in ,

I Ketut Ningrat, Bhabinkamtibmas yang Gelar Buka Puasa Bersama saat Indonesia Krisis Tolreansi

Ketut Ningrat saat berbaur dengan masyarakat ketika acara buka puasa bersama Kamis lalu di Desa Pandan Indah (Foto: Ist)
Ketut Ningrat saat berbaur dengan masyarakat ketika acara buka puasa bersama Kamis lalu di Desa Pandan Indah (Foto: Ist)

 

Mataram – Anggapan sebagian orang, Indonesia sedang dilanda krisis toleransi. Kelompok, golongan, agama, seolah terkoloni menjadi sekat kebhinekaan. Situasi nasional itu sedang diretas, meskipun dari pelosok oleh sosok anggota Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) ini. Dia I Ketut Surya Ningrat, polisi berpangkat Bripka yang menjadi anomali saat ummat lainnya agak khawatir menyentuh bagian paling esensi dari agama lain.

Kamis (1/5) lalu, dia menginisiasi acara buka puasa bersama di wilayah binaannya, Dusun Dengah Desa Pandan Indah Kecamatan Praya Barat Daya.Kegiatan buka puasa bersama ini dihadiri oleh tokoh agama, tokoh masyarakat, para pemuda, sebagai bagian dari cara dia masuk memberikan pembinaan keamanan di wilayah desa tersebut.

Baca Juga :

[su_posts template=”templates/list-loop.php” posts_per_page=”5″ taxonomy=”post_tag” tax_term=”2999″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]BACA JUGA :[/su_posts]

“Kegiatan dihadiri oleh 44 toga, toma dan 12 anak yatim,” ujarnya kepada kicknews, Jumat petang.

Dari kegiatan itu, Bhabinkamtibmas yang akrab dengan sapaan Ketut Ningrat ini ingin menunjukkan bahwa kebersamaan itu harus latah dirajut saat situasi tidak kondusif saja. Ketika keadaan sedang damai sekalipun, kebersamaan harus diperkuat sebagai cara untuk mempertahankan agar situasi di desa dan umumnya di Kecamatan Praya Barat Daya itu tetap damai dalam kebersamaan.

“Nilai terkandung dalam berbuka puasa bersama masyarakat ini, untuk menjalin hubungan silahturahmi yang baik antara Bhabinkamtibmas dengan masyarakat demi terciptanya Kamtibmas yang aman,” jelasnya.

Saat menyampaikan niatnya ingin menggelar kegiatan buka puasa bersama masyarakat dan anak yatim, warga dilihatnya sangat antusias. Rencana itu pun dilaporkan ke atasannya dan sangat didukung penuh.
Ketut Ningrat sangat memuji sikap terbuka masyarakat setempat yang sejak awal menerimanya dengan sangat baik, bahkan menganggapnya sebagai bagian dari kehidupan keluarga masyarakat mayoritas muslim di sana.

“Sisi lain, ini mengajarkan toleransi antar umat beragama. Biarpun Bhabin (Agama) Hindu, tapi saya sangat menghormati umat muslim sebagai masyarakat binaan dalam menjalani ibadah,” jelasnya.

Pendekatan religi ini juga bagian cari caranya untuk menguatkan peran Polri sebagai pelindung dan pengayom masyarakat. kepercayaan masyarakat menurutnya sangat penting untuk bisa bersama menjaga situasi tetap kondusif. Sebab jika kepercayaan sudah melekat, maka masyarakat bisa bersatu menangkal setiap potensi perpecahan atau pihak pihak luar yang ingin mengaduk aduk situasi yang sudah aman itu.

Ketut Ningrat sendiri bukan sosok yang asing di jajaran Polres Lombok Tengah, bahkan Polda NTB serta masyarakat luas. Namanya pernah viral karena aksi nekadnya menghentikan mobil Kapolda NTB, Brigjen Pol. Drs. Umar Septono, SH.,MH setahun lalu, persisnya tanggal Rabu tanggal 26 Juni 2017.

Bersama Brigadir Indra Jaya Kusuma, aksi mereka menghentikan mobil Kapolda karena saat itu hendak menyebrangkan seorang nenek. Bukan dihukum, keduanya malah diberi penghargaan oleh Kapolda Umar Septono pada waktu itu. (red)