in

Sebelum Meninggal Dokter Muda Itu Tulis Pesan ke Putranya, Isinya Bikin Haru juga Bangga

dr Stefanus Taofik SpAn dan putranya
dr Stefanus Taofik SpAn dan putranya

 

Mataram – Beberapa minggu menjelang berpulangnya dr Stefanus Taofik yang meninggal dunia saat piket di Hari Raya Idul Fitri, dokter berusia 35 tahun, spesialis anestesi itu sempat menulis status cukup menyentuh di dinding Facebooknya. Status yang secara khusus diperuntukkan bagi putranya, boleh jadi adalah isyarat kepergiannya.

Pada 7 Juni 2017 pukul 19:11, alumnus pendidikan subspesialis Konsultan Intensive Care (KIC) ini menulis status dalam Bahasa Inggris: “Terkadang saya berharap kamu masih kecil. Tidak besar dan kuat dan tinggi. Saya berpikir tentang kemarin. Saya menutup mata dan melihat kamu bermain.”

Baca Juga :

[su_posts template=”templates/list-loop.php” posts_per_page=”5″ taxonomy=”post_tag” tax_term=”5636″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]BACA JUGA :[/su_posts]

Ia melanjutkan, “Kami melihat anak-anak kami berubah dan tumbuh seperti musim yang cepat datang dan pergi. Tapi Tuhan punya rencana yang sempurna untuk merubah seorang anak laki-laki menjadi seorang laki-laki,” tulisnya.

Pada paragraf lain ia mengatakan, “Pada Hari ini, saya bangga akan yang kamu lakukan. Saya akan mencintai kamu sampai hari berakhir. Dan saya sangat bersyukur karena kamu anak saya.”

Posting-posting Stefanus Taofik di hari itu berlanjut, membahas cukup rinci saat anaknya dilahirkan. Ia sempat memuji istrinya sebagai perempuan yang kuat. Berat bayi itu hanya 1840 gram saja. “Sedikit lebih berat daripada Aqua (air mineral) yang 1,5 liter,” kata Stefanus.

Dalam dua bulan pertama, tulis Stefanus, setiap tetes ASI begitu berharganya, dikumpulkan setiap dua jam untuk memperjuangkan kehidupan bagi sang bayi. “Mama Noe begadang setiap malam untuk ngasih ASI dan nemenin Noe,” lanjut Stefanus.

Sekarang, Noe akan menginjak usia dua tahun. Masih 16 bahkan 18 tahun ia akan bebas dari efek prematuritas. Noe harus berjuang dan diperjuangkan dalam masa-masa itu. Tapi, bayi mungil itu, tak ditemani sang ayah lagi, yang telah menutup mata, pergi untuk selama-lamanya. (red)