in ,

Bukti-bukti Purba Bangsa Sasak

Ilustrasi

ORANG-ORANG Yunani kuno memanggilnya Hermes Trismegistus, dewa pembawa pesan yang lahir di Gunung Kellina Arkadia. Para ilmuwan menyebutnya Enoch yang membangun piramida pertama dunia dan kota modern di peradaban kuno. Dialah Nabi Idris, rasul yang pertama kali diberikan tugas untuk menyampaikan risalah kepada kaumnya. Ia cucu Nabi Adam, putra dari Qabil dan Iqlima, yang diberikan hak kenabian oleh Allah setelah Adam dan Syits.

Dalam Bahasa Sasak, ada banyak kosa kata yang sangat arkais atau purba. Sebut saja kata “durus” yang bermakna darasa atau belajar. Durus, adalah cara orang Sasak ketika ingin mencari kebenaran. Kata durus diyakini berasal dari nama Idris, sang nabi, atau Dewa Hermes yang melahirkan metode hermeneutika dari terminologi Yunani.

Maka tak berlebihan ketika Budayawan Sasak H Lalu Agus Fathurrahman menyebut metodologi dari kata Yunani hermeios yang merujuk kepada Delphic, seorang pendeta bijaksana, adalah ciri kebahasaan Sasak yang memiliki kesamaan dengan gaya hermeneutika.

“Pada Bahasa Sasak tidak ada satu kata pun yang bisa langsung pada makna. Tapi kita harus menggali untuk menemukan maknanya,” kata Agus Fathurrahman.

Boleh-boleh saja ahli bahasa Austronesia K Alexander Adelaar mengklasifikasikan bahasa Sasak sebagai salah satu rumpun bahasa Malayu-Sumbawa. Namun saat ia menyebut bahasa Jawa Kuno telah memengaruhi bahasa Sasak secara signifikan, dalam makalahnya di tahun 2005, kemungkinan besar adalah sebuah konklusi yang tergesa-gesa.

Bahasa arkais yang ditemukan dalam bahasa Sasak, selain durus, ada pula “sadu”. Tidak ada satu pun bahasa di Nusantara yang menggunakan kosa kata sadu sebagai terjemahan dari percaya. Atau kata “tunggak” yang bermakna pangkal, berbeda arti dengan kata tonggak dalam bahasa Indonesia. Lantas, lantaran bahasa arkais, banyak orang tidak mengenalnya, dan dianggap berasal dari bahasa Kawi, bahasa dari luar Sasak.

“Mana ada bangsa Kawi. Tak ada bangsa yang bernama Sanskerta. Itu bahasa yang digunakan dalam tradisi tulis. Kawi itu sendiri artinya karang atau mengarang,” lanjut Agus.

Penemuan bahasa arkais dalam kata-kata bahasa Sasak, menunjukkan kepurbaan suatu negeri, jika semua bersepakat bahwa bahasa menunjukkan (sebuah) bangsa. Eksistensi Sasak ditunjukkan dengan bahasa, sebagai karakter dengan parameter yang lebih luas yang memaknakan identitas secara inklusif dan eksklusif, dalam perspektif Amin Maalouf, jurnalis dan novelis Lebanon.

Dan, Agus Fathurrahman lebih suka menyebut Sasak sebagai bani. Ia menantang para linguis di Nusa Tenggara Barat mengeksplorasi kepurbaan bahasa Sasak yang sudah “ditenggelamkan” melalui metodologi hermeneutika.

“Saya gambarkan sejarah itu adalah sebuah perahu. Yang dipotret oleh orang barat kan abad 17. Kita akui kenapa kita menjadi inferior, karena yang ditanamkan oleh penjajah dalam tanda kutip, dalam semua era, adalah menghancurkan bangsa Sasak,” tegas Dosen Filologi FKIP Universitas Mataram (Unram) ini.

Agus mungkin sendiri di perahu sejarah itu. Tapi, setidaknya, seruannya dalam pidato ilmiah “Sentakut Nganak Belae” pada peluncuran kalender rowot tahun 2017 beberapa waktu lalu, adalah cemeti pembangkit kesadaran kaum Sasak yang telah terbenam berabad-abad.

Jurnalis: Buyung Sutan Muhlis