BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Dokter di NTB Enggan Pulang Kampung

dr. Arfi Syamsun, Sp KF, M.Si, M.Ed, Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FK Unram.

 

Mataram – Di Nusa Tenggara Barat (NTB), satu orang dokter melayani 5.000 penduduk. Rasio ini tidak dapat disebut ideal karena setidaknya tak jauh dari perbandingan 1:3.000. Namun, kondisi ketersediaan tenaga dokter di daerah ini sebenarnya bisa dicapai jika terdistribusi secara merata. Pasalnya, sebagian besar dokter terkonsentrasi di wilayah perkotaan.

“Kami mendapat informasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bima dan Dompu. Wilayah-wilayah ini masih kekurangan tenaga dokter, terutama untuk ditempatkan di puskesmas-puskesmas kecamatan,” kata Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Mataram (Unram) dr. Hamsu Kadriyan, Sp.THT-KL, M.Kes kepada kicknews.today di ruang kerjanya, pekan lalu.

Menurut Hamsu Kadriyan, kendati FK Unram sudah cukup banyak mencetak S1 kedokteran, dengan jumlah alumni hampir mencapai 400 dokter, masih terus berupaya memberi motivasi kepada para alumni agar mencurahkan perhatian khusus tentang distribusi yang menyebabkan terjadinya kesenjangan rasio tenaga dokter antara kabupaten dan kota di daerah ini. “Setiap ada informasi seperti itu kami langsung hubungi alumni. Kami share di grup alumni, siapa yang bersedia ditempatkan di wilayah-wilayah itu,” ucap Hamsu Kadriyan didampingi dr. Arfi Syamsun, Sp KF, M.Si, M.Ed, Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FK Unram.

Para alumni FK banyak yang enggan pulang, disebabkan hal-hal manusiawi menyangkut standar kebutuhan untuk hidup jika kembali ke kampung halaman. Sehingga dibutuhkan intervensi pemerintah kabupaten atau kota, agar bersungguh-sungguh menemukan solusi ketersediaan tenaga dokter secara merata hingga pelosok wilayah. “Dulu sudah bagus, misalnya Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) yang menyiapkan beasiswa bagi warga yang menempuh pendidikan dokter. Walaupun itu bukan dari pemerintah daerah sendiri, tetapi dari perusahaan yang mengelola pertambangan di sana. Tetapi, itu paling tidak bisa mengikat antara dokter putra daerah yang sudah dibiayai pendidikannya, untuk kembali dan mengabdi di kampung halaman,” ujarnya.

Jaminan kehidupan yang lebih menjanjikan di perkotaan atau di wilayah-wilayah potensial, bukan hanya terjadi di NTB, tetapi sudah menjadi trend di seluruh Indonesia.

“Di kawasan pariwisata di gili-gili di Lombok, misalnya. Itu ada klinik terkenal bernama Blue Island. Itu milik putra daerah Bima. Dia sudah enggan pulang. Ya, bagaimana. Kalau soal mengabdi, semua siap mengabdi,” kata Arfi Syamsun. (bsm)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About redaksi kicknews.today

Dalam Kategori Ini

Penyidik Limpahkan Berkas Penipuan Masuk FK Unram

  Mataram – Penyidik kepolisian melimpahkan berkas perkara dugaan penipuan dengan modus menjanjikan korban lulus ...