in

Pemilik “Rumah Mengenal Al Quran” Ditahan, Terjerat Pasal Serupa Kasus Ahok

Tersangka dugaan penistaan agama, Siti Aisyah saat diperiksa penyidik di Kejari Mataram. (foto: satria)
Tersangka dugaan penistaan agama, Siti Aisyah saat diperiksa penyidik di Kejari Mataram. (foto: satria)

 

Mataram – Tersangka kasus dugaan penistaan agama, Siti Aisyah dilimpahkan penyidik Polda NTB ke Kejari Mataram. Pemilik Rumah Mengenal Al-Quran itu terlihat pasrah saat digelandang petugas menuju Kejari Mataram, Senin (29/5). Aisyah bahkan dimasukan ke ruang tahanan sementara Kejari, sekitar pukul 12.00 Wita. Dia dijerat pasal yang sama dengan Ahok mantan Gubernur DKI, terpidana penista Al-Qur’an.

“Kalau memang terbukti salah saya siap dihukum. Hukum saja saya seberat-beratnya,” ujar Aisyah pada penyidik saat digiring menuju ruang tahanan.

Ia mengaku pasrah atas proses hukum yang ia jalani. Dalam pelimpahan itu pun ia tidak didampingi penasehat hukum.

“Sudah tidak perlu bela diri atas apa yang saya sampaikan soal berita Al-Qur’an yang dianggap menyesatkan,” pungkasnya.

Baca Juga:

[su_posts template=”templates/list-loop.php” posts_per_page=”5″ taxonomy=”post_tag” tax_term=”7177″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]BACA JUGA :[/su_posts]

Meskipun demikian, Aisyah masih teguh pada pendirian bahwa ajaran yang disampaikannya tersebut tidak sesat dan sesuai ajaran Islam.

“Saya merasa itu saya ajarkan atau tidak itu kembali ke hati nurani. Sampai sekarang saya tidak memiliki satu pun pengikut atau jamaah,” terangnya.

Aisyah juga membagikan selebaran berisi kutipan ayat Al Qur’an pada warga. Sekarang ruko miliknya yang digunakan sebagai tempat mengajar yang terletak di Jalan Bung Karno, Mataram sudah ditutup paksa petugas.

Bahkan setiap pengunjung yang datang di kediamannya atau tempat Aisyah mengajar akan dititipi amplop berisi uang Rp 50 ribu. Hal tersebut diduga sebagai modus dia menarik pengunjung yang datang. Namun saat ditanya soal itu, Aisyah berdalih hanya menunaikan zakatnya.

“Itu saya berzakat. Tidak berhitung saya. Saya punya kemampuan segitu,” katanya.

Sumber uang itu, sambung Aisyah, adalah murni dari dirinya pribadi. Ia menolak tuduhan mengenai ada aktor intelektual yang berlindung di belakangnya.

“Murni diri sendiri. Saya punya toko pakaian dan aksesoris. Itu saya rintis dari awal,” paparnya. Ia mengaku pasrah meninggalkan keluarga. Ia sadar kesalahannya.

“Saya membuat masalah saya yang tanggung. Dari syiar, perjalanan, dan jihad saya. Saya ambil satu dasar hukum saja. saya bersikeras tetap Al Quran,” ujarnya.

Terpisah, Kasi Pidum Kejari Mataram, Safwan Wahyopie,SH menjelaskan, pihaknya sudah menerima pelimpahan tahap dua dari Polda NTB dengan tersangka Siti Aisyah.

“Sudah menerima tahap dua Siti Aisyah mengenai kasus pasal 156 dan atau pasal 156a KUHP,” ujarnya. Pasal ini diketahui sama persis dengan yang dipakai menjerat Gubernur DKI Basuki Tjahja Purnama alias Ahok.

Meski selama penyidikan di Polda NTB tersangka tidak ditahan, jaksa memiliki pendapat lain. “Tersangka dilakukan penahanan,” tegasnya.

Ia mengemukakan, penahanan itu didasarkan alasan subjektif dan objektif jaksa yang menyimpulkan bahwa harus dilakukan penahanan terhadap tersangka.

Siti Aisyah akan mendekam di Lapas Mataram. Jaksa memiliki waktu hingga 20 hari ke depan untuk melimpahkan surat dakwaan ke pengadilan. (zr)