BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Kekayaan Laut Labuhan Burung, dari Ikan Sidat hingga Teripang Pendongkrak Libido

Aktifitas para nelayan di Labuhan Burung (Foto: Rusdi LB)

 

kicknews.today – Perairan Desa Labuhan Burung menyimpan kekayaan laut yang tak disadari masyarakat setempat. Terdapat sejumlah spesies laut yang memiliki nilai jual tinggi, mulai dari berbagai jenis sea cucumber (teripang) untuk hewan laut dalam kelompok invertebrata holothuroidea, hingga ikan sidat yang memiliki harga jual fantastis, mencapai Rp 200 juta perkilo. Ikan sidat adalah jenis belut yang sangat digemari warga Jepang. Ada pula varian teripang yang dalam sub dialek masyarakat Labuhan Burung disebut bantunang, hewan unik yang diyakini memiliki khasiat melipatgandakan keperkasaan pria!

 

———————————————————-

 

SIANG yang terik dengan gerah udara khas pesisir. Beberapa warga Desa Labuhan Burung, Kecamatan Buer, Sumbawa, sebelumnya berjanji mengajak kicknews untuk bakalili (mencari kerang, bahasa Samawa) dan menangkap bantunang, sejenis teripang yang bersembunyi di dalam pasir atau lumpur pantai, saat air laut surut. Namun, setelah ditunggu beberapa jam, ternyata  laut dalam kondisi air konda, tidak pasang atau tidak surut.

Bantunang adalah binatang laut yang cukup unik. Setelah ditangkap, hewan ini mengerut lemas. Tapi setelah dibawa pulang dan diproses para ibu atau wanita dengan racikan bumbu tertentu, saat dibersihkan tiba-tiba bereaksi. Di tangan wanita, bantunang yang tadinya lemas, mendadak tegak, keras dan kaku!

Boleh jadi, lantaran reaksi spontan tersebut, warga setempat meyakini, bantunang yang dihidangkan tanpa dimasak itu, mengandung bahan atau zat aktif untuk meningkatkan vitalitas dan gairah lelaki dewasa. “Buktinya, saya punya dua istri karena sering makan bantunang,” sergah Man Tondol, warga Labuhan Burung.

Batal mencari bantunang, Ardiansyah, anggota BPD Desa Labuhan Burung, mengajak makan siang di rumahnya, sambil menanti senja tiba. Saat-saat menikmati keindahan panorama kawasan laut dan pantai Labuhan Burung, yang bertambah eksotis dengan pesona sunset.

Selain menghidangkan sepat (masakan khas Sumbawa), istri Aco, panggilan akrab Ardiansyah, memperkenalkan kuliner khas Labuhan Burung, bernama biri-biri. Masakan dengan bahan baku daun kelor dicampur potongan-potongan kerang yang banyak ditemukan di sekitar pepohonan mangrove atau jenis rumput laut di pesisir pantai. Rasanya sangat nikmat dan gurih, padahal hanya direbus bening dengan garam secukupnya.

“Kita di sini jarang gunakan banyak bumbu,” ujar Nyonya Aco.

Sambil duduk rileks di ruang tengah, Aco banyak bertutur tentang kekayaan laut di Labuhan Burung. Ia menaksir, nilai hasil laut di perairan ini, mencapai ratusan juta per hari. Kandungan laut ini antara lain berjenis-jenis ikan, kerang-kerangan, tumbuhan laut, dan teripang.

“Hasil laut ini tak hanya dinikmati dan didapatkan warga lokal, juga orang luar,” jelas alumni Fakultas Pertanian Universitas Mataram (Unram) ini.

Kekayaan laut itu pun masih sebatas terjual di pasar-pasar tradisional, di samping menjadi konsumsi nelayan sehari-hari. Belum banyak yang mengolahnya menjadi aneka jenis kuliner yang memiliki nilai jual lebih tinggi jika dibandingkan dengan hasil pemasaran saat masih mentah.

“Ada juga yang sudah lama memulainya, seperti kerupuk dari bahan siput laut. Tapi itu pun belum berjalan maksimal, padahal sudah sering diikutkan dalam pameran-pameran yang diselenggarakan pemerintah kabupaten,” sahutnya.

Belum lagi jika mencari tahu lebih jauh tentang sejumlah spesies laut yang mahal harganya di pasar dalam maupun luar negeri, masih banyak ditemukan di perairan Labuhan Burung. Sebut saja ikan sidat, jenis belut laut yang sangat digemari warga Jepang. Komunitas nelayan di Labuhan Burung, hanya menjual beberapa jenis ikan yang diminati masyarakat setempat dan sekitarnya. Mereka banyak tak mengetahui jenis tangkapan laut yang berkelas.

“Menu ikan sidat adalah hidangan andalan di restoran-restoran ternama di Jepang,” kata Askar DG Kamis, penggagas program rural tourism yang akan diuji coba di Labuhan Burung, 17 Nopember mendatang.

Di Negeri Sakura, ikan sidat disulap menjadi menu santapan lezat dan mewah, seperti kabyaki, unadon, dan unagi. Spesies ini sangat langka di dunia, sehingga tak heran harganya sangat fantastis. Di Jepang, harga anak ikan sidat menembus Rp 200 juta perkilo.

Tak dapat ditampik, Labuhan Burung memiliki kekayaan alam yang tak ternilai. Potensi kelautan dan pariwisatanya belum terkelola sewajarnya, bahkan boleh dibilang belum tersentuh SDM yang terampil. Maka gagasan Askar DG Kamis memberdayakan masyarakat lokal sebagai pelaku pariwisata yang mengemas dan mengelola kekayaan sumber daya alam secara mandiri dan bermanajemen profesional, boleh jadi pembuka pintu kesadaran kolektif masyarakat setempat. Di suatu masa, Labuhan Burung adalah kawasan terkemuka, wilayah dengan masyarakat paling makmur di Tana Samawa.

 

Jurnalis: Buyung Sutan Muhlis

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About redaksi kicknews.today

Dalam Kategori Ini

Menpar: 2019, Mandalika NTB akan jadi penghasil devisa negara terbesar

  kicknews.today – Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan sektor pariwisata Indonesia termasuk Mandalika di Nusa ...