BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Ini Contoh!!! Atasi Kemacetan, setiap Jum’at Pegawai di Bandung Ngantor Naik Sepeda

Ilustrasi

 

Bandung – Sektor perhubungan darat selalu menjadi persoalan di Nusa Tenggara Barat (NTB). Terlebih jika berkaitan dengan Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin,) dan bertambahnya fisik bangunan.

Itu salah satu dasar pertimbangan Dinas Perhubungan (Dishub) bersama DPRD NTB melakukan studi komparasi, di Dinas Perhubungan Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (18/7).

BACA JUGA:

[su_posts template=”templates/list-loop.php” posts_per_page=”5″ taxonomy=”post_tag” tax_term=”6171″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]BACA JUGA :[/su_posts]

Sekretaris Dishub NTB, Ary Purwantini mengatakan, Kota Bandung dikenal sebagai wilayah dengan tingkat lalu lintas tinggi, sehingga bisa menjadi acuan bagi NTB dalam mengambil kebijakan terkait pengaturan sektor perhubungan darat tersebut.

Ary menyampaikan, Bandung selama ini dikenal sebagai kota destinasi wisata yang selalu ramai dikunjungi, terlebih saat akhir pekan. “Kami baru-baru ini ada usulan terkait analisa dampak lalu lintas. Kami berharap NTB tidak macet seperti di Bandung,” ujar Ary di kantor Dishub Pemkot Bandung, Selasa (18/7).

Dishub NTB, lanjut Ary, ingin mengetahui upaya apa saja yang telah dilakukan Dishub Pemkot Bandung dalam mengatasi kemacetan yang kerap melanda sejumlah titik-titik wisata di Kota Kembang.

“Kami berharap apa yang telah dilakukan Bandung dalam mengurai kemacetan bisa menjadi acuan,” kata Ary.

Kerumitan mengurai kemacetan di Bandung cenderung lebih kompleks mengingat banyaknya jumlah angkutan kota, dan juga kendaraan wisatawan dari luar daerah, terutama dari Jakarta. Sedangkan di NTB, jumlah angkutan kota terbilang relatif jarang dan jumlah kendaraan wisatawan dari luar daerah juga belum sebanyak di Bandung.

“Tapi kita harus mempersiapkan sejak dini, karena trennya kunjungan wisatawan ke NTB terutama Pulau Lombok setiap tahunnya terus meningkat,” ucap Ary.

Lain halnya penyampaian Kepala Bidang Perhubungan Darat Dishub NTB, Asep Supriatna yang mengaku ingin mengetahui upaya Dishub Pemkot Bandung dalam melakukan analisa dampak lalu lintas.

Menurut Asep, hal ini penting bagi NTB dalam menerbitkan izin bagi bangunan baru agar tidak menjadi penyumbang titik kemacetan yang baru. Asep mempertanyakan langkah jemput bola Dishub Pemkot Bandung dalam mengantisipasi dampak lalu lintas terhadap bangunan baru.

“Karena (di NTB) banyak gedung yang dibangun, tapi proses analisa dampak lalu lintas belum dilakukan. Nanti kalau ada kemacetan baru ribut, padahal bangunan sudah berdiri,” ucap Asep.

Wakil Ketua DPRD NTB, Mori Hanafi mengapresiasi langkah Dishub NTB yang melakukan studi komparasi ke Dishub Pemkot Bandung.

Mori mengatakan, studi komparasi bisa menjadi masukan yang berharga bagi NTB dalam mengantisipasi kemacetan. Pasalnya, sebagai daerah yang dikenal sebagai destinasi wisata, tren kedatangan wisatawan baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara terus mengalami kenaikan setiap tahunnya.

“Jawabannya transportasi massal. Memang di Lombok sekarang belum macet, tapi kalau kita biarkan, dua, tiga tahun pasti terjadi,” kata Mori.

Saat ini, kata Mori, sejumlah ruas jalan di jam-jam tertentu kerap mengalami kemacetan akibat penumpukan jumlah kendaraan pribadi maupun kendaraan wisatawan. Ditambah lagi, jumlah penambahan kendaraan di NTB mencapai 10 persen setiap tahun, sementara pertumbuhan jalan tidak lebih dari 2 persen setiap tahun.

“Kalau datanya seperti itu, bisa kita ketahui hasilnya. Masalah (kemacetan) Lombok hanya masalah waktu saja, kalau tidak diantisipasi sejak dini,” ungkap Mori.

Mori menilai, langkah Dishub NTB mengoperasikan Bus Rapid Transit (BRT) Trans Mataram merupakan terobosan yang baik, meski belum berjalan maksimal.

“Konsepnya transportasi massal, memang tidak gampang tapi harus kita wujudkan, kita harus serius untuk ini,” lanjut Mori.

Kepala Seksi Manajemen Transportasi dan Parkir Dishub Pemkot Bandung, Sultoni mengatakan, kemacetan sudah menjadi pemandangan yang lumrah di Kota Bandung, terlebih saat memasuki akhir pekan.  “Kebanyakan orang Bandung memilih di rumah kalau akhir pekan karena macet di mana-mana,” kata Sultoni.

Sultoni menyampaikan, Dishub Pemkot Bandung terus berupaya memberikan pemahaman kepada warga untuk menggunakan sistem angkutan umum massal (SAUM) yang telah disediakan Pemkot Bandung seperti BRT. Selain itu, seluruh jajaran di lingkup Pemkot Bandung, mencoba memberikan contoh kepada masyarakat untuk meninggalkan kendaraan pribadi saat menjalankan aktivitasnya.

“Setiap Jum’at itu Pak Walikota (Bandung) beserta SKPD berkumpul di satu tempat lalu menuju tempat kerja dengan bersepeda,” ucap Sultoni.

Mengenai pemberian perizinan bangunan baru, Dishub Pemkot Bandung tergabung dalam sebuah tim Badan Koordinasi Daerah bersama dinas-dinas terkait.

Sultoni mengatakan, upaya ini dimaksudkan guna menangkal dampak negatif kehadiran bangunan baru tehadap arus lalu lintas di sekitar.

“Untuk IMB di sini harus ada izin dari Dinas Perhubungan, PU, Kepolisian dan lainnya. Kalau tidak ada itu dan belum lengkap rekomendasi, tidak akan keluar,” tutupnya. (prm)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About redaksi kicknews.today

Dalam Kategori Ini

PDIP NTB Dukung Bandara Lombok Dikelola Asing

kicknews.today – Wacana pengelolaan manajemen Bandara Lombok International Airport (LIA) oleh perusahaan asing yang sedang ...