Jadilah yang Pertama Tau

Berwisata “Adrenalin” di Gunung Agung yang Sedang Erupsi

Menjadi saksi sejarah letusan Gunung Para Dewa

kicknews.today – Gunung Agung, Bali. Dipercaya masyarakat setempat sebagai tempat bersemayamnya para Dewa kini tengah sangat aktif. Abu vilkanik bahkan batuan panas dimuntahkan gunung ini sejak seminggu yang lalu. Banyak wisatawan berusaha meninggalkan pulau eksotik itu di tengah deburan ombak pantai tropis, Bali.

Beberapa maskapai penerbangan mengimbau orang-orang yang telah memesan perjalanan ke Bali agar mereka dapat membatalkan, menunda atau mengubah tujuan mereka karena bandara dengan mudah bisa ditutup lagi karena letusan yang lebih besar ataupun abu vulkanik yang mengepul kembali ke arahnya.

Namun tidak bagi beberapa orang. Mereka justru sangat tertantang untuk melakukan perjalanan ke Bali. Baginya ini merupakan paket wisata yang sangat langka. Menyaksikan letusan gunung dahsyat di pulau syurga.

“Sungguh indah, saya menyukai kekuatan mereka,” kata Levitin, seorang wisatawan berusia 39 asal Rusia dilansir dari DailyMail.

Menurutnya, kita sebenarnya hidup pada apa yang pada dasarnya merupakan semangkuk besar magma dengan kerak yang sangat tipis. Bahkan tempat yang kita sebut rumah sebagian besar cukup panas untuk membuat kita menguap kita dalam sekejap.

Letusan besar Gunung Agung terakhir kali pada tahun 1963 yang membunuh sekitar 1.100 orang dan kawasan di sekitar gunung berapi tersebut tidak ditinggali penduduk selama lebih dari setahun.

Andri Cipto Utomo (35), seorang fotografer di kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bertugas sebagai pemburu foto Gunung Agung saat sedang erupsi.

Bukanlah perkara yang mudah mendapat foto dengan sudut pengambilan yang baik disaat bencana terjadi.

Pada Rabu (29/11) pagi, dia dan timnya menuju Amed. Sebuah daerah di arah Timur Laut dari Gunung Agung. Dari sana, memang puncak gunung terlihat jelas.

Sampai disana dilihatnya justru beberapa fotografer profesional sudah berkumpul dan menjadikan Amed sebagai basis pengambilan foto-foto mempesona keindahan dan kemegahan gunung para Dewa itu.

Tidak puas di sana, mereka bergeser ke Desa Datah di Kecamatan Abang. Daerah itu lokasinya sekitar 3 kilometer dari Amed. Dari sana, puncak Gunung Agung dan kepundannya yang mengepulkan uap putih dan abu kelabu terlihat jauh lebih jelas. Sementara itu, di latar depan adalah perkebunan warga yang ditanami beraneka tumbuhan, kandang, dan peternak yang masih asyik beraktivitas. Kombinasi keduanya kemudian menjadi satu pemandangan tersendiri yang sangat mempesona.

Disana pun mereka sudah bertemu dengan dua orang turis yang secara sengaja ingin menyaksikan letusan Gunung Agung dari dekat.

Andri Cipto Utomo menceritakan saat bertemu para wisatawan itu. Namanya Angus (19) dari Sydney Australia dan pasangannya Lexy (19). Mereka sengaja meluangkan waktu pagi-pagi buta ke Datah untuk menjadi saksi kemegahan Gunung Agung yang sedang punya gawe.

“Ini sangat menarik, kita tidak pernah tahu kapan lagi akan menyaksikan peristiwa semegah ini.” Kata Angus bersemangat.

Sebelum memberanikan diri menuju ke lokasi tersebut, keduanya terlebih dahulu mencari berbagai informasi terkait aktivitas Gunung Agung. Mereka telah memahami zona bahaya 8 dan 10 kilometer.

“Kamu tak mungkin melewatkan peristiwa sebesar ini. Informasi banyak tersedia terutama di internet mengenai Gunung Agung.” Angus menjelaskan dari mana sumber informasi yang dia dapatkan.

Berkenaan dengan ditutupnya bandara, mereka tak khawatir. Kendati jadwal penerbangannya Kamis pagi dan posisi saat itu bandara masih tutup, dia bilang semua sudah dijamin oleh asuransi.

Beberapa hal yang barangkali perlu dilakukan oleh Angus dan Lexy adalah persiapan menghadapi letusan. Mereka sudah mengenakan pakaian lengan panjang, namun belum mempersiapkan masker dan penutup kepala. Mereka pun belum mengetahui aplikasi Cek Posisi Anda yang membantu khalayak untuk mengetahui lokasinya terhadap zona bahaya Gunung Agung.

Mereka mencoba berbagi informasi persiapan menghadapi erupsi Gunung Agung termasuk kelengkapan masker dan perangkat lainnya, juga mensosialisasikan penggunaan aplikasi Cek Posisi Anda. Tak lupa, Angus diminta membuat video pendek untuk menjelaskan kepada dunia bahwa Bali aman untuk wisatawan asal tidak memasuki zona bahaya yang telah direkomendasikan.

Seorang tokoh pariwisata muda yang juga termasuk bagian dari anggota tim 10 percepatan destinasi pariwisata, Kementrian Pariwisata Republik Indonesia, Taufan Rahmadi berpendapat mengenai fenomena ini. Menurutnya saat ini ditilik dari sudut pandang pariwisata mungkin seolah tidak menguntungkan, tapi bila dikemas dengan baik, ini bisa menjadi momentum langka selain event yang memang diciptakan.

Diakuinya hal ini cukup riskan, karena ditengah susana bencana yang berkecamuk, hal itu dimanfaatkan sebagai ajang promosi pariwisata.

“Sensitif, namun bisa sangat baik, untuk membantu ekonomi dan mempertahankan brand pariwisata Bali,” jelasnya kepada kicknews, Minggu (3/12).

Yang penting menurutnya, masyarakat dan para wisatawan paham tentang resiko perjalanan yang dilakukannya. Misalnya memahami tentang zona aman dan kelengkapan apa saja yang dibawa ketika akan berwisata “adrenalin” menyaksikan fenomena langka meletusnya Gunung Agung.

“Yang penting jangan dekati zona merah dan ikuti petunjuk dari pihak berwenang seperti BNPB,” tegasnya.

Reporter : Angger Rico Winanda

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat