in

Iman yang Indah Mempesona Dibalik Maulid Nabi SAW

Ilustrasi Maulid Nabi

kicknews.today – Kamis (30/11) malam bertepatan dengan tanggal 12 Rabi’ul Awwal 1429 Hijriyah, merupakan malam yang sakral, malam yang sangat mulia untuk merefleksikan diri, malam untuk bersimpuh di hadapanNya, malam yang sangat khusyu’ bagi umat Islam untuk memperingati kelahiran nabinya, Sayyidul Anbiya’ Rosulullah “Muhammad SAW”.

Malam untuk rindu dengan kekasih tercinta “Muhammad SAW”, malam dimana penuh lantunan ayat-ayat suci, serta puji-pujian untuk sang kekasih “Muhammad SAW”, malam meleburkan dosa-dosa ke-AKU-an yang sudah mengkristal di dalam nurani.

Malam dimana penuh renungan hikmah yang suci sehingga manusia kembali pada posisinya, kembali pada jati dirinya sebagai manusia yang santun, manusia yang berbudi luhur, manusia yang lemah lembut, manusia yang bersaudara, serta manusia yang bisa mengayomi sesama, bukan manusia sebagai Tuhan merasa mampu, merasa berkuasa, merasa hebat, serta merasa memiliki.

______________________________________________

Memasuki bulan Rabiul Awal, umat Islam merayakan hari kelahiran Nabi SAW dengan berbagai cara, baik dengan cara yang sederhana maupun dengan cara yang cukup meriah. Pembacaan Shalawat, Kitab – Kitab sirah Nabawiyah dan pengajian pengajian yang mengisahkan sejarah Nabi SAW menghiasi hari-hari bulan itu. Inilah salah satu tanda kecintaan kita kepada baginda Rasulullah SAW.

Adapun bagi para pencinta Rasulullah SAW, dikutip dari berbagai sumber, Allah akan menganugerahkan:

  1. Digabungkan bersama sang kekasih “Muhammad SAW”.

Secara ruhaniyah di dunia dan secara hakiki di akhirat. Prinsipnya sama seperti bila kita mencintai sesuatu, yaitu akan ada pembenaran atas apa yang diajarkan oleh yang kita cintai, perilaku, pikiran, perasaan dan tindakan juga sangat dipengaruhi oleh apa dan siapa yang kita cintai.

“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat Allah, yaitu Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya” (QS. An-Nisa : 69).

  1. Merasakan kelezatan Iman.

Lezatnya iman mungkin bisa diilustrasikan dari kisah sahabat Bilal bin Rabbah. Terkisah, segera setelah Rasulullah SAW wafat, Bilal tidak mau lagi mengumandangkan azan. Beberapa hari angkasa Madinah tidak mendengar lengkingan suara Bilal.

Atas desakan Fatimah az-Zahrah, putri Nabi SAW saat jelang Shubuh, Bilal mengumandangkan azan Subuh. Seluruh Madinah terguncang. Bilal memulai dengan lafaz “Allahu Akbar”, lalu dilanjutkan kalimat syahadat yang pertama.

Begitud ia ingin menyebutkan kalimat syahadat kedua, suara Bilal tersekat dalam tenggorokan. Ia berhenti padalafaz  “Muhammad” dan setelah itu terdengar tangisannya meledak diikuti tangisan Fatimah dan seluruh penduduk Madinah al-Munawarrah. Ikrar iman dalam ucapan syahadat membuat rasa rindu semakin terasa lezat.

Rasulullah saw bersabda “Ada 3 hal yang bila ada semuanya pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman.

Pertama, Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari apapun selain keduanya. Kedua, ia mencintai semata-mata karena Allah.

Ketiga, ia benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya seperti ia benci untuk dilemparkan kedalam api neraka.” (Shahih al-Bukhari)

  1. Anugerah kecintaan dari Allah SWT

Karena Muhammad SAW adalah makhluk yang paling dicintai Allah SWT. Siapapun yang mencintai Nabi, menyayangi, merindui kekasih Allah, tentu akan mendapat pula kecintaan dari Allah SWT.

  1. Balasan cinta Rasulullah SAW

Tidak ada pencinta Muhammad yang bertepuk sebelah tangan. Dalam sebuah riwayat diceritakan, betapa Rasulullah SAW merindukan pertemuan dengan umat yang mencintainya.

Terkisah pula, pada detik-detik Nabi SAW menjelang wafat, sahabat Ali (Karramallahuwajhah) mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

Ummati, ummati, ummati’ (umatku, umatku, umatku). Itulah kata yang terlontar dari bibir mulia Muhammad.

Betapa cintanya beliau pada umatnya. Akankah kita membalas cintanya dengan menyebut nama beliau di sisi Allah SWT menjelang ajal kita?

  1. Mendapatkan syafaat (pembelaan)-nya yang agung.

Bantuan Nabi SAW dengan izin Allah untuk meringankan dan bahkan menghapuskan hukuman bagi para pendosa, bukannya tidak mungkin seseorang bisa masuk surga tanpa dihisab bila pembelaan Rasulullah SAW diterima oleh sang Khaliq.

Ketika menjelang bulan Maulid Nabi, apakah kita akan merasa santai seakan-akan sama saja seperti hari yang lain?

Apa kita bersikap lebih pasif atau berdiam diri saja dalam menyambutnya dibanding umat nasrani yang begitu antusias menyambut Natal sebagai kelahiran Nabi Isa as?

Betapa mereka menyambutnya dengan kidung natal menggema di mana-mana, di gereja-gereja hingga artis-artis mancanegara.

Ucapan selamat natal dalam berbagai bentuk dari mulai kartu, email, poster, billboard, hingga acara radio, tv, bioskop, internet, hiasan-hiasan pohon natal, dan lampu-lampu yang meriah.

Bahkan promosi dan diskon besar-besaran toko dan hypermarket yang saling berlomba, kembang api, lonceng berdentang-dentang, acara-acara yang semarak baik di pertokoan, restoran, perkantoran hingga ke pelosok rumah-rumah kecil di berbagai belahan dunia?

Apa kita tidak tergerak untuk lebih bersuka-cita pada hari mulia, Maulid Nabi SAW?

Hari kelahiran junjungan kita yang demikian mulia, lahirnya seorang utusan Allah SWT ke dunia yang membawa perubahan besar dan sangat fenomenal dalam tatanan hidup kita. Sebuah ajaran yang akan membawa kita untuk ditempatkan di tingkat yang tinggi dan dicintai oleh sang Khaliq.

Awal dari revolusi akhlak yang teramat benar. Sebuah hari yang sungguh teramat penting, hari yang begitu luar biasa terang benderangnya bagi alam semesta.

Subhanallah . . .

Bila kita kaji lagi apa yang bisa kita peroleh jika menempatkan Sang Pembaharu ‘Muhammad SAW’ pada urutan pertama di hati, maka kita akan mendapatkan “iman yang begitu indah mempesona”.

 

Reporter: M Tajir Asyjar el-Panjalasy