in

Di NTB, Alumni Al-Azhar Singgung “Fatwa Medsos” dan Bahas Isu Penting Masyarakat Muslim Dunia

Sekretaris Jenderal OIAA Cabang Indonesia, DR Muchlis Hanafi
Sekretaris Jenderal OIAA Cabang Indonesia, DR Muchlis Hanafi

 

kicknews.today – Konferensi Internasional Alumni Al-Azhar dan Multaqa IV  diselenggarakan di Islamic Center Mataram Nusa Tenggara Barat mulai hari ini hingga tanggal 20 Oktober mendatang. Isinya akan membahas tiga isu utama yang saat ini sedang dialami oleh masyarakat muslim di dunia. Salah satunya fenomena fatwa medsos.

Sekretaris Organisasi Islam Al-Azhar (OIAA), Alumni Al-Azhar Cabang Indonesia, Dr. Muchlis M Hanafi menyampaikan, Konferensi dan Multaqa tersebut ada tiga isu penting yang akan dibahas. Pertama, membahas batasan antara keislaman dan kekufuran. Kemudian, tentang fatwa-fatwa yang akhir akhir ini semakin tidak memiliki pedoman. Apalagi di era informasi dan teknologi saat ini, terutama media sosial. Sehingga, fatwa yang beredar di media sosial saat ini menimbulkan kekacauan penafsiran dan membingungkan umat. “Isu yang ketiga adalah metode dakwah kontemporer,” ungkapnya.

Dia memaparkan satu persatu seperti  batasan antara keislaman dan kekufuran. Dimana, banyak orang mengaku muslim, namun,

sikap perbuatan tidak mencerminkan akan muslim.

Selanjutnya mengenai fatwa-fatwa yang akhir – akhir ini terkesan tidak memiliki pedoman dibalik majunya teknologi media sosial yang diartikan bahwa, fatwa itu sudah mulai dibuat terkadang oleh oknum tidak bertanggung jawab di medsos. Padahal, akan lebih baik ketika mendatangi MUI untuk konsultasi sekaligus klarifikasi kebenaran fatwa yang diposting di medsos itu.

Terakhir, metode dakwah kontemporer yakni metode diartikan sebagai sesuatu yang digunakan untuk mengungkapkan cara yang paling cepat dan tepat dalam melakukan sesuatu. Dalam hubungannya dengan dakwah, maka metode dakwah berarti cara yang paling cepat dan tepat dalam melakukan dakwah islam.

Metode bagian dari komponen dakwah menjadi amat menentukan dalam menggapai keberhasilan dakwah. Sebab betapapun pandainya juru dakwah, apabila tidak mengetahui apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh obyek dakwah, akan mengalami kesulitan dalam menentukan metode dakwah tersebut.

Kemudian apabila metode dakwah yang ditentukan tidak sesuai, maka akan menimbulkan kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Mengibaratkan perjalanan Nabi Muhammad SAW sebagai juru dakwah, telah banyak  dilakukan untuk keberhasilan dakwahnya, baik ketika di Makkah, di Madinah, maupun di tempat-tempat lainnya. Keharusan mengikuti metode dakwah para Rosul adalah karena mereka telah terjamin karena mereka telah mendapat petunjuk Allah.

Sebagaimana dalam surat Al-An’am ayat 90 yang artinya “Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka”. (prm)