in

Meresahkan, TGB Minta BPOM Tarik Peredaran Tramadol

Gubernur NTB, TGH M Zainul Majdi saat membaca jenis obat bersama Kepala BPOM, Ni Gusti Ayu Nengah Suarningsih (kanan)
Gubernur NTB, TGH M Zainul Majdi saat membaca jenis obat bersama Kepala BPOM, Ni Gusti Ayu Nengah Suarningsih (kanan)

 

kicknews.today – Tramadol merupakan salah satu jenis obat pereda rasa sakit yang tergolong kuat. Biasa digunakan untuk menangani nyeri sedang hingga berat, termasuk dalam golongan analgesik opiate. Obat jenis ini biasa berbentuk kapsul, tablet, obat larut dan suntik, bisa dikonsumsi oleh orang dewasa dan anak-anak di atas umur 12 tahun.

Keberadaan Tramadol yang peredaran dan penyalah gunaaannya tidak terkontrol belakang ini mulai meresahkan Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi. Karenanya Ia memanggil Kepala BPOM NTB untuk diminta segera bertindak.

“Peredaran Tramadol sangat masif di kalangan anak muda. Bahkan jika tidak segara dieleminir, tidak menutup kemungkinan dapat menyebar hingga ke pondok-pondok pesantren,” ungkap Gubernur di ruang kerjanya, Kamis (28/9).

Gubernur yang akrab disapa TGB itu juga meminta BPOM untuk bersurat kepada BPOM RI, agar memberikan usulan terkait ditariknya peredaran Tramadol di masyarakat.

“Satu-satunya cara untuk mengurangi penyalahgunaan Tramadol di NTB adalah menarik peredarannya,” kata dia.

Terkait permintaan Gubernur itu, Kepala BPOM NTB Ni Gusti Ayu Nengah Suarningsih menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan audit secara komprehensif di sarana – sarana pelayanan dan jalur distribusi obat, seperti di apotek, Perusahaan Besar Farmasi (PBF), puskesmas. Agar peredaran Tramadol jangan sampai bocor. Dijelaskannya juga bahwa peredaran Tramadol ada yang memiliki ijin edar dan ada yang tidak memiliki ijin edar (ilegal).

“Untuk Tramadol yang memiliki ijin edar, seperti di apotek-apotek dan pusat pelayanan kesehatan, BPOM melakukan pengawasan ketat di sarana pelayanan dan jalur distribusi agar peredarannya jangan sampai bocor,” paparnya.

BPOM juga intens meminta laporan secara berkala dari apotek-apotek, PBF-PBF, dan puskesmas-puskesmas, terkait jumlah Tramadol yang masuk dan keluar.

“BPOM NTB akan melakukan kajian terkait dengan penyalahgunaan pil Tramadol. Jika tingkat penyalahgunaannya tinggi, maka Tramadol bisa ditarik dari peredaran seperti carisoprodol,” ujarnya.

NengahSuarningsih  juga melaporkan data tentang peredaran obat-obat terlarang di NTB. Termasuk hasil pemantauannya terhadap pil Paracetamol Caffein Carisoprodol (PCC) yang juga sangat meresahkan masyarakat. Ia melaporkan hingga saat ini, NTB masih aman dari peredaran gelap PCC.

“Kami melakukan koordinasi dengan Kepolisian dan Dinkes untuk mengetahui peredaran pil PCC di NTB. Dan hasilnya aman, bahwa pil PCC belum ditemukan di NTB, baik di sarana resmi seperti apotek dan perusahaan besar farmasi maupun sarana ilegal/tidak resmi lainnya,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa pil PCC termasuk berbahaya karena memiliki kandungan carisoprodol. Carisoprodol biasa digunakan untuk mengobati penyakit rematik, karena fungsinya untuk melemaskan otot atau mengurangi rasa sakit di otot. Namun, karena banyak disalahgunakan, tahun 2013 BPOM RI menarik peredaran carisoprodol di Indonesia.

“Mekanisme kerja pil PCC jika dikonsumsi secara berlebihan di atas 5 tablet dan dicampur dengan minuman beralkohol atau soda, efeknya sama dengan mengkonsumsi opium, dan nantinya akan menyebabkan ketergantungan,” tutupnya. (prm)