BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Dikes Lombok Utara Waspada Demam Berdarah, Tapi Anggaran Fogging Kena Pangkas

Ilustrasi

 

kicknews.today – Musim hujan yang akan segera melanda NTB, membuat Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Lombok Utara (KLU) mulai mewanti-wanti wabah Demam Berdarah Dangue (DBD). Sejumlah langkah pun sudah dipersiapkan sejak jauh hari.

“Kami tengah memetakan mana lokasi yang rawan, tahap intervensi sudah berjalan,” ujar Sekertaris Dinas Kesehatan KLU Samsul Bahri, Jumat (13/10).

Menurutnya, dalam mencegah DBD kuncinya ada di masyarakat sendiri. Sebab jika sosialisasi tetap intens dilakukan, namun tak dapat diimplementasikan oleh masyarakat, hasilnya pun percuma.

“Intinya kan menjaga kebersihan lingkungan. Maka dari itu tergantung Jumantik (juru pemantau jentik) disetiap rumah per desa itu,” katanya.

Namun di tengah perjuangan Dikes KLU dalam memberantas nyamuk jenis Aedes Aegypti itu, usulan mereka mengenai pengadaan alat fogging justru ditolak oleh Dewan. Bukan tanpa sebab, melainkan hal ini dampak rasionalisasi anggaran pusat yang nilainya mencapai Rp 18 miliar.

“Iya itu memang dicoret karena dampak rasionalisasi. Tapi tidak masalah karena itu cuma tambahan saja kita punya alat yang lain, jadi takkan mempengaruhi,” jelasnya.

Terlebih lagi, memang alat fogging cukup mahal di mana satu unitnya ditaksir mencapai Rp 36 juta. Sementara dalam usulan yang diajukan Dikes meminta setidaknya empat alat baru tersebut. Apalagi penggunaan fogging, lanjut Samsul, bukan pilihan utama dalam memberantas DBD di Lombok Utara.

“Itu opsi terakhir setelah pembersihan dan lain sebagainya masih saja kita temukan ada nyamuk, baru akan di fogging. Jadi itu bukan alternatif utama,” ucapnya.

Menyoal daerah yang akan berpotensi rentan, kawasan perkotaan muncul sebagaimana disebutkan Syamsul. Kemudian ada Kecamatan Bayan yang dominasi oleh area perkebunan.

“Ada daerah yang rentan seperti di kawasan perkotaan Tanjung dan Bayan yang masih perkebunan. Tetapi ini kembali lagi balik ke sadaran masyarakat,” pungkasnya.

Kasus DBD cukup dikhawatirkan di NTB, bahkan atas penyakit itu tak jarang menyebabkan nyawa melayang. Pada Januari lalu, diketahui dua orang pasien yang diduga (suspect) DBD asal Lombok Utara meninggal dunia. Korban masing-masing adalah, Wartyadi (16 tahun) asal Dusun Tebango Bolot, Desa Pemenang Timur, dan Putri Zaskia (4,5 tahun), asal Dusun Karang Langu, Desa Tanjung.

Keduanya diketahui meninggal pada waktu dan tempat perawatan yang berbeda. Pasien Wartyadi meninggal di RSUD Tanjung pada 23 Januari, sedangkan Putri Zaskia meninggal lima hari berselang usai mendapat perawatan di RSUP NTB.(iko)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About redaksi kicknews.today

Dalam Kategori Ini

Kadisbudpar KLU dan Kades Gili Indah Beda Informasi soal Proyek Pos Pengawasan

  kicknews.today – Rencana pembangunan pos pengawasan di Gili Trawangan akan dilakukan pada tahun 2018 ...