in

KLU Jadi Kabupaten Sadar Kerukunan Antar Umat Beragama di Malam Takbiran

Ilustrasi kerukunan antar umat beragama
Ilustrasi kerukunan antar umat beragama

 

Lombok Utara – Pawai malam takbiran di Lombok Utara 1438 Hijriyah ada yang berbeda. Kali ini suasananya nampak indah, meriah, dan menggugah. Bagaimana tidak, pawai malam takbiran yang diikuti 23 kontingen dari berbagai kecamatan itu berpusat di lapangan Tioq Tata Tunaq, Tanjung dibarengi dengan pembacaan deklarasi Lombok Utara Sebagai Kabupaten Sadar Kerukunan Umat Beragama, Sabtu malam (24/6).

Ketua Forum Pemuda Lintas Agama, Marianto sebagai deklarator membacakan poin-poin dari deklarasi tersebut. Ada enam poin dalam deklarasi tersebut. Diantaranya, bertekad dan membangun suasana kerukunan umat beragama di Lombok Utara. Kemudian, bertekad membangun dialog antar pemuka agama dan umat dengan mengedepankan prinsip-prinsip musyawarah-mufakat demi terciptanya suasana kedamaian dan kerukanan.

Baca Juga :

[su_posts template=”templates/list-loop.php” posts_per_page=”5″ taxonomy=”post_tag” tax_term=”7786″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]BACA JUGA :[/su_posts]

Selanjutnya, bertekad membangun kesadaran masing-masing umat beragama untuk menjalankan dengan baik, sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan masing-masing.

Sementara itu, dalam sambutanya, Bupati Lombok Utara, H Najmul Akhyar menyampaikan rasa syukurnya atas pembacaan deklarasi tersebut. Dimana KLU menjadi kabupaten yang mewakili NTB sebagai wilayah yang mendapat kepercayaan sebagai wilayah pendeklarasian Kabupaten Sadar Kerukunan Umat Beragama.

“Malam takbiran dan deklarasi ini sangat penting, sebagai pesan agama sebagai bentuk kesyukuran,” ujar Najmul Akhyar.

Setidaknya, lanjut Najmul Akhyar, ada tiga poin penting dalam rangka menyambut malam takbiran, pertama rasa syukur, kedua mengagungkan Allah, dan terakhir sebagai tarbiyah melawan hawa nafsu. Lebih jauh, ujar pria yang sering disapa Haji Amung ini mengatakan, bentuk deklarasi ini sebagai momen daerah dalam menorehkan sejarah. Dimana, semua warga KLU akan bertekad menjaga dan menyatukan kerukunan umat beragama.

Selanjutnya, ia menyampaikan perbedaan-perbedaan yang ada harus dilihat sebagai bentuk rahmat. Sebab, semua agama menyampaikan kebaikan. Terlebih, dalam konteks islam, kata Najmul, sudah tertera dengan indah dan jelas prinsip ‘lakumdinukum walyadin’.

Silahkan bagi semua umat yang beribadah berhak mendapatkan rasa yang nyaman dan aman.

“Lombok Utara ini semacam bunga taman yang besar beraneka warna dan ragam, tapi itulah nilai keindahannya,” ujar Najmul puitis. (dx)