in

Polda NTB dan Duta Humas Sebar Brosur Anti Radikalisme

Duta Humas Polda NTB, Syafira Jauhari (pakai jilbab) saat membagikan brosur pada para siswa
Duta Humas Polda NTB, Syafira Jauhari (pakai jilbab) saat membagikan brosur pada para siswa

 

Mataram – Pihak kepolisian terus intens memberikan pemahaman di tengah-tengah masyarakat terkait pencegahan paham-paham radikalisme di Nusa Tenggara Barat (NTB), Selain sosialisasi, langkah lainnya adalah menyebarkan sejumlah brosur tentang antisipasi radikalisme.

Syafira Jauhari, Duta Humas Polda NTB bersama Polda NTB, Senin (12/6), sekitar pukul 12.00 Wita turun ke jalan untuk membagikan brosur tersebut. Pembagian itu dilakukan di seputaran lampu merah Bank BI hingga di depan SMPN 15 dan SMPN 1 Mataram yang menyasar para pelajar di Mataram.

BACA JUGA:

[su_posts template=”templates/list-loop.php” posts_per_page=”5″ taxonomy=”post_tag” tax_term=”640″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]BACA JUGA :[/su_posts]

“Kedatangan kami untuk mengingatkan, mengimbau dengan membagikan brosur ini kepada para pengguna jalan terutama adik-adik pelajar,” ungkap Syafira.

Menurutnya, para pelajar dan masyarakat yang secara ekonomi kurang beruntung, kerap kali menjadi sasaran empuk para teroris untuk diradikalisasi. Untuk menjaga situasi tersebut muncul di NTB, aksi-aksi pencegahan seperti ini harus intens dilakukan.

“Jadi di dalam brosur ini diajarkan tanda-tanda pengenalan radikalisme, dan apa sih sebenarnya radikalisme. Harapannya, tentu supaya masyarakat tidak terjerumus di dalamnya,” katanya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda NTB, AKBP Tri Budi Pangastuti mengatakan, bahwa di Indonesia akhir-akhir ini kerap muncul aksi-aksi terorisme yang merugikan banyak pihak, dan korban pun terus berjatuhan. Untuk mengantisipasinya di NTB, sejumlah upaya terus ditingkatkan.

“Kami tidak ingin kejadian-kejadian yang ada di sejumlah daerah itu terjadi juga di NTB. Maka dari itu kita cegah dari sekarang,” jelasnya.

Kendati demikian, peran serta orang tua dan guru juga menjadi faktor penguat agar khususnya anak-anak tidak sampai “dicekoki” paham-paham yang berbau radikal.

“Peran orang tua juga sangat menentukan selain upaya-upaya seperti ini,” harap Tri Budi.(iko)