BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Patung “Erotis” di Laut Gili Meno akan Dievaluasi Jika…

patung berbentuk manusia yang ada di dasar laut  Gili Meno

 

Lombok Utara – Puluhan patung relief laki laki membekap perempuan yang jadi kontroversi di dasar laut Gili Meno Lombok Utara, ditanggapi  Balai Kawasan Koservasi Perairan Nasional (BKKPN). Selaku pihak yang memberi izin, proses penempatan patung itu sudah melalui verifikasi. Namun jika area itu diprivatisasi  maka bisa jadi akan dievaluasi untuk dikeluarkan larangan.

“Patung itu kaitannya dengan media terumbu karang. Sama dengan kegiatan seperti (penenggelaman) Vespa, jadi selama kegiatan itu untuk terumbu karang diperkenankan,” ungkap Koordinator BKKPN Kupang Wilayah Kerja (Wilker) TWP Gili Matra, Bobby Adirianto, dihubungi Senin (14/8).

Baca Juga:

Dijelaskannya, yang menginisiasi dibuatnya patung tersebut adalah para pelaku wisata setempat. Itu pun setelah mendapat rekomendasi dari pihak dusun dan desa. Dalam hal ini BKKPN hanya menentukan letak patung yang direkomendasikan ditenggelamkan.

“Ini upaya merehabilitasi, selain itu mengurangi konsentrasi tempat penumpukan (wadah terumbu karang),” ujar Bobby.

Salah satu alasan diijinkan, karena akan jadi spot wisata untuk publik, tidak boleh diprivatisasi.

“Ada unsur estetika, jadi tidak boleh sifatnya private siapapun harus bisa menikmati,” jelasnya,

Dia meyakinkan, prosesnya sudah melalui pengecekan langsung ketika diletakkan tahun 2016 lalu.

Hasil monitoring, penenggelaman patung memakan waktu empat jam melibatkan   600 penyelam.

Setahun berselang, kondisi terumbu karang di sana bagus berdasarkan survey tahun 2016, terumbu karang tetap stabil 19 persen. Lokasi itu di zona inti ada 300 hektare yang kondisinya masih baik.

patung berbentuk manusia yang ada di dasar laut  Gili Meno

 

Menyoal adanya pelanggaran norma lantaran dinilai ada unsur sensual, itu bukan ranahnya karena sepenuhnya jadi kewenangan kepala desa setempat. Kendati demikian, BKKPN  akan mengevaluasi dan meninjau kembali jika objek tersebut diprivatisasi.

“Dari sisi sosial itu menjadi ranah desa, kami hanya memberikan rekomendasi syaratnya tidak boleh menjadi tempat private. Kita tunggu dari desa adanya pelanggaran nilai sosial. Yang jelas kita akan evalusasi lagi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dusun Gili Meno Iskandar mengaku  dalam pembahasan sebelum patung itu dibuat, memang ada pertentangan dari masyarakat. Kendati demikan, setelah dijelaskan lebih jauh warga pun akhirnya melunak.

“Awalnya memang ada yang menentang, tetapi kita jelaskan ini untuk mendatangkan wisatawan dan bakal jadi icon,  akhirnya mereka mau terima. Soal indikasi melanggar norma itu tidak ada warga yang protes sebab patung itu bentuk dan ukirannya ada nilai sejarah,” terang Iskandar.(iko)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About Redaksi kicknews.today

Dalam Kategori Ini

Cuaca Terasa Semakin Panas Sekarang, Ternyata Ini Penyebabnya

  Mataram – Cuaca di Nusa Tenggara Barat dan beberapa wilayah Indonesia lainnya selama beberapa ...