Jadilah yang Pertama Tau

Rekomendasi Merawat Wisatawan saat Bencana Gunung Agung

Oleh: Taufan Rahmadi

 

Gunung Agung adalah salah satu objek wisata di Bali yang cukup terkenal. Berada di ketinggian 3.014 meter diatas permukaan laut (dpl), Gunung ini diyakini sebagai tempat bersemayamnya roh para leluhur umat Hindu Bali.

Tepat di kakinya, terletak Pura Besakih, sebuah situs pemujaan terbesar di Pulau Bali yang sangat disakralkan oleh umat Hindu. Jika dilihat dari Pura, puncak Gunung Agung tampak seperti kerucut runcing yang sempurna. Sangat indah, meskipun keadaan puncaknya sendiri sebenarnya berbentuk memanjang dan berakhir pada kawah yang melingkar dan lebar.

Saat ini Gunung Agung yang cantik itu tengah berada dalam situasi yang kritis. Karena bisa terjadi erupsi sewaktu-waktu, pemerintah menetapkan status Awas pada kawasan gunung ini.

Gunung Agung merupakan salah satu gunung aktif di Pulau Bali. Keadaan ini mengingatkan publik atas letusan pada tahun 1963 yang berlangsung sekitar satu tahun. Pada waktu itu, sistem mitigasi bencana belum seperti sekarang. Persiapan pengungsian tidak dilakukan sehingga ribuan warga tewas. Erupsinya mengakibatkan kehancuran yang cukup parah, terutama di Kabupaten Karangasem.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah pengungsi lebih dari 17 ribu orang hingga hari ini. Pengungsi juga telah tersebar di 139 titik di sembilan kabupaten. Situasi ini mau tidak mau tentu dapat berdampak pada pariwisata di Bali, pulau dengan tingkat kunjungan wisatawan paling tinggi di Indonesia.

BNPB memastikan, Gunung Agung belum meletus namun area dalam radius 12 km harus disterilkan. Itu bukan sesuatu yang sederhana mengingat Pulau Bali adalah destinasi wisata utama. Ada berapa banyak wisatawan yang harus diperhatikan pergerakannya agar tak menerima dampak buruk situasi rawan bencana ini?

Situasi hari ini menunjukkan, Indonesia harusnya memiliki standar operasi prosedur (SOP) pariwisata ketika terjadi ‘force majeur’. Seperti dalam hal transportasi, sektor yang erat dengan pariwisata, Indonesia tidak bisa lagi tergantung 100 persen kepada transportasi udara untuk membawa wisatawan menuju destinasi-destinasi wisata di Indonesia.

Mengapa demikian? Belajar dari penutupan airport yang terjadi berkali-kali di beberapa bandara karena ‘force majeur’, pemangku kepentingan pariwisata harus segera menempuh strategi baru. Terutama dalam “mengondisikan psikologis” wisatawan.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memang menjelaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan lima bandar udara untuk mengantisipasi potensi gangguan penerbangan di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai Bali akibat aktivitas Gunung Agung yang mengkhawatirkan dan sulit diprediksi itu.

Kendati berharap Gunung Agung tidak meletus agar tidak mengganggu penerbangan dan sektor pariwisata di Bali, tentu saja persiapan menjadi sangat penting. Walaupun sejauh ini, penerbangan di Bali masih normal kendati terjadi peningkatan aktivitas Gunung Agung, namun upaya menggiring opini bahwa bukan hanya pesawat udara yang mampu membawa publik ke sebuah tujuan wisata yang sudah direncanakan, tetap harus ada.

Para wisatawan memerlukan alternatif moda transportasi lain yang tidak kalah “fun“ dan “safe“ yang dapat dipilih. Dengan kata lain, ditutupnya bandara sebagai dampak dari sebuah bencana seperti meletusnya sebuah gunung berapi, seharusnya bukanlah mimpi buruk dan berarti penundaaan berwisata bagi para calon pelancong yang tak jarang telah merencanakan perjalanannya sejak jauh-jauh hari.

Ditutupnya Ngurah Rai Airport dan Bandara Internasional Lombok dalam kasus letusan Gunung Barujari di NTB, beberapa waktu lalu, adalah sebuah contoh nyata dan pelajaran berharga. Dalam kasus itu, secara jelas terlihat bagaimana pergerakan para wisatawan akhirnya dapat diprediksi setelah disodori sejumlah alternatif moda transportasi.

Diantara mereka, ada yang mengambil jalan darat dan laut artinya terus melanjutkan perjalanan menuju daerah tujuannya. Meski memang ada juga yang tetap memilih membatalkan kunjungannya dan pulang.

Saya lantas tergelitik untuk melakukan sebuah riset kecil, bertanya pada sejumlah wisatawan yang kebetulan sama-sama mengalami nasib “ terjebak “ di airport, apakah situasi yang buruk tersebut menjadi alasan mereka membatalkan kunjungan? Dari jawaban-jawaban mereka, saya mengambil kesimpulan bahwa ada dua alasan yang paling utama.

Pertama, mereka merasa tidak aman bepergian di saat ada “ bencana alam“ di sebuah destinasi wisata. Lalu yang kedua, mereka melihat terbatas dan sulitnya mengakses informasi tentang alternatif tranportasi lain yang bisa menjadi pilihan yang nyaman bagi mereka untuk melanjutkan perjalanan.

Padahal, untuk kasus pariwisata di Bali, masih ada moda transportasi lain yang memiliki kelebihan. Seperti, fastboat yang melayani rute Padang Bai Bali menuju Teluk Nare Lombok. Berdasar informasi yang didapat dari Dinas Perhubungan setempat, bahwa ada sekitar 20 armada fastboat yang beroperasi di dalam melayani rute ini dengan kapasitas rata-rata 75 penumpang, dengan tarif per penumpang antara Rp200-250 ribu.

Fastboat ini menempuh waktu sekitar 1,5 Jam. Rasanya pun cukup nyaman ditambah dengan keindahan pemandangan garis pantai Bali–Lombok. Jika beruntung, kita akan bertemu kawanan lumba-lumba yang bisa dinikmati selama perjalanan.

Dari sisi komersial ataupun nilai ekonomi, dapat dianalisa bahwa fastboat ini memiliki hitung-hitungan kasar, 20 armada dikali 75 penumpang (one way) dikali 6 (frekuensi) dikali Rp250.000. Hasilnya Rp. 2.250.000.000 per hari. Jika jumlah omset ini dibagi rata dengan 20 boat, maka omset rata per boat per hari, akan ketemu jumlah Rp112.500.000, bisnis yang cukup menggiurkan.

Tidak berhenti di situ. Jika 20 armada fasboat tadi rata-rata membawa 75 penumpang saja, maka 20 dikali 75 penumpang dikali 3 sama dengan 4500 penumpang per hari. Jika kita asumsikan 4000-nya adalah wisatawan yang rata-rata lama menginap di Gili ataupun di Lombok adalah 3 hari, dengan rata-rata menghabiskan $200 per hari, maka akan di dapat 4000 dikali 3 hari dikali $200 sama dengan $2.400.000. Ini baru bicara tiga hari masa kunjungan. Kita belum berhitung perputaran wisatawan yang terjadi selama satu bulan? Lalu satu tahun? Angka yang WOW!

Sengaja saya tulis ini dengan mengemukakan hitung-hitungan komersial di atas. karena bagaimana pun saat berbicara tentang pariwisata, tidak terlepas dari nilai-nilai ekonomi dan bisnis yang mengikutinya. Daripada harus bermuram durja, sudah saatnya kita memikirkan strategi jitu untuk mengatasinya.

Pemerintah juga harus merangsang swasta melakukan pengembangan bisnis transportasi pariwisata selain transportasi udara yang sesuai standarisasi keamanan dan kenyamanan. Caranya, dengan memberikan kemudahan perizinan, insentif dan lain-lain. Lalu, memperkuat sosialisasi dan informasi tentang moda transportasi alternatif yang tidak kalah fun dan nyaman di dalam berwisata.

“Dari sisi swasta, sudah jelas dunia pariwisata yang terus berkembang ini adalah sebuah kesempatan memperlebar jangkauan bisnis yang dimiliki. Sudah terbukti, bisnis pariwisata adalah bisnis yang teruji bertahan pada situasi krisis.

Penulis adalah anggota tim percepatan 10 destinasi pariwisata prioritas / PIC Mandalika Kemenpar RI

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat