BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Provinsi NTB dalam Perjuangan Memutus Rantai Merarik Kodeq

 

Ilustrasi

kicknews.today – Pernikahan dini ibarat mata rantai yang tidak bisa diputus. Dia bertemali dengan kemiskinan. Keluarga miskin cenderung melakukan praktik pernikahan dini. Anak-anak yang lahir dari orang tua yang belum matang secara psikis, fisik, dan ekonomi itu pada akhirnya menjadi anak-anak yang miskin, tidak terjamin kesehatan dan pendidikan, dan kelak anak-anak mereka akan kembali mengulang praktik orang tua mereka. Menikah di usia sangat muda.

“Temuan kami di lapangan, kasus pernikahan dini ini juga menyebabkan tingginya angka drop out sekolah, kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi NTB Ir. Hj. Hartina, MM.

Beberapa kasus pernikahan dini, mempelai perempuan masih berstatus pelajar SMP/sederajat atau SMA/sederajat. Ketika mereka menikah, mereka berhenti sekolah. Malu kembali ke sekolah atau mereka sibuk mengurus rumah tangga. Akhirnya tingginya kasus drop out disumbang juga oleh pernikahan dini.

Anak-anak yang dinikahkan juga menghilangkan hak bermain. Pada usia remaja, mereka seharusnya bisa bermain bersama teman-teman sebaya.  Tapi karena dinikahkan, mempelai pria maupun mempelai wanita yang masih berusia anak itu disibukkan dengan kehidupan rumah tangga.

Dampak lain pernikahan ini menyumbang tingginya angka perceraian dan angka kekerasan di dalam rumah tangga (KDRT). Termasuk juga salah satu penyumbang tingginya angka kematian ibu dan bayi.

Anak-anak usia remaja belum memiliki penghasilan tetap untuk nafkah. Hal ini menyebabkan konflik di dalam rumah tangga yang kerap berujung kekerasan dalam rumah tangga. Akhirnya kekerasan ini bermuara pada perceraian.

Pada usia remaja, mereka belum memiliki kematangan ilmu untuk menghadapi kehidupan rumah tangga. Mereka tidak menyadari sudah menjadi keluarga. Ketika anak-anak mereka lahir, pola asuh juga bermasalah. Mereka belum siap menjadi ibu atau bapak.

“Masalah-masalah inilah yang harus kita putus,” kata Hartina.

Mengintervensi tingginya akan pernikahan dini DP3AP2KB mendekati semua stakeholder. Misalnya untuk persoalan budaya merarik, DP3AP2KB mendekati para tokoh masyarakat dan tokoh adat di desa-desa yang diidentifikasi tinggi kasus pernikahan ini.

Kesepakatan dibuat dengan para tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah desa, hingga dusun yang mengatur pencegahan pernikahan dini. Budaya merarik yang sering kali dijadikan alasan harus diluruskan. Bukan berarti anak-anak yang masih bersekolah dengan  mudah dibawa merarik.

“Pencegahan ini dari keluarga dan masyarakat sekitar. Itulah sebabnya kami rutin berdialog dengan para tokoh di desa-desa, ujarnya.

DP3AP2KB juga melakukan pendekatan melalui para tuan guru dan pendekatan melalui kegiatan keagamaan. DP3AP2KB menyiapkan bahan Khutbah Jumat dan bahan ceramah pengajian yang berisi ajakan untuk pendewasaan usia perkawinan.

Cara ini bisa menyasar para orang tua. Melibatkan para tokoh panutan diharapkan bisa menyadarkan masyarakat untuk mencegah pernikahan dini.

Anak-anak remaja yang rentan menikah dini juga didekati oleh DP3AP2KB. Melalui Forum Anak NTB, Forum Remaja NTB edukasi pendewasaan usia perkawinan dilakukan dengan cara kreatif. Mereka tidak sekadar sosialisasi, tapi mengajak bermain, nonton bersama, yang semuanya bermuatan pada pencegahan pernikahan dini. (red)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About redaksi kicknews.today

Dalam Kategori Ini

Testimoni Para Tokoh Tentang “Merariq Kodeq”

Baca JugaLebih Setengah Keluarga di NTB Nikah Belum Cukup Usia, Dampaknya?Provinsi NTB dalam Perjuangan Memutus ...