in ,

Program 6 Jam di Yogyakarta, Ide Kreatif dari Tokoh Muda NTB

Taufan Rahmadi dengan Konsep 6 Jam di Yogyakarta

kicknews.today – “Sekitar 6 jam Yogyakarta berhasil dikuasai kembali dari tangan Belanda pada agresi militer II dalam peristiwa serangan umum 1 Maret 1949. Itulah moment yang dapat dielaborasikan untuk memikat daya tarik wisatawan ke Yogyakarta,” ungkap Taufan Rahmadi.

Tokoh muda asal NTB itu, belum lama ini memberikan simulasi mengenai konsep pariwisata ke Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dihadapan sejumlah pejabat, ia memaparkan sejumlah ide untuk memajukan pariwisata di sana. Mulai dari pembahasan ekonomi kreatif, tourism issue, sampai telling story yang disebutnya sebagai 6 jam di Yogyakarta.

Berbicara tentang sejarah yang dapat diceritakan, peristiwa serangan umum menjadi sebuah gambaran yang tepat. Karena keberhasilan tantara Indonesia kala itu sekaligus menjadi sebuah bukti pengukuhan bahwa Indonesia ternyata masih ada dihadapan dunia internasional. Pun demikian dengan pariwisata, setidaknya pemerintah dan pelaku wisata paling tidak dapat menimbulkan kesan apik dalam 6 jam keberadaan wisatawan.

“Misalnya kalau saya sebagai wisatawan berkunjung ke Yogya, kira-kira saya bisa diberikan apa. Kemudian dikembangkan lagi jika 12 jam dapat apa, dan 18 jam apalagi. Karena semua ini tujuannya leinght of stay wisatawan yang datang,” katanya.

Menurut anggota Tim Percepatan 10 Destinasi Pariwisata Nasional Kementerian Pariwisata ini, Yogyakarta memiliki syarat lebih dari cukup guna membranding diri di mata warga dunia. Beragam produk kreatif, sejumlah talenta warganya yang hebat, sampai destinasi wisata yang tak kalah indah seyogyanya dapat dijual kepada wisatawan. Hanya saja analisa yang ia tangkap, persoalan justru muncul di dalam internal sendiri.

“Pelaku industri cenderung parsial dan belum maksimal didukung oleh birokrasi. Demikian pula dengan prioritas untuk pengembangan program ekonomi kreatif yang rill, minim kegiatan event dan, belum tergabungnya ekosistem kreatif yang terintegrasi berkelanjutan. Itu salah satu contoh,” jelasnya.

“Kemudian menyangkut tourism issue, tentu ada macet, pungli, mafia pariwisata, perang harga, tata kelola hingga grand design pariwisata. Nah, ini adalah tantangan-tangan yang harus dibenahi,” imbuh lelaki kelahiran Mataram, 15 September 1974 ini.

Pria yang identik dengan kaca mata putih ini menyarankan jika Pemda DIY mesti mengambil langkah untuk memperbaiki persoalan tersebut. Seperti mengubah mindset dari pariwisata kunjungan ke pariwisata kreatif yang dapat berkelanjutan. Tetapi ini juga tidak lepas dari komitmen serta dukungan pimpinan daerah, lebih-lebih dukungan secara politis, kebijakan, maupun anggaran.

“CEO commitment sangat penting, setelah ini didapat baru diperbaiki SDM, pengolahan destinasi, promosi, dan kolaboratif dalam mengadakan event besar. Karena mengasah ide kreatif berbasis budaya lokal adalah senjata rahasia untuk berkompetisi di market global,” bebernya.

Program 6 jam di Yogya merupakan stimulan untuk bisa membongkar pemikiran dari pemangku kebijakan dan para pelaku industri kreatif guna terus berkreasi. Mencoba melihat bahwa dari sejarah 6 jam ketika daerah istimewah itu direbut kembali. Hal ini, lanjutnya, tentang berbicara mengenai mencari

sebuah pengakuan dunia internasional. Artinya, bagaimana Yogyakarta dengan pariwisatanya secara 6 jam dapat memberikan pelayanan kepada wisatawan yang implikasinya dapat diakui. Sehingga roh pariwisata akan melekat sebagai Yogyakarta yang istimewa.

Lantas apakah buah pemikiran dalam mengatasi persoalan serupa dapat diterapkan di NTB?. Tuafan mengakui secara teknis pariwisata di NTB pun masih banyak kekurangan. Namun dirinya tetap bersyukur dengan segala keterbatasan yang ada, pariwisata justru mampu menggeliat hingga menjadi atensi warga dunia.

“Adaptasi tentu bisa dilakukan tetapi datangnya dari diri kita juga. Yogyakarta sebagai daerah istimewa setiap tahun mendapat anggaran hingga triliunan rupiah dari pemerintah, segi PAD mereka juga jauh lebih tinggi. Kita harus bersyukur bisa menjadi top of mind destination ditengah kekurangan itu,” ujarnya.

Alumni FISIP UNAIR Surabaya ini turut andil memperjuangkan program pariwisata halal yang pada akhirnya menobatkan NTB menjadi pemenangThe World Halal Travel Summit & Exhibition 2015 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, dengan dua penghargaan sekaligus, yaitu World Best Halal Honeymoon Destination dan World Best Halal Tourism Destination.

Dedikasi Taufan menunjukkan keseriusannya dalam menyongsong sebuah era kemajuan. Sosok yang sederhana mengimplementasikan pemikiran-pemikiran ke dalam konsep pariwisata adalah bukti, bukti di mana ketika berbagi, secara bersama, akan mampu membangun pariwisata yang diperhitungan dikancah Internasional serta melekat dalam diri Indonesia. (iko)