BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Ibu Hamil Nekad Mendaki Rinjani bikin gereget, berikut kisahnya….

Muhammad Reza Indrabudi saat mencium perut istrinya Ika Afrianita dengan latar Danau Segara Anak. (Foto : @reiiiza)

 

kicknews.today – Tentu bukan perkara mudah mendaki gunung dalam keadaan sang istri yang tengah hamil.

Muhammad Reza Indrabudi dalam tulisan yang diunggah akun Instagram @mountnesia,  ia dan istrinya, Ika Afrianita harus melakukan persiapan ekstra sampai benar benar yakin akan mendaki. Dari mulai cek kandungan untuk mengetahui kondisi si jabang bayi, membawa logistik yang bergizi, vitamin, sampai membawa kasur dan bantal angin lengkap dengan pompanya.

Bagaimana kisahnya?  Setelah memastikan kondisi kesehatan istrinya memungkinkan, mereka bersama empat temannya, melalukan pendakian pada tanggal 22 Oktober. Start dari Sembalun Lotim Pukul 14.00 Wita. “Dengan jalan santai, kami finish  dan  camping di Pos 2 pukul 07:20 WITA,” kata Reza.

Pagi hari setelah sarapan dan beres beres, rombongan melanjutkan pendakian, trek semakin sulit setelah melewati istirahat di pos 3. Setelah itu menuju Pelawangan melewati bukit penyesalan dan sempat mengalami kehabisan persediaan air.  Tapi beruntung mereka diberi air oleh porter yang melintas dan pendaki lainnya karena melihat istrinya  yang sedang hamil.

Tim sempat istirahat berkali kali di jalur ini, karena medan yang terjal dan menanjak seperti tak ada ujungnya.

“Setiap langkah istri saya selalu menahan perut dengan tangannya agar tidak ada goncangan. Wajah kelelahan sudah tampak jelas dan saya hanya berdoa semoga tidak terjadi apa apa terhadap istri dan calon anak saya,” katanya berharap.

Ika dan Riza

 

Saat hujan, mereka hanya berteduh mengunakan jas hujan dan plastik sampah yang dibentangkan di atas kepala. Semua menggigil kedinginan, karena sulit mendirikan tenda di bukit ini lantaran kemiringan yang tidak memadai.

sempat ada kecemasan di benaknya melihat istri dan calon anak saya, di tengah hutan dan hujan lebat.

“Setelah melewati guyuran badai, singkat cerita akhirnya kami sampai di Pelawangan dengan susah payah dan badan bergetar pukul 17:50 WITA. Perjalanan kami kurang lebih 10 jam dari pos 2 ke Pelawangan,” katanya.

Dini hari pukul 02.00 WITA tim  memutuskan untuk summit ke puncak 3.726 mdpl tanpa Istri Reiza yang sedang hamil karena bahaya jika melihat trek yang ekstrim menuju puncak.

Keesokan harinya setelah summit  berhasil.

Tim pun turun menuju Segara Anak. Lagi lagi disuguhi jalur yang ekstrim berbatu dan tebing curam. Perlahan tapi pasti ditambah, Ika pun mampu melewatinya dengan tempo yang lambat dan tanggan yang menahan perut.

Sekitar empat jam menghabiskan waktu dari Pelawangan menuju Segara Anak, rombongan berkemah semalam menikmati keindahan Segara Anak.  Instrinya tak mau kalah. Pose dengan perut buncit sebagai ekspresi rasa syukurnya sudah sampai di Segara Anak.

Ketika akan kembali,  sulit bagi rombongan membayangkan sambal membawa perempuan hamil melewatin jalur kembali ke Plawangan Sembalun.

Tapi beberapa porter melarang lewat Senaru karena lebih terjal. Larangan lainnya tidak boleh medirikan tenda di sepanjang jalur Senaru setelah pos 3 sampai gerbang, katanya mistis.

Setelah dipertimbangkan, sepakat ikut jalur Senaru dengan alsan lebih singkat waktunya.

Mereka pun melanjutkan perjalanan turun pukul 08:20 WITA.

Dan hasilnya?. “Sumpah kacau jalurnya, lebih terjal bener kata porter.

Tapi banyak yang membantu kami dari sumbangan logistic dan air untuk istri saya sampai seseorang perempuan yang mau menuntun istri saya jalan setelah sempat terjatuh di terjal bebatuan. Kejadian yang membuat semua panik kerena istri saya terjatuh,” tuturnya.

Namun ia bersyukur, tidak terjadi hal yang serius. Sempat kemalamam di hutan Senaru dan terpisah dengan dua anggota yang lebih dulu turun.

Dengan berbekal senter dan makanan ringan, melanjutkan perjalanan bersama empat orang.  Hanya dzikir dan doa yang menenangkan batinnya dan istrinya,  di tengah kegelapan hutan  dan dinginnya hawa gunung.

Sempat berfikir mereka terakhir yang melewati jalur itu, namun ketika sampai pos dua  Senaru, tidak lama kemudian banyak pendaki yang sedang turun juga bahkan ada yang membawa anak Balita juga.

“Kami tertolong dengan ke ramahan mereka. Akhirnya kami bersama turun di gelap malam dan dinginnya hutan Senaru. Dan akhirnya dengan terseok seok  dan punggung yang sudah sangat pegal, Alhamdulillah kami ber empat berhasil keluar pintu Senaru pukul 23.15 WITA. Hampir 15 jam kami berjalan. Keberhailan kami bukan tolak ukur untuk pendaki wanita yang sedang hamil.

Keberhasilan kami pun tidak lepas dari bantuan orang banyak yang menolong kami,” kenangnya.

Penutup ceritanya, Reza memberi saran, agar jangan nekad melakukan pendakian dengan keadaan hamil. Kalau pun tetap nekad, semua harus dipersiapkan dengan matang. (red)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About Redaksi kicknews.today

Dalam Kategori Ini

Bukit Sembalun Kawasan TNGR Terbakar

  kicknews.today – Bukit Sembalun yang masuk kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) terbakar Senin ...