in ,

Tuan Guru Pancor Masuk Nominasi Pahlawan Nasional, Begini Prosesnya….

 

kicknews.today – Tuan Guru Kiyai Haji (TGKH) Muhammad Zainuddin Abdul Madjid atau yang biasa disapa Tuan Guru Pancor masuk dalam nominasi lima tokoh pejuang nasional yang akan mendapat gelar pahlawan nasional.

Jika tidak aral melintang, penghargaan itu akan diumumkan secara resmi oleh pemerintah pusat pada tanggal 10 November 2017 bertepatan dengan Peringatan Hari Pahlawan mendatang.

Kepala Dinas Sosial Provinsi NTB, H. Ahsanul Khalik membenarkan informasi bahwa Maulana Syaikh masuk nominasi lima tokoh pejuang nasional setelah ada usulan ke Kementerian Sosial melalui TP2GP.

“Setelah adanya usulan, kami diminta melengkapi berbagai kekurangan yang ada dalam pengusulan. Ditambah lagi begitu banyaknya tahapan dan proses yang harus dilalui dan dilakukan,” ungkapnya, Jumat (27/10).

Akhsanul memaparkan, usulan gelar kepahlawanan tersebut dibagi menjadi tiga tahapan. Pertama, gagasan pemberian gelar muncul pertama kali dari keluarga besar yang kemudian mendapat dukungan dari banyak masyarakat NTB, termasuk semua organisasi Islam seperti Muhammadiyah dan NU serta organisasi lainnya dan perguruan tinggi seperti UNRAM dan UIN Mataram serta Perguruan tinggi swasta lainnya.

Tidak hanya organisasi Islam dan universitas, semua bupati/walikota juga memberikan dukungannya dalam bentuk surat pernyataan resmi menjadi satu kesatuan dalam dokumen usulan.

Setelah itu, melakukan penggalian dari berbagai sumber, mulai dari kalangan internal Nahdatul Wathan (NW), para sahabat Maulana Syaikh, para santri dan tokoh-tokoh di luar NW.

“Semua rata-rata menyampaikan bahwa almarhum TGKH Zainuddin Abdul Madjid kalau dilihat dari jasa jasanya, baik saat memperjuangkan kemerdekaan, maupun jasa jasanya dalam menyatukan ummat Islam untuk menerima ideologi negara Pancasila yang memperlihatkan semangat kebangsaan dan ke-Islaman berjalan seiring sejalan,” paparnya.

Dengan demikian, pendiri NW ini dinyatakan sangat layak mendapatkan gelar Pahlawan Nasional.

Setelah ini berjalan bersama berbagai, pemerintah Provinsi NTB melalui Dinas Sosial melakukan kajian-kajian mulai dari diskusi, seminar dan penelusuran berbagai dokumen, baik di perpustakaan dan arsip nasional ataupun di MUI pusat dan bahkan sampai Makasar dan Sumatera.

Tahapan Kedua, ide ini kemudian diperkuat dengan membentuk Tim pengkajian yang terdiri dari tiga tim, yakni tim pertama, melakukan kajian dan pembuatan naskah akademik dalam bidang perjuangan kebangsaan.

Tim kedua melakukan kajian dan pembuatan naskah akademik dalam bidang pendidikan tim ketiga melakukan kajian, dan pembuatan naskah akademik tentang karya-karya Maulana Syaikh maupun karya orang lain.

“Semua ini melalui proses yang tidak mudah, karena juga harus melibatkan banyak pihak untuk mendapat hasil kajian berdasarkan fakta-fakta, dokumen dan sumber yang ada,” kata dia.

Dalam tim ini juga terlibat para akademisi, tokoh agama dan tokoh masyarakat, bahkan dari Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama mengambil peran aktif secara langsung dan tidak langsung dalam tim, maupun memperjuangkan gelar Pahlawan Nasional bagi Maulana Syaikh.

Tahapan ketiga, ide ini kemudian diperkuat dengan seminar nasional pada tanggal 5 April 2017 di Universitas Negeri Jakarta menghadirkan narasumber yang merupakan para ahli sejarah dari sejumlah Perguruan Tinggi terkemuka dari seluruh Indonesia.

Bahkan seminar tersebut dibuka langsung oleh wakil presiden RI, Jusuf Kalla dan dihadiri oleh tokoh-tokoh NTB baik yang ada di daerah ataupun di luar daerah dan jakarta.

Diantaranya Hamdan Zoelva, Fahri Hamzah, Prof. Farouk Muhammad, Harun Al-Rasyid dan hadir pula tokoh-tokoh NTB dari daerah baik itu dari Bima, Dompu, Sumbawa dan Lombok.

Seminar ini semakin memperkaya khazanah keilmuan dan keahlian secara akademis tentang bagaimana perjuangan Maulana Syaikh yang dibahas tuntas oleh para Guru Besar Sejarah seperti Prof Taufik Abdullah sejarawan LIPI, Prof Djoko Suryo Guru Besar UGM, dan Prof Hariyono Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Malang.

Setelah proses ini dapat dilaksanakan dan dilalui dengan baik, maka ditindaklanjuti pada proses pengusulan oleh pemerintah provinsi melalui Dinas Sosial Provinsi NTB setelah melalui pembahasan dari TP2GD kepada Pemerintah Pusat melalui Kementerian Sosial RI.

Setelah dibahas oleh TP2GP kemudian diproses oleh Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan yang selanjutnya dikirim ke Presiden.

“Semoga atas dukungan dan ikhtiar sungguh sungguh dari seluruh masyarakat NTB diiringi do’a dan permohonan kepada Allah SWT, akan terkabulkan dengan hasil yang terbaik,” pintanya. (prm)