Jadilah yang Pertama Tau

60 WNA Dideportasi Imigrasi Mataram, dari China Mendominasi

Ilustrasi

kicknews.today – Kantor Imigrasi Mataram Nusa Tenggara Barat, telah mendeportasi 60 warga negara asing sepanjang Januari hingga Oktober 2017. Sebagian besar berasal dari Cina. Mereka ditemukan melanggar Undang-Undang Keimigrasian Nomor 6 Tahun 2011.

“Sejak Januari – Oktober sebanyak 60 WNA yang sudah kami deportasi. 18 orang diantaranya berasal dari Cina,” ungkap Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Kantor Imigrasi Mataram, Ramdhani di Mataram, Jumat (13/10).

Ramdhani menjelaskan, setelah Cina, di ikuti WNA Malaysia sebanyak 11 orang, kemudian Australia 6 orang, Timur Leste 5 orang , Prancis 4 orang , Inggris 3, korsel 2. Sedangkan Belgia, Jepang, Kanada, Swiss, Hungaria, Bulgaria, Jerman, Rusia, Banglades, Italia dan Turki masing-masing 1 orang.

“Dari total 60 orang ini, pelanggarannya bervariasi, ada yang overstay, berbisnis dan gunakan izin wisata atau izin tinggal,” kata dia.

Dia mengaku, Kantor Imigrasi Mataram meningkatkan pengawasan terhadap orang asing, khususnya sesudah mulai berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan aturan bebas visa bagi 169 negara yang diberlakukan pemerintah.

Disebutkannya bahwa pemerintah bukan tidak membolehkan warga negara asing bekerja di Indonesia, apalagi di NTB, namun persyaratannya cukup ketat, diantaranya hanya diperbolehkan untuk tenaga-tenaga dengan keahlian khusus dalam rangka alih kemampuan kepada pekerja Indonesia.

“Ini semua bisa dilakukan atas dukungan masyarakat,” ujarnya.

Di satu sisi, Kepala Sub Bidang (Kasubid) Izin Tinggal dan Status Keimigrasian pada Kanwil Kemenkumham NTB, Sayid Zulkifli mengimbau dan meminta kepada masyarakat untuk turut bekerjasama membantu dalam pencegahan terjadinya WNA yang melanggar aturan di Indonesia dan NTB pada khususnya.

Maka diminta kepada masyarakat ketika menemukan atau melihat WNA yang tinggal lama di sebuah tempat, bahkan hingga tampak tidak pulang ke negara asalnya apalagi ditambah adanya perilaku yang mencurigakan, diharapkan segera melapor ke Tim pemantauan orang asing (Timpora) atau bila perlu ke Kantor Imigrasi.

“Yang jelas, kami sangat membutuhkan bantuan masyarakat. Kami tidak bisa bekerja tanpa ada dukungan itu,” tutupnya. (prm)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat