhan juga mengalami nasib yang sama dengan kakaknya. Padahhal Cahaya Ramdhan baru menginjak lima tahun tapi juga mengalami kelumpuhan. Keduanya adalah warga asal Desa Kowo Kecamatan Sape Kabupaten Bima.

Orang tua mereka bukan tergolong mampu. Mereka bekerja serabutan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari-pun masih susah. Padahal mereka sangat menyayangi anak-anaknya dan ingin melihat mereka bahagia, paling tidak bisa bercengkrama tanpa batas dengan teman-teman seusianya.

Kapolda NTB, Brigjen Pol Firli M.Si dari jauh-jauh hari sudah mempersiapkan acara silaturrahmi bersama segenap komponen bangsa untuk mewujudkan terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat jelang pilkada serentak 2018. Namun dia berpesan kepada para Kapolres jajarannya untuk mengisi acara tersebut dengan aksi sosial sebagai wujud kepedulian terhadap sesama.

Dalam acara itulah Brigjen Firli bertemu dengan Jumiati dan Cahaya Ramadhan saat di Bima, Nusa Tenggara Barat. Tampak Mata Brigjen Firli berkaca-kaca sambil bersimpuh di hadapan Jumiati.

Langka sekali momentum ini. Seseorang berpangkat jenderal didapati bertekuk lutut dihadapan hanya seorang anak kecil.

Dipegangnya tangan Jumiati. Diusap-usap kepalanya. Jenderal Firli yang dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan teguh pada pendirian juga aturan itu tiba-tiba berubah menjadi sosok yang berbeda. Dia seperti sebatang cokelat yang lumer. Hatinya tersentuh. Lututnya gemetar hingga diapun berlutut di hadapan Jumiati, Cahaya ramadhan dan orang tuanya. Brigjen Firli tampak hening ditengah keramaian orang-orang yang mengerumuni.

Sesaat setelah momentum tersebut Kapolda NTB, Brigjen Pol Drs Firli M.Si memberikan sambutan di hadapan para undangan yang hadir dalam acara formal itu.

“Mereka membutuhkan pertolongan kita semua. Mereka wajib untuk ditolong. Menolong orang, jangan menunggu di saat kita sedang berada saja,” kata Brigjen Firli setelah mengucap salam.

Menurutnya, memberikan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan disaat susah, InsyaAllah justru itu yang memiliki nilai penting di mata Allah SWT.

“Soal rezeki, itu Allah yang mengaturnya. Apa yang kita berikan kepada mereka, InsyaAllah ada berkahnya,” kata dia.

Brigjen Firli menceritakan mengenai masa lalunya. Disaat dia seusia anak-anak yang disantuninya itu.

Firli kecil lahir di sebuah kebun karet, kawasan hutan Dusun Lontar Baturaja, Sumatera Selatan yang jauh dari peradaban kala itu. Dia lahir 8 November 1963 dari rahim dan sekaligus dibidani ibunya sendiri. Tali pusarnya pun dipotong sang ibu, karena jangankan bidan, perawat atau dokter, dukun beranak pun tidak ada.

Firli pun tumbuh menjadi anak yang punya tekad untuk sekolah, menempuh pendidikan meski jaraknya sangat jauh dari gubuknya di kawasan hutan itu. Saban hari dia harus keluar masuk hutan untuk mengeyam pendidikan dasar sampai menengah, menempuh jarak 14 kilometer pulang pergi, telanjang kaki.

Situasi itu dirasakan sejak SD sampai SMP, membekas hingga menyebabkan ukuran kakinya lebih lebar dari normal anak seusianya.

Rupanya Brigjen Firli mengingat hal ini saat berada di hadapan Jumiati dan adiknya. Kehidupan yang keras dan nasib yang tidak seberuntung kawan kawannya yang lain saat itu membuat Brigjen Firli menjadi sosok pemimpin yang kokoh bagai karang tapi tidak kehilangan rasa kemanusiaan.

Love, care and share menjadi moto hidupnya agar dia senantiasa ingat berbagi kepada sesama. (red.)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat