BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Musim Hujan Menjadi Tradisi Harga Cabai Melonjak di NTB

ilustrasi

 

kicknews.today – Seakan sudah menjadi tradisi ketika musim hujan harga cabai melonjak mencapai ratusan ribu rupiah per kilogram dan yang pasti berdampak terhadap tingginya angka inflasi.

Sementara pada musim kemarau harga komoditas pertanian itu anjlok. Tak jarang mencapai level terendah, bahkan petani mengalami kesulitan menjual cabai yang pada akhirnya mereka menderita kerugian.

Kondisi ini terjadi hampir di seluruh Indonesia, tak terkecuali di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang merupakan salah satu daerah penghasil cabai di Tanah Air.

Karena itu Pemerintah Provinsi NTB mendorong para petani untuk melakukan pengolahan cabai agar bisa mendapatkan nilai ekonomi lebih tinggi ketika harga komoditas tersebut anjlok saat panen raya.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB Husnul Fauzi mengatakan pihaknya mendorong peningkatan ekonomi melalui usaha pengolahan. Bisa dalam bentuk cabai kering yang dibuat jadi abon atau sambal cabai dalam kemasan higienis.

Untuk mewujudkan rencana tersebut Sebagai langkah awal Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB sudah mendistribusikan bantuan alat pengolahan cabai kepada tiga kelompok wanita tani di Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Lombok Timur.

Alat pengolahan cabai menjadi sambal dan produk lainnya tersebut merupakan bantuan dari Kementerian Pertanian tahun 2017.

Husnul mengatakan pembinaan kepada tiga kelompok wanita tani di tiga kabupaten tersebut sebagai embrio untuk memunculkan kelompok pengolahan cabai lainnya.

Ia berupaya untuk tetap mengusulkan agar Kementerian Pertanian memberikan lagi bantuan alat tersebut tahun depan. Upaya tersebut untuk memperbanyak kelompok pengolah cabai,” ujarnya.

Pada musim panen sekarang ini harga cabai cabai rawit segar di tingkat petani hanya Rp4.000 per kilogram. Rendahnya harga komoditas tersebut disebabkan panen terjadi serentak sejak Oktober 2017, sehingga stok di pasaran melimpah, sedangkan permintaannya relatif stabil.

Luas tanam cabai di NTB mencapai 15.000 hektare, yang tersebar di 10 kabupaten/kota, namun sentra produksi terbesar ada di Kabupaten Lombok Timur, dan Lombok Tengah.

Kelebihan produksi Produksi cabai dalam satu hektare lahan rata-rata lima ton, namun total produksi diperkirakan bisa mencapai 95.000 ton pada musim tanam tahun 2017, sedangkan konsumsi di dalam daerah rata-rata 15.000 ton/tahun, sehingga NTB mengalami kelebihan produksi cabai sebanyak 80 ribu ton.

Husnul mengatakan produksi cabai melimpah pada saat musim panen raya, tetapi ketika di luar musim produksi relatif terbatas, itu yang menyebabkan harga bisa mencapai Rp100 ribu per kilogram.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTB Prijono, mengatakan deflasi atau rendahnya harga cabai akibat melimpahnya produksi saat panen raya perlu diatasi dengan mengembangkan industri olahan sehingga petani tidak merugi.

Menurut dia, perlu dilakukan hilirisasi agar nilai ekonomi cabai yang melimpah bisa ditingkatkan.

Untuk mendukung terjaganya stabilitas harga, Bank Indonesia turut andil meningkatkan ketersediaan pasokan komoditas penyumbang inflasi.

Hal tersebut diwujudkan dengan ikut mengembangkan klaster UMKM yang bergerak di sektor pertanian, khususnya tanaman cabai, yang merupakan salah satu komoditas penyumbang inflasi di NTB.

Prijono mengatakan panen cabai ini sejalan dengan tujuan tunggal Bank Indonesia yaitu menjaga stabilitas harga atau yang dikenal dengan inflasi.

Inflasi dapat terkendali apabila pasokan komoditas pangan terjaga. Hal itulah yang mendasari langkah Bank Indonesia untuk ikut serta menanam cabai di Lombok Timur, yang merupakan salah satu sentra produksi cabai terbesar di Provinsi NTB.

Perhatian Bank Indonesia dalam pengembangan klaster cabai ini agaknya tidak berhenti sampai fase panen saja. Bank Indonesia bersama Pemkab Lombok Timur turut memfasilitasi Kelompok Wanita Tani (KWT) Tetu-Tetu untuk mengolah produk turunan (hilirisasi) dari cabai yang telah dipanen.

KWT Tetu-Tetu telah berhasil membuat beragam produk turunan dari cabai seperti sambal, abon cabai, dan saus sambal. Produk-produk tersebut pun telah dipasarkan ke berbagai daerah di Provinsi NTB.

Menurut Prijono, hilirisasi ini penting dilakukan guna mendorong peningkatan nilai tambah dari produk pertanian yang dihasilkan, sekaligus menjawab keresahan yang dialami petani apabila harga komoditas jatuh saat fase panen.

Konsep pengembangan klaster cabai Bank Indonesia pada kelompok Tetu-tetu ini menganut prinsip Halalan Toyiban, di mana seluruh proses penanaman cabai mulai dari pembibitan hingga penanaman dilakukan dengan konsep total organik.

Dengan konsep total organik tersebut, diharapkan produk cabai yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik dan sehat untuk dikonsumsi.

Bank Indonesia juga meresmikan bangunan Rumah Pembibitan untuk pengembangan bibit-bibit organik khususnya untuk tanaman hortikultura seperti cabai, tomat, dan sayur-sayuran.

Rumah pembibitan seluas 200 meter persegi tersebut diharapkan mampu mendukung konsep total organik yang diterapkan dalam pengembangan klaster cabai di Desa Lendang Nangka, mulai dari hulu hingga hilir.

Industri pengolahan cabai kering menjadi abon cabai dan sambal cabai, selain dapat memberikan nilai lebih pada saat harga komoditas tersebut anjlok akan meningkatkan pendapatan petani, sekaligus menekan laju inflasi. (ant)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About Redaksi kicknews.today

Dalam Kategori Ini

Aplikasi Berbasis Online Akan Dipakai NTB Untuk Tekan Permainan Harga, Termasuk Cabai

  kicknews.today Mataram – Pemerintah Provinsi NTB membuat berbagai terobosan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi ...