BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Siapa Sebenarnya “Koboi dari Sumbawa” yang Diusulkan jadi Pahlawan Nasional itu?

Koboi dari Sumbawa, Laksamana Madya TNI, H. L. Manambai Abdulkadir

 

kicknews.today – “Koboi dari Sumbawa” adalah julukan yang disematkan oleh Bung Karno, Presiden pertama Republik Indonesia untuk Laksamana Madya TNI, Haji Lalu Manambai Abdulkadir.

Beliau adalah salah satu putra terbaik NTB yang tergores dalam sejarah ikut andil besar dalam perjuangan melawan penjajah hingga fase mempertahankan kedaulatan kemerdekaan Republik Indonesia.

Saat ini, setelah goal memperjuangkan Almagfirullah TGKH Zainuddin Abdul Madjid hingga dinobatkan sebagai pahlawan nasional, kini NTB tengah mempersiapkan Laksamana Madya Manambai Abdulkadir untuk diusulkan meraih gelar kehormatan tersebut.

“Semuanya dalam proses, usulannya belum sampai ke Kementerian Sosial, baru dalam rangka memenuhi persyaratan administrasi saja,” ungkap salah seorang anggota DPRD NTB, asal pulau Sumbawa, Nurdin Ranggabrani, belum lama ini merujuk pada persiapan pengusulan gelar pahlawan nasional sang “Koboi dari Sumbawa”.

Sedikit sejarah tentang Laksamana Madya TNI H.L Manambai, dimana tanggal 28 November 1928, tepatnya 80 tahun yang lalu, seorang putra bangsa dilahirkan oleh kedua orangtuanya, H. Lalu Tunruang (Adipati Kesultanan Sumbawa) dan Hj. Lala Siti Zubaidah. Bayi laki-laki itu diberi nama kesayangan, Anam, atau lengkapnya, Lalu Manambai Abdulkadir.

Anam kecil inilah yang kemudian tumbuh dan berkembang, dalam lingkungan keluarga yang hangat dan saudara-saudaranya yang begitu saling mengasihi. Diantaranya Lala Siti Misbah L. Cong, H. Lalu Madilaoe ADT. (Mantan Bupati Sumbawa, Periode 1960-1965, 1979-1984, dan 1984-1989), H. Lalu A. Azis LT. (Mantan Ketua DPRD Sumbawa, Periode 1971-1977), Hj. Lala Siti Atikah LT, BA. (Mantan PNS dan Mantan Anggota DPRD Sumbawa, Periode 1967-1971) serta Hj. Lala Siti Fatimah LT. Alwi Zain (Mantan Anggota DPRD Sumbawa, Periode 1987-1992 yang juga seorang wiraswastawan).

Sejak kecil, Manambai Abdulkadir telah menunjukkan jiwa kepemimpinan yang cukup menonjol dibandingkan anak seusianya.

Dengan kepribadian yang sangat kuat, Anam kecil pada usia sangat belia, sekitar usia 6 tahun, sudah dikirim oleh kedua orangtuanya untuk menempuh pendidikan HIS/ELS di Bima. Yang mana pada waktu itu jarak Bima-Sumbawa dapat ditempuh hingga 7-8 hari perjalanan dengan mengendarai kuda, melalui jalan setapak.

Setelah menamatkan HIS/ELS di Bima-Mataram (1934-1941), Manambai melanjutkan Pendidikannya setingkat SMP di Surabaya.

Di kota Pahlawan inilah, Manambai kemudian bersentuhan dengan para aktifis pergerakan kemerdekaan yang kemudian bergabung menjadi anggota TRIP Jawa Timur dibawah pimpinan Mas Isman, pada tahun 1941 hingga 1944. Tahun 1944, Manambai muda melanjutkan pendidikannya ke SMA dan pindah ke Yogya dan Cirebon. Di kota yang baru ini pula, Manambai menemukan komunitasnya sebagaimana kelompok pemuda-pelajar pergerakan kemerdekaan di Surabaya, Jawa Timur.

Karena jiwa kepemimpinannya yang sangat menonjol, tak lama kemudian, Manambai didaulat oleh rekan muda seperjuangannya, menjadi Komandan Gerilyawan Kemerdekaan Republik Indonesia, Pangkalan III Cirebon. Hingga kemerdekaan Indonesia diproklamirkan oleh Bung Karno di Jakarta, pada tgl 17 Agustus 1945.

Setelah proklamasi kemerdekaan, kondisi politik Indonesia semakin mengalami tekanan dari penjajah. Dengan tekad untuk membela kemerdekaan yang telah diproklamasikan itulah, Manambai Abdulkadir memutuskan untuk kembali ke medan perjuangan dengan masuk sebagai Taruna Angkatan Perang, dengan Pangkat Calon Letnan.

Dari seorang Calon Letnan pada tahun 1946 itulah, perjalanan Manambai ditapaki di jalur militer (Angkatan Laut) hingga purna-tugas tahun 1983 dengan pangkat terakhir Laksamana Madya TNI (Bintang Tiga).

Bersama isteri tercintanya, (Almarhumah) Hj. Felicitas Abdulkadir, H. L. Manambai Abdulkadir dikaruniai 6 (enam) orang permata hati, yaitu H. Hanny Firmansyah Abdulkadir (Wiraswastawan, tinggal di Jakarta), Kemudian, Dr. Ade Elaine Farida Maharani Abdulkadir (Wiraswastawan, tinggal di Norwegia), H. Andi Firmansyah Abdulkadir (Pengusaha, tinggal di Jakarta), AKBP. Drs. H. Iwan Rahmansyah Abdulkadir, DIS. (Perwira Menengah Mabes Polri, di Jakarta), dan Erwin Zulkarnainsyah Abdulkadir (Almarhum), serta Yulian Ahmadsyah Abdulkadir (Almarhum).

Selama di TNI Angkatan laut, Lalu Manambai Abdulkadir, telah menempati berbagai posisi strategis, baik penugasan di laut maupun di darat. Mulai dari Komandan Komando Jenis Kapal Selam (Dankojenkasel), Panglima Armada (Pangarma) Laut Republik Indonesia, hingga Deputy Kepala Staf Angkatan Laut (DEKASAL) Republik Indonesia.

Tugas negara yang cukup heroik dan monumental adalah ketika Komodor Laut (Bintang Satu), Manambai Abdulkadir ditugaskan sebagai Komandan Komando Satgas Kapal Selam Armada Laut Republik Indonesia dalam Operasi Mandala dalam rangka Pembebasan Irian Barat bersama Komodor Laut, Yos Sudarso. Yang dalam operasi itu, KRI. Macan Tutul (yang dipimpin Yos Sudarso), dibom oleh Belanda, dan Komodor Laut, Yos Sudarso pun gugur di laut Arafuru.

Tugas negara lainnya adalah, ketika Presiden RI Pertama, Bung Karno menugaskannya untuk menjemput Kapal Selam hasil kerjasama Pemerintah Uni Sovyet dan Pemerintah Indonesia ke Polandia pada tahun 1958, yang mengantarkan Manambai sebagai Putra Indonesia pertama, yang mendapatkan Sertifikasi Kualifikasi Pendidikan Kapal Selam dan Pelatihan Persenjataan Bawah Laut, dengan predikat kelulusan terbaik, “Summa Cumlaude” (Sangat Terpuji).

Setelah melalui pendidikan selama 1,5 tahun (1958-1959), di Sekolah Komandan Kapal Selam Angkatan Laut Polandia. Pengakuan yang sama diberikan oleh Angkatan Laut Amerika Serikat, dengan menganugerahkan Submarine Qualificatio Certificate (Sertifikat Kualifikasi Kapal Selam), kepada Laksamana Madya TNI. H. L. Manambai Abdulkadir, yang ditanda-tangani dan diserahkan oleh Komandan Komando Kawasan Pasifik Angkatan Laut Amerika Serikat (Commander US Navy In Chief Pacifik), Admiral Jhon S. McCain Jr, pada tanggal 21 November 1968. (Sekarang Senator Jhon S. McCain, Mantan Calon Presiden AS).

Tak heran bila sekembali dan setibanya di Indonesia, dengan membawa Kapal Selam bantuan Pemerintah Uni Sovyet tersebut, tidak kurang dari Presiden Republik Indonesia/Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia (PANGTI APRI), Bung Karno (yang sering menjulukinya “Koboi dari Sumbawa”), dan Panglima Operasi Mandala, Mayor Jenderal TNI. Soeharto, waktu itu menjemputnya langsung di atas Kapal Selam, yang kemudian diberi nama KRI Nanggala 402.

Selain tugas tersebut di atas, Laksamana Madya TNI. H. L. Manambai Abdulkadir pernah ditugaskan sebagai Komandan Komando Satuan Tugas Khusus RI di Pakistan, Panglima Armada Latgab ALRI dengan Angkatan Laut Australia, Panglima Armada Latgab ALRI dengan Angkatan Laut Pakistan dan Panglima Armada Latgab ALRI dengan Angkatan Laut India, serta tugas-tugas penting-strategis lainnya.

Selama rentang pengabdiannya kepada bangsa dan negara, Laksamana Madya TNI. H. L. Manambai Abdulkadir dianugerahi 23 buah Bintang Tanda Jasa dan Bintang Kehormatan dari negara serta mendapat kepercayaan dari Pemerintah diberbagai jabatan penting dan strategis. Baik dalam Korps Angkatan Laut dan Kesatuan TNI maupun dalam jabatan sipil-kekaryaan lainnya.

Reporter: Suparman

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About redaksi kicknews.today

Dalam Kategori Ini

Suhaili Pimpin Tasyakuran Gelar Pahlawan Nasional Maulana Syeikh

  kicknews.today – Gelar pahlawan nasional yang diberikan kepada TGKH Zainuddin Abdul Madjid oleh Presiden ...