in ,

Ini Hubungan ISIS, Perampokan di Ciputat dan Tiga Terduga Teroris di Bima

Terduga Teroris saat dibawa ke Mapolda NTB (Foto: Bsm)
Terduga Teroris saat dibawa ke Mapolda NTB (Foto: Bsm)

 

Mataram – Datasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Mabes Polri mengungkap hubungan antara tiga terduga teroris yang tertangkap di Bima dengan terpojoknya militan ISIS di Timur Tengah. Dimana Asia tenggara menjadi pelarian berikutnya, terbukti dengan terjadinya pergolakan di Marawi Filipina.

Dekatnya jarak Filipina, memungkinkan terjadinya pergeseran aksi teror para pelaku yang berafiliasi dengan ISIS di Indonesia khususnya NTB. Untungnya tim Densus 88 Anti Teror di-back up Polda NTB, berhasil membongkar jaringan terduga teroris yang disebut sebut sebagai “sel tidur” yang mulai menunjukkan eksistensinya dengan merencanakan aksi teror markas Polisi di Bima.

Baca Juga :

[su_posts template=”templates/list-loop.php” posts_per_page=”5″ taxonomy=”post_tag” tax_term=”917″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]BACA JUGA :[/su_posts]

Mereka yang ditangkap adalah Kur alias Nia (23), orang yang paling bertanggungjawab dalam perencanaan penyerahan itu, NH alias Dayat (21), bertugas membantu Kur untuk merakit bom dan melancarkan serangan. Keduanya asal Desa Dore Kecamatan Talabiu Kabupaten Bima.

Satu terduga lagi, RA alias Olga (35) asal Pena Toi Kecamatan Mpunda Kota Bima. Rupanya RA berperan sebagai pencari dana atau Fa’i. Aksi itu dilakukan di Pos Giro Ciputat, Tangerang Selatan Provinsi Banten tahun 2012 lalu.

Siapa sebenarnya Kur alias Nia? Riwayat Kur diketahui merupakan jaringan kelompok Penato’i Kota Bima dibawah pimpinan Ustad Iskandar yang sudah ditangkap tahun 2012. Kur diajak bergabung oleh Khotob alias Memet alias Oni untuk bergabung dengan kelompok Santoso di Poso untuk melaksanakan kegiatan Tadrib atau pelatihan militer.

RA alias Olga juga punya riwayat yang sama dengan Kur, bergabung dibawah Ustd Iskandar. Namun dia kemudian bergabung dengan kelompok Mujahidin Indonesia Barat (MIB) untuk melakukan perampokan di Kantor Pos dan Giro Ciputat. Dia juga dituduh menyembunyikan DPO teroris Satrio alias Indra Jendol.

Kurniawan kemudian bergabung dengan kelompok Jamaah Ansharut Daullah Bima. Sementara terduga teroris NA alias Dayat, selama ini perannya membantu membeli bahan kimia berupa cairan H202 sebanyak tiga liter, kemudian diserahkan kepada Kur.

Bagaimana hubungannya dengan ISIS di Suriah? Terungkap bahwa pengaruh Foreign Terrorist Fighter (FTF) dari Indonesia yang ada di Suriah dan bergabung dengan ISIS pimpinan Badrun Naim, telah mampu menggerakkan jaringan lokal. Mereka selain melakukan doktrin pelaku baru juga membiayai semua proses pembuatan sampai aksi peledakan bom.

“Mereka memanfaatkan isu isu yang berkembang sebagai alasan pembenar untuk melakukan aksi amaliyah atau teror,” kata Wakapolda NTB, Kombespol Drs Imam Margono.

Kejadian ini menurutnya menunjukkan bahwa ancaman teroris ISIS semakin nyata, terbukti dengan adanya penangkapan tiga terduga teroris tersebut.

“Perlu masyarakat ketahui bahwa daya cegah dan tangkal masyarakat harus dibangun toleransi beragama, kerukunan beragama, yang menjadi kekuatan besar bagian bangsa kita,” ajaknya. (red)