BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Penelusuran Sejarah Laksamana Malahayati yang Pewarisnya Tinggal di Lombok

 

Sekitar 2 tahun yang lalu, tepatnya pada tgl 29 Desember 2015, dalam perjalanan keliling Nusantara dengan sepeda motor, saya menyempatkan diri ziarah ke makam Keumalahayati, perempuan pejuang Aceh abad ke 16.

Lokasinya cukup tersembunyi, sekitar 40 km dr Kota Banda Aceh. Sayapun sempat tersesat dan jatuh terguling di jalan berlumpur.

Makam tersebut berada di sebuah bukit yg dikelilingi hutan lebat. Dahulu konon makam itu sering dijadikan sebagai tempat pembaiatan anggota GAM perempuan, sampai akhirnya kepemilikan seluruh areal tersebut beserta hutan gunung di sekitarnya di’rampas’ dan diserahkan kepada keluarga Cendana sebagai ‘tukon’ jabatan petinggi militer zaman orde baru.

Menyambut hari Pahlawan 10 Nopember 2017, Pemerintah RI melalui presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar pahlawan Nasional kepada empat putra terbaik bangsa yakni TGKH Muhammad Zainuddin Abd Majid dari Lombok (NTB), Laksamana Malahayati (Keumalahayati) tokoh asal Nanggroe Aceh Darussalam, Sultan Mahmud Riayat Syah tokoh asal Kepulauan Riau, dan Lafran Pane tokoh asal Daerah Istimewa Yogyakarta.

Penghargaan tersebut diberikan Presiden kepada para ahli waris di istana Negara pada 9 Nopember 2017.

Salah satu penerima penghargaan tersebut Ahli waris Kesultanan Aceh, Sultanah Putroe Safiatuddin Cahaya Nur’alam ternyata tinggal di Lombok. Tepatnya di Jl. Kesra Sekarbela Kota Mataram .

“Saya tidak lagi di Aceh. Saya sejak 2008 ikut anak bungsu saya ke Lombok Nusa Tenggara Barat,” kata perempuan yang sudah berusia 86 tahun dan duduk dikorsi roda ini kepada para awak media di Istana Negara.

Bagaimana sebenarnya Kisah Kepahlawanan Sultanah Aceh ini sehingga mendapatkan gelar Pahlawan Nasional? Berikut laporan saya :

Sampai akhir abad 16, dibanding Portugis, Spanyol, Inggris dan Denmark, kerajaan Belanda hanyalah kerajaan miskin di Eropa. Mereka tidak memiliki armada dagang yang kuat serta hanya bergantung kepada kerajaan-kerajaan lain disekitarnya untuk memenuhi kebutuhan barang-barang, terutama rempah-rempah di dalam negeri dengan harga yang sangat tinggi.

Hingga akhirnya para pedagang di Amsterdam-pun kehilangan akal dan berniat memburu rempah-rempah sendiri ke sumbernya yang berada di kepulauan Nusantara.

Pada tahun 1592 mereka membiayai Cornelis de Houtman, seorang tentara (pelaut) bayaran ke Lisboa Portugal untuk menemukan sebanyak mungkin informasi mengenai Kepulauan Rempah-Rempah tersebut.

Diperoleh kabar bahwa pusat perdagangan rempah-rempah itu berada di Kesultanan Banten.

Hingga akhirnya pada 2 april 1595, Houtman ditugaskan memimpin ekspedisi ke Banten membawa 4 armada kapal dengan persenjataan lengkap. Itulah ekspedisi pertama Armada Belanda ke Nusantara yang tercatat dalam sejarah.

Meskipun akhirnya De Houtman berhasil kembali ke Belanda, namun ekspedisi selama 3 tahun itu sangat compang-camping. Mereka banyak dihantam persoalan.

Banyak anggota ekspedisi tersebut yang tidak tahan dengan ganasnya perjalanan di Laut. Sebagian mereka melakukan pembangkangan dan dieksekusi mati, hingga terkena penyakit yang mematikan. Belum lagi mereka harus menghadapi perompakan dan pengusiran diberbagai tempat. Dari sekitar 400an awak, akhirnya hanya 87 orang yang tersisa.

Namun demikian ekspedisi itu dianggap sukses besar meskipun tidak banyak barang dagangan yang di bawa pulang. Sebab pelayaran Cornelis De Houtman itulah yang membuka gerbang kemakmuran bagi negeri Belanda hingga abad-abad tak terkira.

Atas kesuksesan tersebut, dua tahun berikutnya Houtman kembali di percaya memimpin lebih banyak lagi armada ke Nusantara. Mereka singgah di Aceh dan bermaksud merebut pintu gerbang perdagangan rempah-rempah Nusantara.

Sebab Aceh yang berada di ujung Paling Barat dari deretan Pulau Rempah-rempah merupakan perlintasan paling strategis untuk menguasai jalur perdagangan. Sementara wilayah lain yang lebih strategis seperti Malaka dan Makassar telah dikuasai oleh pesaing mereka : portugis, spanyol dan inggris.

Mungkin Cornelis De Houtman berpikir akan mudah menaklukkan Aceh. Sebab angkatan lautnya hanya dipimpin oleh Laksmana perempuan.

Tahu apa perempuan, janda pula, soal dunia kelautan yang kejam? Juga soal peperangan dan pertempuran laut?

Mungkin ia berpikir perempuan-perempuan di Nusantara seperti perempuan di eropa pada zaman itu yang lebih gemar bersolek dan bergantung hidup pada laki-laki. Ia tidak tahu jika perempuan Nusantara lebih tangguh dalam hal apapun dibanding laki-laki sangat tangguh dalam segala hal.

Dan Aceh adalah gudangnya petarung handal serta memiliki 2000 pasukan khusus Perempuan yang sangat terlatih bertempur disegala medan. Pasukan itu dipimpin langsung oleh Keumalahayati.

11 September 1599, adalah hari yang paling naas bagi Cornelis De Houtman. Usianya baru menginjak 34 tahun serta memiki karir yang cemerlang. Entah, antara rasa percaya diri yang berlebihan, atau justru karena rasa penasaran yang amat sangat ketika ia mengundang Keumalahayati ke kapalnya.

Perjamuan itu berakhir dengan sangat mengenaskan, Houtman terbunuh dalam sebuah duel satu lawan satu melawan laksamana cantik kesultanan Aceh itu.

Setelah kejadian itu puluhan armada Belanda diobrak-abrik dan dihancur leburkan oleh pasukan khusus kesultanan Aceh yang dipimpin oleh Keumalahayati.

Kabar itu begitu cepat menyebar seantero jagat kelautan. Nama Keumalahayati begitu harum dan terus diperbincangkan oleh semua kalangan, terutama kekuatan-kekuatan militer dari Negara-negara Eropa yang akan mennginvasi nusantara.

Merekapun berpikir lima kali jika ingin mencari gara-gara karena pasti harus melewati perairan aceh jika ingin kembali selamat ke negerinya. Bahkan untuk rekonsiliasi, membangun kembali hubungan baik dengan Kesultanan Aceh, pihak Belanda harus mengeluarkan biaya yang sangat mahal dan mengundang utusan dari Aceh ke negeri mereka.

Bagaimana Angkatan Laut Kesultanan Aceh bias begitu hebat? Dan bagaimana mereka membangun kekuatan laut mereka? Ikuti kisah selanjutnya…. (Bersambung)

Reporter: Paox Iben Mudhaffar

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About redaksi kicknews.today

Dalam Kategori Ini

Jokowi ke Lombok Temui Para Tuan Guru dan Seribu Ulama Nusantara

  kicknews.today – Presiden Joko Widodo menempuh perjalanan ke Lombok setelah merampungkan agenda pertemuan di ...