in ,

Aksi Terorisme di Penato’i yang Biadab Mencederai Bima yang Beradab

Tokoh Bima, Dr. H. M. Natsir. SH. M. Hum
Tokoh Bima, Dr. H. M. Natsir. SH. M. Hum
Tokoh Bima, Dr. H. M. Natsir. SH. M. Hum
Tokoh Bima, Dr. H. M. Natsir. SH. M. Hum

 

Mataram – Aksi yang mengarah pada terorisme terjadi lagi di Bima, Nusa Tenggara Barat. Dua orang anggota polisi yang bertugas di kantor polisi setempat menjadi korban. Bahkan tidak tanggung-tanggung para pelaku secara brutal berani menembak targetnya dalam jarak dekat saat kembali dari mengantar anaknya sekolah.

Hal ini mendapat reaksi keras dari tokoh masyarakat Bima, Dr. H. M. Natsir. SH. M. Hum yang juga merupakan akademisi aktif di fakultas Hukum Universitas Mataram. Dia menganggap aksi yang terjadi di daerah asalnya itu merupakan kebrutalan yang biadab.

Baca Berita Sebelumnya:

“Saya selaku tokoh Bima sangat mengutuk tindakan ini karena bertentangan dengan nilai-nilai agama dan pancasila. Melanggar hak azasi seseorang. Apalagi dilakukan pada saat orang sibuk, pada saat orang mengantar anak sekolah, ini sudah masuk biadab dan tidak manusiawi,” ujarnya kepada kicknews.today, Senin (11/9).

Menurutnya, hal ini sudah mengarah kepada terorisme dan berhubungan dengan pemahaman radikal yang menganggap polisi sebagai thogut dan sasaran. “Ini kan tidak benar,” cetusnya.

Hal ini dianalisanya sebagai gerakan yang mejadi teror bagi masyarakat dengan sasaran kepolisian. Apalagi jika diketahui secara personal antara korban dan pelaku tidak ada masalah sebelumnya.

“Menurut kelompok ini kepolisianlah yang menghalangi sepak terjang mereka (sehingga menjadikan polisi sebagai sasaran),” terangnya.

Selain tentang pemahaman, Dr. H. M. Natsir juga mengomentari soal mudahnya masyarakat Bima mendapatkan senjata rakitan.

“Kemudahan mendapat senjata rakitan di Bima, ini yang sudah lama saya sampaikan,” jelasnya.

Kata dia, masyarakat di Bima itu hampir di setiap Desa ada warga yang memiliki senjata rakitan. “Pembuat senjata kan sudah diketahui, ada Desa tertentu, Dusun tertentu. Tapi yang jadi pertanyaan, kenapa tidak dilakukan pengusutan dan tindakan hukum?,” tanyanya.

Dia menyarankan, saat ini sudah saatnya bagi aparat kepolisian untuk melakukan razia dan upaya lain dengan preventif, bisa saja diumumkan terlebih dahulu, atau jika kepolisian sudah memiliki data yang lengkap, bisa segera dilakukan tindakan.

“Dasar hukumnya sudah kuat, apalagi menyerang aparatur negara, itu sudah luar biasa,” tegasnya.

Lebih jauh, Dr. H. M. Natsir meminta pemerintah harus lebih pro aktif bekerjasama dengan aparat kepolisian dan TNI untuk melakukan pembinaan terhadap masyarakat secara keseluruhan maupun tertentu.

“Di Penato’i itu kan masyarakat tertentu itu, tidak mewakili masyarakat Bima pada umumnya, malah justru ini mencederai nilai-nilai kebaikan yang dibangun masyarakat Bima sejak dulu yang penuh peradaban,” pungasnya. (red.)