in

Polda NTB Tangkap se-Fuso Kayu Ilegal di Lombok Barat

Kasubdit IV Dit Reskrimsus Polda NTB, AKBP Darsono didampingi Kabid Humas Polda NTB AKBP Dra. Hj. Tri Budi Pangastuti saat menujukkan truk fuso yang mengangkut kayu ilegal
Kasubdit IV Dit Reskrimsus Polda NTB, AKBP Darsono didampingi Kabid Humas Polda NTB AKBP Dra. Hj. Tri Budi Pangastuti saat menujukkan truk fuso yang mengangkut kayu ilegal

 

kicknews.today – Tim Opsnal Subdit IV Ditreskrimsus Polda NTB berhasil menangkap MG (45) asal Kuripan, Lombok Barat dan mengamankan satu truk fuso box yang mengangkut 870 batang kayu jenis sonokeling yang diduga hasil ilegal loging di jalan raya Gerung – Lembar tepatnya di depan Kantor Dinas Pendapatan Kabupaten Lombok Barat.

Kasubdit IV Dit Reskrimsus Polda NTB, AKBP Darsono didampingi Kabid Humas Polda NTB AKBP Dra. Hj. Tri Budi Pangastuti mengungkapkan bahwa kayu yang berhasil diamankan tersebut memiliki surat dokumen, namun pihaknya melakukan pengamanan karena ada dugaan kayu tersebut ilegal.

“Karena dari informasi yang kita dapatkan, yang pertama bahwa kayu yang dimuat ini kayu sonokeling. Kayu sonokeling ini kan memang khususnya di wilayah hukum NTB ini kan sudah zero quota, sehingga dimungkinkan adanya terjadi ilegal terhadap peredaran kayu sonokeling,” kata AKBP Darsono.

Mobil truk fuso dengan box warna kuning bertuliskan SKR Express Domistic Transportation Service kepala merah Nopol L 9186 UN warna yang disopiri Putra Purnama  selanjutnya digiring menuju Polda NTB.

Selanjutnya dilakukan koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi NTB untuk dilakukan pemeriksaan lebih detail dan cros chek di empat lokasi yang tertera dalam dokumen yakni di Dusun Beroro/Tibu Lilin Desa Jembatan Kembar Timur dan Desa Jembatan Gantung Lombok Barat, Dusun Bun Beleng Desa Sekotong Timur Lobar, dan Dusun Menombek Desa Banyu Urip, Lombok Tengah dan ternyata kayu tersebut tidak sesuai dengan yang tertera di dokumen yang ada.

“Selanjutnya kita berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB, untuk melakukan kegiatan lacak balak sesuai dengan surat yang ada,” jelas Darsono.

“Dari hasil lacak balak ternyata 80 persen lah tidak bisa dibuktikan kayu tersebut sesuai  dengan surat ini. Sehingga dapat dikategorikan kayu ini berasal dari proses yang ilegal” lanjutnya.

Kemudian hasil dari kegiatan lacak balak, ungkap Darsono, dikuatkan lagi dengan pengecekan ahli dari Dinas LHK Propinsi NTB ternyata jumlah kayu yang ada di dalam truk lebih banyak daripada yang tertera di dalam surat.

“Kalau yang dalam surat 636 ternyata setelah kita hitung jumlahnya 870 batang. Rencananya akan dibawa ke Jawa Timur,” katanya.

Disamping itu didapatkan pula fakta relas (kehilangan kayu) dari KPH Rinjani Barat, bahwa banyak kehilangan kayu jenis sonokeling di dalam kawasan hutan Mareje Bonga RTK 13 yang berada di Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Barat. Dilihat dari sisa tonggak kayu, ditebang menggunakan kapak dan gergaji selendang sekitar dua sampai empat bulan yang lalu.

Atas perbuatannya tersangka dikenakan pasal  87 ayat (1) hurup b jo pasal 12 hurup I Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusajan Hutan dengan hukuman maksimal lima tahun serta denda maksimal Rp. 2,5 miliar. (djr)